Seandainya Wonder Woman 1984 Antrean Panjang demi Minyak Goreng

Seandainya Wonder Woman 1984 Antrean Panjang demi Minyak Goreng
©Vanity Fair

Film Wonder Woman 1984 alias WW84 merupakan sekuel lanjutan dari Wonder Woman (2017); telah dirilis sekitar kurang dari dua tahun lalu.

Setelah tertunda selama 12 bulan, film ini diproduksi oleh DC Film yang menyuguhkan sosok superhero DC Comics Wonder Woman. Pemeran utama dalam film ini dibintangi oleh Gal Gadot sebagai Diana Prince, si Wonder Woman yang berhasil menarik perhatian penonton.

Karena menarik perhatian, terutama insan perfilman, Wonder Woman 1984 bertaburan bintang lantaran paling banyak ditonton secara straight-to-streaming dengan meraup 166 juta dolar di seantero dunia dan biaya produksi sebesar 200 juta dollar AS tahun 2020. (wikipedia, 6/02/2022)

Sejak 16 Desember 2020, film ini menjadi momen yang menandai penayangan WW84 di Indonesia. Kurang dua tahun sebelum krisis minyak goreng merebak.

Sebuah citra sinema menceritakan tentang petualangan Diana Prince yang memulai babak baru kehidupannya sebagai antropolog di Smithsonian Institute, Washington D.C, Amerika Serikat.

Patty Jenkins sebagai penulis naskah sekaligus menyutradarai film WW84 tampaknya tidak kehabisan ide, imajinasi, dan teknik untuk memunculkan kisah-kisah baru dalam genre laga. Jenkins sang sineas kawakan tidak ingin melewatkan kesempatan dengan titik fokus pada kisah film fiktif ihwal bangsa Amazon dari Themyscira. Film mengambil alih komik.

Jika rentang waktu 70 tahun setelah mengangkat kisah heroik di film Wonder Woman yang pertama yakni Perang Dunia I, maka Wonder Woman 1984 mengambil setting saat Perang Dingin, Uni Soviet lawan Amerika Serikat cs, di era Reagen.

Kehadiran lawan yang berbeda dalam sekuel ini. Diana Prince menghadapi musuh baru, yaitu Maxwell Lord (Pedro Pascal) dan Barbara Ann Minerva sebagai The Cheetah (Kristen Wiig). Barbara akhirnya bertemu dengan Diana dan menjadi koleganya di Smithsonian Institute.

Baca juga:

Di samping bekerja sebagai seorang antropolog, Diana Prince sebagai Wonder Women masih berhadapan dengan kelompok penjahat.

Diana tampil ke depan untuk memperjuangan cinta dan kemanusiaan. Dia tidak ingin lagi larut dalam gaya hidup glamor. Tetapi, dia juga tidak ingin tenggelam dalam kesepian. Selama ini, dia menyelimuti dirinya dengan kerja  dalam pengucilan rahasia diri sebagai pahlawan.

Kehidupan Diana Prince dilalui dengan rutinitas kerja yang cukup bagus hingga mampu menggagalkan perampokan di mal.

Kejadian itu ada hikmahnya, yang membawanya untuk menemukan sebuah artifak tua dikenal sebagai batu ajaib (dreamstone). Awalnya dianggap berlalu, tiba-tiba ada sesuatu yang aneh. Lalu, dia penasaran dan dicarinya batu ajaib itu.

Ternyata batu ajaib itu sebagai benda berbahaya jika dipandu oleh orang yang berniat mendatangkan peristiwa malapetaka ketika ia terjatuh ke tangan seseorang yang tidak bertanggung jawab.

Tiba gilirannya Maxwell Lord, yang selalu tampil beda, necis, ingin lebih, dan lebih dari status, kesenangan, uang, dan hasrat untuk kuasa.

Alur ceritanya berlanjut. Saban hari, pengusaha kaya di Amerika Serikat bernama Maxwell Lord setelah bertemu dengan Barbara mengaku memiliki sebuah batu ajaib (dreamstone), yang dapat mengabulkan keinginan siapa pun. Akhirnya, batu ajaib itu jatuh ke tangan Max Lord setelah mencurinya di tempat Barbara bekerja. Max Lord mengubah Barbara qua Cheetah, yang mengandung ‘aura keserakahan’ di balik stok minyak goreng.

Hal itu pada akhirnya diketahui Diana. Seperti orang lain, ia berharap dapat menggunakan batu ajaib itu untuk menghidupkan kembali Steve Trevor (Chris Pine), kekasihnya yang telah meninggal dunia. Hal itulah yang kemudian disebut menjadi salah satu cara yang membuat Steve Trevor hidup kembali.

Halaman selanjutnya >>>
    Ermansyah R. Hindi