Sebelum Kedatangannya

Sebelum Kedatangannya
©Real

Untuk: Seroja Ainun Nadhifah

Sebelum kedatangannya
Malam-malam tak mau bercerai dengan pekatnya
Gelap abadi dalam takhta
Persetan dengan rembulan dan gugusan bintang
Tak ada lagi temaram, tak ada lagi cahaya
Semua dilahap tuntas oleh tangis, luka dan derita

Sebelum kedatangannya
Jiwa terbelenggu oleh rasa perih
Ia hidup tak seperti hidup
Dan mati tak seperti mati
Jiwa kehilangan esensinya
Terpenjara dalam bayang yang dipenuhi duri kehidupan

Semua berembus tanpa makna
Mengalir tanpa tujuan
Sampai tiba saatnya seseorang datang

Tangan lembut itu mengambil lengan ini dengan syahdu
Menyeret diri pada sebuah balairung suci
Tenang, tenang yang tiada tara
Jiwa serasa bereinkarnasi
Daku kini punya mulut untuk mengungkap
Pundak untuk bersandar
Dan peluk untuk berlindung

Terima kasih, Seroja.
Atau kusebut dikau dengan sirojan?
Lentera hidup penuntun pada ruang kegembiraan
Senyum yang terbingkai rapi pada wajahmu
Akan terus abadi, termuseumkan dalam relung hati.

Terima kasih, semoga tanganmu dan tanganku tetap bermuara pada satu genggam yang sama

Pesan untuk Ainun

Nun, waktu telah bergulir
Kini kau telah menjelma bidadari berkepala dua
Kau pasti tahu
Dewasa terus menggendong segenap riuh dan luka
Pedih akan terus bergerumun dalam aliran hidup
Dan keadaan senantiasa menjadi ruang tempa yang mungkin akan lebih menyedihkan

Nun, gadis anggun nan jelita!
Menjadi baik dan bermanfaat berarti rela tertusuk pedih
Alam akan terus menguji hati kecilmu
Ia tak kan puas sampai sanubarimu hancur lebur dalam kebinasaan

Mendongaklah, berhentilah merunduk
Usaplah air jernih sayu matamu
Senja terlampau sedih melihatmu dalam goncangan
Berdiritegaklah, Nun.
Kau wanita hebat yang tak kan pernah layu dengan lara.

Nun,
Di seberang sana cerah telah menanti
Mimpi yang kau angan berbaris rapi menuggumu
Mari saling menggenggam
Terus berjalan, tak apa pelan, asal tak berhenti
tetaplah teguh, Nun.
Jadilah ratu yang tak terkalahkan bahkan oleh semesta.

Siapakah Dia?

Ia datang membawa pena
menggengam rembulan dengan irama sendu
malamnya dipenuhi sengguk yang mengguncang semesta

siapakah dia?
Ia tak cantik, tapi bidadari lebih jelek darinya
Ia tak manis, tapi gula lebih pahit darinya
Ia tak mempesona, tapi semua raja memperebutkannya

Senyumnya adalah musim semi penuh bunga
Mengundang semua lebah bergerumun memanjatkan doa
Kata-kata bertekuk lutut di depannya
Tak satu pun yang dapat membahasakan indah rona pipi wajahnya

Setelah satu dasawarsa, aku baru tahu
Orang tanah seberang menyebutnya “Nadhifah”
Nadhifah bukanlah guratan senja yang menghias lautan
Nadhifah bukanlah taman bunga di taman Firdaus
Tapi Nadhifah adalah manifestasi senyum tuhan yang menaungi keindahan keduanya.

    Ahmad Ronal
    Latest posts by Ahmad Ronal (see all)