Sayyid Danoeningrat Basyaiban dan Komunitas Arab di Magelang

Sayyid Danoeningrat Basyaiban dan Komunitas Arab di Magelang
©Dok. Pribadi

Sayyid Danoeningrat Basyaiban dan Komunitas Arab di Magelang

Sebelum agama Islam masuk ke Nusantara, masyarakat Nusantara sebagian besar masih menganut kepercayaan Hindu dan Buddha. Masuknya Islam ke Nusantara setidaknya memiliki sejarah yang sangat panjang.

Bahkan sebagaimana dikutip dari buku Sejarah Islam Nusantara karya Rizem Aizid, meyakini bahwa setidaknya ada empat teori mengenai masuknya Islam ke Nusantara, yakni: 1). Teori Gujarat, 2). Teori Makkah, 3). Teori Persia, dan 4). Teori Tiongkok (Nabilah, 2023). Semua teori itu mengacu pada para saudagar yang menjalin perdagangan dengan Nusantara. Para saudagar tersebut, selain berdagang juga melakukan dakwah dan syiar agama Islam di Nusantara.

Pesisir sebagai akses maritim merupakan pintu gerbang utama dalam penyebaran kebudayaan masa awal masuknya Islam. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa masyarakat pesisir adalah masyarakat yang lebih awal menerima Islam sebagai agama.

Selain para saudagar pedagang yang ikut menyebarkan agama Islam, terdapat juga lapisan elite keagamaan yang menyebarkan Islam ke Nusantara, seperti para wali dan ulama. Para wali dan ulama ini rata-rata berasal dari komunitas Hadramaut Yaman atau kaum Hadrami yang bergelar Sayyid atau Habaib.

Para Sayyid ini pada gilirannya membawa tradisi mereka ke Nusantara baik bahasa, sistem pengetahuan, hukum, dan termasuk agama mereka yang di dalamnya al-Qur’an menjadi sumber dari segala sumber (Barir, 2017).

Selain melalui perdagangan, para sayyid ini dalam melakukan syiar Islam di Nusantara juga terjadi akibat adanya perkawinan antara raja Nusantara dengan para sayyid. Tak jarang para sayyid ini dijadikan keluarga oleh para raja-raja Nusantara.

Adapun Islam yang masuk ke Nusantara atau Islam yang dibawa para ulama atau para wali sebagaimana dikatakan oleh Prof. Azyumadi Azra adalah Islam yang bercorak tasawuf (Patmawati, 2019), seperti yang dibawa oleh para walisongo. Sehingga Islam yang masuk ke Nusantara bukan Islam yang dibawa melalui jalur peperangan melainkan jalur perdagangan dan kekerabatan dengan masyarakat setempat.

Sayyid Danoeningrat Basyaiban

Selain menyebarkan Islam melalui jalur perdagangan, para ulama juga mensyiarkan Islam melalui jalur perkawinan yang terjalin dengan raja-raja setempat. Adapun para ulama yang datang ke Nusantara sebagiannya berasal dari Hadramaut atau biasa dikenal dengan kaum Alawiyyin (sayyid atau Habaib).

Baca juga:

Berdasarkan pada catatan statistik dari survei yang dilakukan oleh pemerintah colonial di wilayah pulau Jawa dan Madura pada tahun 1885 tercatat sebanyak 10.888 jiwa dan meningkat pada tahun 2017 menjadi 1,2 juta jiwa.

Orang Hadramaut atau para sayyid ini merupakan elite sosial di Nusantara yang menduduki posisi penting, seperti tampil dalam politik Kerajaan Melayu, dan beberapa Kerajaan lainnya yang bahkan dipelopori oleh kaum Alawiyyin itu sendiri, seperti Kerajaan al-Qodri di Pontianak.

Selain keluarga al-Qodri yang merupakan salah satu dari marga yang memiliki nasab sampai Rasulullah Saw. Keluarga dari marga Basyaiban juga merupakan elite sosial di Nusantara. Dalam buku-buku nasab keluarga Alawiyyin dijelaskan bahwa keluarga Basyaiban memiliki kakek yang sama dengan marga al-Habsyi, al-Junaid, dan al-Qodri.

Orang yang pertama mendapat marga atau gelar Basyaiban adalah Habib Abubakar bin Muhammad Asadillah bin Hasan at-Turabi merupakan sosok ulama besar alawiyyin pada zamannya. Adapun Habib Abubakar diberi gelar Basyaiban karena beliau telah berusia lanjut dan mempunyai rambut putih. Sehingga diberi gelar Basyaiban, Basyaiban sendiri berasal “Syaiban” yang asalnya “Syaibu” yang artinya beruban.

Adapun keluarga Basyaiban yang ada di Indonesia berasal dari keturunan Sayyid Abdurrahman Tajuddin bin Umar Basyaiban yang dilahirkan di Qasam, Hadramaut, Yaman. Sayyid Abdurrahman Basyaiban merupakan orang pertama yang keluar dari Hadramaut dan bermukim di pulau Jawa.

Setelah sampai di pulau Jawa Sayyid Abdurrahman Basyaiban menikah dengan putri Sunan Gunung Jati bernama Khadijah. Dari pernikahan itu mereka dikaruniai anak laki-laki, salah satunya bernama Sulaiman yang memiliki gelar Pangeran Kanigoro Mojoagung.

Sayyid Sulaiman Basyaiban merupakan tokoh ulama besar dan wafat pada tahun 1053 H atau 1643 M dan dimakamkan di Wirosobo (Mojoagung). Sayyid Sulaiman sendiri memiliki beberapa anak diantaranya, empat putra dan tiga putri: 1). Sayyid Muhammad Baqir, 2). Sayyid Abdul Wahab, 3). Sayyid Hasan, dan 4). Sayyid Ali Akbar. Sedangkan tiga putri, yakni, 1). Syarifah Ayu, 2). Syarifah Dewi, dan 3). Syarifah Muthi’ah.

Dari keempat putra Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban inilah keluarga Basyaiban tersebar di seluruh Indonesia. Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman Basyaiban adalah keluarga pertama yang datang ke Yogyakarta dan langsung ditugaskan menjadi guru agama Islam di Kraton Yogyakarta.

Halaman selanjutnya >>>
Dimas Sigit Cahyokusumo
Latest posts by Dimas Sigit Cahyokusumo (see all)