Sebelum Malam Terulang Kembali

Poker
Ilustrasi: ravenecho.com

Terik matahari menggelepar. Menyayat pori. Menjelajar. Menghembus deru asa.

Lalu lalang kendaraan bermotor menambah hiruk pikuk kepenatan. Asap berjibaku bersama peluh. Meleleh. Sejuta harap menggantung di balik batok kepala. Teriak bayi dalam himpitan atap berdesakan.

Para lelaki dengan setengah terbakar bertelanjang dada. Angin melempar angan dan keraguan. Terik mengompori, membakar emosi. Jalanan lebar menghimpit. Berseteru dengan rasa sakit. Ditahan-tahan. Bersorai. “Haha..haha..haha” Tertawa. Menjunjung hujung.

Bergerombol empat orang di depan gubuk seng samping pom bensin. Mengadu sesal. Melepas gerai. Menciduk sisa asa yang menggantung di langit pekat. Sepekat jalanan hitam bersiteru dengan ribuan kaki. Menghentak. Meluap hawa. Bersorai. Seorang gendut buncit, kepala sedikit botak. Dengan sisa puntung rokok mengepul bersama poker di tangan kanan menghardik.

“Brengsek!” Terik menganga. “Kalah lagi! Sul, kamu curang!”

“Sudah takluk kamu!”

“Bang, cobalah susut terik panas ini. Beli kipas angin atau apa kek!” Istrinya keluar rumah, menghampirinya sambil menyeka dahi. Si bungsu menggelayut dengan mulut masih melekat di kuncup teteknya.

“Gimana, berapa lagi aku nunggu? Heh! Binimu, Jum, tuh minta dilap. Hik…hik….” Bejo terkekeh.

Tanpa respons. Diacuhkan. Permainan poker masih memanas, bersamaan dengan teriknya matahari.

“Iya nih, si Sulton napa coba, kok menang terus? Pake ajian apa kamu?

Di pinggir gubuknya. Hampir reot. Tempat mengundi nasib dengan tarian-tarian poker. Berhitung. Pengap menjadi santapan di siang bolong. Menggigil dengan tubuh dibaluti sarung tembelan kala petang merangkak, perlahan tenggelam. Entah kapan gubuk ini berubah menjadi villa?

“Yah… sedikit mewah juga tidak apa-apa.” Berharap bintang runtuh di tengah-tengah raungan bumi.

“Sekali-kali bolehlah. Masa cuma yang berdasi doang tinggal di situ? Ya… numpang berteduh juga boleh, asal gak pake sewa. Hehehe…” Celoteh Fatima, sang permaisuri Raja, Juma, pada suatu petang di kerajaan sampahnya sembari mengangan atas nasibnya yang membumbung ketidakpastian.

Di seberang tampak bergelombang. Rentetan-rentetan arakan kepala memenuhi altar jalan raya Ibu Kota. Berduyun. Bendera terkibar. Dijunjung menancap langit. Bergelora. Kuning-merah-putih. Mengaduk jalan.

Histeria pendukung salah satu calon Gubernur Ibu Kota Republik Mimpi. Bergelegak. Teriak menggema. Meraung-raung bak singa kelaparan. Menggeliat senang.

“Preeet….Preeeett….” Bersorai.

Terbahak. Menginjak aspal pekat beruap. Menjinjing bejibun tas dengan berjuta helai kertas bergambar.

“Coblos nomor dua!” Terpampang jelas di bawah gambar sang Satrio Paningit. Berhambur. Dilempar angin ke setiap kelokan-kelokan pojok kota. Membanjir.

“Pak Ji menang, Ibu kota Sejahtera!” Slogan salah satu spanduk berkibar. Basi.

***

“Sudahlah, Jum, lu urus aja anak-bini lu. Mending duduk main gini. Daripada berpanas-panas gak karuan gitu. Cuih!”

Bejo beringsut dengan wajah susut.

“Iya. Makan aja susah, ngapain bela-belain berjemur kayak gitu ya. Ah!”

Menguap. Digelitik angin berhembus. Jum si botak perut membuncit. Bukan kenyang. Ia sedari tadi pagi masih belum sarapan. Untunglah Bejo bawa gorengan walau tidak seberapa. Mengiringi rangkaian poker lusuh.

Upacara rutin kebersamaan bagi bangsa kolong jembatan. Menjadi pelepas penat tatkala tubuh menggelantung di tengah terik metahari, memungut sampah.

“Macam apa pula ini? Heh! Gak tau panas gini. Nambah sesak barang. Gimana mau sejahtera? Sejahtera di neraka.”

Kenek bus menghardik. Bus terhadang. Knalpot menderu. Asap hitam pekat menyumpat kerongkongan jalan ibu kota. Peluh terkekang di setiap bulatan poker.

“Udahlah, bang, jangan main terus. Susu buat si Paruk habis. Gula juga gak ada. Persedian uang sudah tidak ada di saku.”

Fatima menghampiri suaminya. Juma sang suami tidak beringsut dari tempat duduknya. Poker masih diputar. Suara istrinya bagai angin.

“Jum, istri lu tuh, merengek minta susu.”

“Dia kan punya susu sendiri, peres aja susunya itu, alami lagi.” Bejo menimpali, sambil sesekali menghisap rokok.

“Kena kau!” Poker terlempar.

“Iye… nanti malam kita cari uang lagi. Abang belum pegang uang.” Juma menjawabnya ketus. “Pake apa adanya aje, terserah.” Kata-katanya meluncur tanpa beban.

***

Malam merangkak meninggalkan sisa-sisa kepenatan setelah seharian berjibaku di bawah terik matahari. Senja menghantar menuju puncak kemesraan. Temaram berganti gemerlap. Cahaya di trotoar kota menggelayut manja. Seakan percintaannya bersama malam selalu dinantikan.

Fatima termenung di depan cermin mininya, di kamarnya yang sesak. Sejak senja ia bersiap dengan keharuman semerbak. Menjemput belalang. Tubuhnya sintal tidak tampak sekat-sekat menua. Sang suami menjilati hidupnya sendiri. Merangkai angan. Membuang malu. Berjiwa sendu.

“Bang, kapan kita berhenti melakukan ini? Dosa, bang.” Juma terhenyak. Suara istrinya memelas, menghamburkan angannya.

“Udah, kagak usah pake dosa segala. Apa pahala memberi kita makan? Heh!”

“Ingat anak kita, bang, sudah beranjak gede. Aku takut kejiwaannya terguncang kalau tahu seperti apa orangtuanya. Siapa mau orangtua yang dibanggakan tau-taunya bergelut di lembah hitam”

“Lembah hitam apa? Heh! Masa bodoh! Kita akan membangun surga sendiri.”

Sang istri terjerat oleh masa. Dosa. Berlumur kehinaan. Tapi apalah arti dosa? Bilamana ekonomi keluarga menjerit. Harga kebutuhan pokok mencekik. Lapangan pekerjaan sempit.

Menjadi pegawai tiada sertifikat sarjana. Pendidikan saja belum rampung. Berpikir jabatan, makan saja tertatih. Sewa rumah, air, listrik, transportasi, seperti empedu. Kalau bukan disebut sebagai racun.

Untung udara tidak menyewa. Bayangkan, kalau udara harus pula pakai uang sewa, mau makan apa kita? Hidup sampai detik ini saja sudah syukur. Kehidupan milik mereka yang ber-uang saja. Belum lagi polusi ikut mengiringi.

Masih di depan cermin mungilnya. Berkelebat. Memori masa silam. Sudah tidak terhitung berapa kepala buaya telah bergumul asyik masuk di bawah selengkangannya. Pergumulan di tengah tali resmi perkawinan.

Dipandangi parasnya lekat-lekat. Masih belum tua. Keriput masih belum menyapanya, walau kini telah memasuki usia kesepuluh perkawinannya dengan Juma, aktivis sampah ibu kota.

Melihat anaknya tertidur pulas, ia pun berangkat.

“Masih kecil engkau, anakku. Penderitaan menanti,” gumamnya dalam hati.

***

Terbayang pertikaian dengan suaminya, semenjak ia di bawah rangkulan suaminya. Sejak itu pula ia menjalani kehidupan kelamnya sebagai kunang-kunang malam.

Kerap kali cekcok hanya gara-gara ia menginginkan buah momongan. Sudah bosan ia dengan alat kontrasepsi yang terus melindunginya dari berbadan dua, atas rekomendasi sang manajer, suaminya sendiri.

“Biar kamu terlihat seksi dan montok terus.” Begitulah ketika ia bertanya perihal alat itu.

Namun, tatkala perutnya membuncit, perang gerilya memenuhi istana mungilnya. Sumpah serapah memenuhi telinganya.

“Anak haram! Aku tidak sudi punya anak hasil benih laki-laki buayamu.” Menghardik.

“Tapi, ini hasil hubungan kita, bang. Kan aku pernah hampir empat bulan tidak tidur dengan siapa pun kecuali dirimu.”

“Cuih…! Persetan! Anak itu musti tidak ada di tengah-tengah kita. Kalau perlu, gugurkan saja, mumpung belum besar. Heh!”

“Tidak, bang, ini karunia Tuhan. Titipan-Nya yang harus kita jaga, bukan dibunuh atau malah dibuang.”

“Jangan bawa nama Tuhan. Aku tidak mau impianku sirna dengan hadirnya anak itu. Rezekiku bisa terhambat.”

Suara isak membahana. Buliran air mata terderai. Langit seakan runtuh. Dada membuncah. Ditahannya mendung. Pekat. Walau gerimis turun rintik. Ditahannya halilintar kemarahannya.

Namun, setelah mati-matian mempertahankan si cabang bayi, akhirnya ia lahir juga ke dunia. Alasannya sepele: menghilangkan rasa sepi. Keluarga tanpa sosok anak, hambar.

“Ayo berangkat. Kita titipkan anak kita ke mang Dullah.” Suaranya membuat kaget. Buyar. Menuju persimpangan jalan perkotaan. Tempat mangkal kupu-kupu dan kunang-kunang.

***

Di pinggir trotoar, kawasan blok M, penjaja tubuh lalu-lalang menjual hidup. Jasa kenikmatan. Antara deru kendaraan bermotor jari jempol diacungkan ke depan. Transaksi berlaku.

Lelaki kepala buaya. Berdasi. Dengan mobil bermerek, hidup tergadai mahal. Pria bertubuh tambun, dibaluti jaket warna hitam, melongok ke dalam jendela mobil. Sedangkan di depannya seorang pria berpakaian necis dengan dasi mencekik. Manggut-manggut.

Masih bersandar di belakang kemudi. Mobil bermerek luar negeri menjadi tolak ukur kedudukan seseorang; kalau tidak pengusaha, pegawai negeri pun boleh jadi.

“Servisnya gimana?” Seorang di belakang kemudi menelisik. Pertanyaan terlontar.

“Maknyuslah, Pak! Masih rapet. ABG-pun boleh bersaing. Sip!” jawab si gendut berkepala botak yang tak lain suami Fatima.

“Berapa?”

“Emm… cukup lima ratus saja. Dijamin!”

“Kemahalan. Lima ratus dua? Gimana?”

“Oke deh, hitung-hitung penglaris”

“Deal. Ambil yang padat dan berisi”

“Deal.”

Si gendut menghampiri ayam-ayam peliharaannya. Satunya bersyal merah. Tank-top biru menyala. Kaos U-can-see warna kuning cerah berpadu. Molek.

Satunya lagi dengan noktah hitam menghias dagu kirinya. Rambut tergerai. Pakaian tidak kalah berarti dengan wanita satunya, istrinya sendiri.

Lamat terdengar sang suami berbisik, “Hati-hati, ya, sayang.” Tanpa kecupan. Hanya sebelah mata kirinya memicing dan uang segepok dalam rengkuhnya erat.

“Kita kemana, pak?” Wanita dengan tahi lalat di dagu kirinya memecah. Hening.

Setelah deru mobil beranjak jauh dari keramaian kota. Melintasi jalanan kota. Meninggalkan momongan di gubuk kecilnya. Melepas suami yang menjadi otak bermandi lumpur dosanya. Semuanya menjadi acak-acakan di keranjang pikirannya.

“Jangan panggil pak, panggil mas atau abang saja.” Tersenyum sinis.

“Nanti kasih tip lagi, ya, pak. Eh, mas.”

Wanita di jok belakang menimpali. Sambil lalu tangan halusnya melingkar di sela-sela leher prianya. Harum semerbak. Kasturi dunia. Surga malam ini adalah milik mereka.

“Tenang, sayang, semua ditanggung beres. Aku puas dan kalian juga puas. Saling memuaskan. Hik-Hik-Hik…” Tawanya bergemuruh. Menandingi sorak-sorai kampanye pilihan bupati.

***

Papan biru di atas lintasan menunjuk arah Bogor. Mobil berbelok arah kanan. Gerimis malam mulai turun. Membasahi bumi. Jalanan terasa sendu. Licin. Dinginnya malam memompa degup jantung. Ngos-ngosan.

Tangan kiri sang pengemudi mencari-cari sangkar tempat burung bersemedi. Mengelus. Meraba-raba. Sedang tangan satunya memegang kemudi di tengah jalanan licin. Menggerayang di tengah rintikan langit menangis.

AC mobil menambah gelora. Bukan dingin menelikup, tapi hawa panas membangkit. Menelusuk pori. Merongrong hasrat yang sudah bergejolak.

Masih dalam posisi melayangkan pikiran. Di tengah imajinasi hasrat. Ketika tiba-tiba di balik tikungan. Menanjak. Mobil dari arah berlawanan meluncur. Memberi silau pandangan di tengah gerimis. Jalanan licin tidak terkendali. Kemudi berputar arah, melayang bersama hasrat dan imajinasinya.

Ketika keesokan harinya ditemukan tertelungkup. Remuk. Di dataran tinggi jalan menuju puncak. Bersama derai air mata. Keluh. Meninggalkan asa suami tercinta. Rasa bersalah menggunung di tengah harapan sang bayi. Kini sang botak dengan perut buncitnya benar-benar telah menjual. Hidupnya telah tergadai. Kalah bermain poker kehidupan.

Ahmad Fathoni Fauzan
Ahmad Fathoni Fauzan 5 Articles
Pengamat Sosial dan Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.