Sayang, Selamat Ulang Tahun

Sayang, Selamat Ulang Tahun
Dok. Pribadi: Rifa Fadila

Teruntukmu (sa)yang saat ini tengah merayakan hari kelahiran, ulang tahun. Kutitipkan pesan agar memperbanyak bekal di hari mendatang, yang kuawali dengan kutipan Erich Fromm di bawah ini:

Infantile love follows the principle ‘I Love Because I am Loved’; mature love follows the principle ‘I am Loved because I Love”. ~ Erich Fromm

Teruntukmu (sa)yang saat ini tengah merayakan hari kelahiran, ulang tahun. Kutitipkan pesan agar memperbanyak bekal di hari mendatang.

Terhitung mulai hari ini, 27 Januari 2018, usiamu telah bertambah dari sebelumnya sekaligus berkurang untuk selanjutnya. Sebagai bentuk ekhem-ekhem dariku, akan kumulai tulisan ini dengan berucap, “Happy Birthday to You.”

Guna menghindari kebosanan para pembaca yang budiman, kan kupertegas dahulu bahwa tulisan ini dapat dikonsumsi publik. Selain karena coretan ini dapat dijadikan sebagai strategi menghindari kado yang (tidak) murah, siapa tahu juga menjadi income bagi siapa pun yang lagi didera mesranya hubungan atau justru malah dicekal nasib kejombloan.

Adapun tradisi ulang tahun yang menurutku hasil produk konstruksi masyarakat, seseorang bisa saja terpaksa atau dipaksa untuk merayakan ulang tahun. Setidaknya, itulah yang kualami saat ini.

Maka dari itu, tak usah juga mendebat saya akan keharaman tradisi merayakan ulang tahun. Sebab, semaksimal mungkin momen ini akan saya pergunakan untuk menghalalkan(nya).

Tradisi perayaan ulang tahun sudah ada sejak era Mesir Kuno. Itu bermula tatkala Fir’aun (Pharaoh), gelar seluruh penguasa mesir kuno, dinobatkan sebagai Dewa.

Pada era Yunani kuno, tradisi ini didedikasikan untuk dewi Artemis, saudara kembar Apollo. Disusul Romawi Kuno, yang merayakan ulang tahun bagi kaum lelaki; mulanya bangsawan, akhirnya masyarakat awam. Tidak lama kemudian, pada abad 12, giliran kaum perempuan yang mendapat kesempatan.

Sementara di Indonesia, setelah urusan beras dapat dirampungkan (meski impor) tentunya, perayaan ulang tahun menjadi hak konstitusional tiap warganya.

Sekelumit sejarah di atas, yang kurangkum dari 25 lebih artikel itu, mengisyaratkan spirit perayaan ulang tahun. Hematku, spirit yang coba dibangun tradisi tersebut adalah “cinta” (grup Band Armada menyebutnya C.I.N.T.A). Dengannya, seseorang diingatkan untuk mencintai diri pribadi maupun orang lain, atau bahkan mencintai pencipta cinta itu sendiri.

Membicarakan cinta memang membuatku bersemangat. Bukan karena hari ini berketepatan ulang tahunmu, lantas aku berpura-pura. Tapi, lebih dari itu, aku mengamini bahwa cinta adalah relasi paling agung antarmanusia—tentu saja, setelah kebebasan membuat seseorang dapat berlaku semena-mena, kemudian hukum yang kadang membuat sebagian orang tertindas.

Oleh karena itu, kesempatan kali ini, akan kucoba menguji cintamu menggunakan The Art of Loving kepunyaan Erich Fromm. Jika nantinya mengindikasikan kesesuaian, itu artinya harus kau pertahankan. Atau barangkali berlainan, maka mulailah melakukan perbaikan.

Kau mungkin akan bertanya, kenapa tidak pakai Plato saja, Kahlil Gibran, Rabiatul al-Adawiyah, atau Jalaluddin Rumi? Ya, kesemuanya masih bisa dipakai, kok. Tapi, biarlah itu untuk ulang tahunmu selanjutnya—kalau panjang umur, sih.

Pertama-tama, aku mengajak pembaca bersepakat dengan Fromm kalau cinta adalah problem eksistensial. Bagaimana tidak, manusia dilahirkan dan dimatikan tanpa kehendak. Kadang hidup dengan kesepian, keterpisahan, dan ketidakberdayaan, yang terpaksa menerima otoritas di luar diri guna mendapat perlindungan, menciptakan ikatan dan tanggung jawab bersama, dan akhirnya bersatu dengan semangat cinta. Sudah benarkah cintamu?

Menjawab pertanyaan di atas, aku merasa perlu memujimu (sa)yang telah memilih orientasi cinta dengan benar. Fromm sangat mewanti-wanti empat orientasi cinta, yakni reseptif (mengambil), eksploitatif (memanfaatkan), menimbun (mempertahankan status quo),  dan terakhir adalah orientasi pasar (menjual diri).

Aku dan Fromm mulanya dag dig dug bila orientasi cintamu nyantol di salah satu keempatnya. Tapi, aku lega setelah tiga poin awal terbantahkan, sebab aku sendiri selalu didera pahitnya keadaan. Dan poin keempat tidak begitu kukhawatirkan mengingat kau sendiri tak begitu laku di pasaran. Hehe…

Selanjutnya, bagaimana dengan unsur cinta yang Fromm tawarkan? Sudahkah itu kau praktikkan?

Lagi-lagi aku harus berdegup kagum. Bagimu, unsur cinta adalah yang utama: care (perhatian); responsibility (tanggung jawab); respect (hormat); knowledge (pengetahuan). Kesemuanya kau jalankan sesuai dengan apa yang Fromm wartakan. Alhamdulillah, ya.

Semoga pembaca belum merasa bosan yang mengundang nyinyir-an. Ingat lho, tulisan ini berusaha untuk memperbaiki alam percintaan. Pemaparan di atas dirasa perlu agar kualitas cintaku, kau, dan kita semakin matang; memberi kekuatan yang aktif dalam diri; mendobrak sekat antarmanusia; menyatukan dua makhluk menjadi satu, namun tetap dua (dengan jati diri masing-masing).

Dari cinta yang matang itulah kemudian muncul sikap gemar memberi. Tapi, kata Fromm, masih banyak di antara kita yang salah arti.

Memberi sebagai ciri cinta dia bagi menjadi tiga karakter: dagang, level ini memberi harus diimbangi dengan menerima; non-produktif, orang pikir memberi adalah pemiskinan; produktif, memberi adalah bukti bahwa kau memiliki kekuatan, kemampuan, dan kekuasaan. Maka, aku posisikanlah tulisan ini pada karakter ketiga. Tidak ada masalah to?

Fromm berpandangan bahwa cinta adalah watak yang tidak memilih dan memilah. Tidak pula bergantung pada objek sehingga melahirkan egoisme. Watak tersebut mengajarkan seseorang untuk mengetahui cara mencintai, bukan mengetahui apa yang harus dicintai. Jangan sampai cinta merusakmu (yang mencintai) atau apa pun (yang kau cintai).

Dalam rangka meminimalisir kemungkinan yang tidak diinginkan, maka Fromm juga menyarankan sikap yang bijak terhadap objek cintamu. Cintai segala sesuatu sebagaimana cinta persaudaraan, cinta keibuan, cinta erotis, cinta diri sendiri, atau cinta tuhan. Harapanku, kau tak memilih cinta erotis saat aku (salah satu objek cinta) lagi kurus-kurusnya.

Terima kasih buat kalian yang sedang merayakan ulang tahun dan mencintai segala sesuatu secara aktif. Aku teringat dengan Fromm yang bilang, “cinta it is a standing.” Orang Arab menyebutnya, “cinta hiya iqamah.” Aku katakan, “cinta begitu memang.” Cinta adalah tindakan yang selalu berulang, bukan begitu datang-begitu hilang.

Menghubungi tuhan kalau hanya lagi punya banyak kebutuhan, misalnya, pertanda cintamu padanya layak dipertanyakan. Dengan orangtua, pacar, sahabat, pun demikian.

Paragraf terakhir ini mungkin sedikit mengecewakan. Pasalnya, dari awal hingga akhir, tak ada satu kata romantis pun kutuliskan. Bukannya aku tak sudi, bukan pula aku tak cinta (kayak lirik lagu).

Fromm selalu mengingatkanku, “It takes a moment to tell someone you love them, but it takes a lifetime to prove it (Hanya butuh satu detik untuk mengatakan I love you, tapi butuh seumur hidup untuk membuktikannya).”

Selamat ulang tahun. Tengkiu atas cintamu, Rifa Fadila.

___________________

Artikel Terkait:

    Abu Bakar

    Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Latest posts by Abu Bakar (see all)