Sebetulnya, Tidak Sendiri

Sebetulnya, Tidak Sendiri
©Unsplash

Jika sudah pasti merasa dingin sendiri di jalan ini,
Kepada pundak mana lenganku berlabuh, ke dada siapa
Kurebahkan kepala?

Aku tak punya kamu, meskipun kadang begitu yakin
Kamu mungkin kumiliki suatu hari…,

Malam ini, ketika hujan mesra sekali, dan terasa begitu jauh
Mereka semua yang mencintaiku, aku hanya punya milikku sendiri:
Diriku yang bahagia karena hidup adalah kebaikan Tuhan

Aku memiliki diriku, mencintainya sepanjang jalan sunyi
Aku rindu merasa dekat dan damai dengan hidupku.

Riwayat Hidup

Hidup adalah pengalaman ini:
Mengetuk pintu rumah yang tidak bertuan
Dan semua alamat rindu adalah anonim

Manusia,
Hidup adalah riwayat di luar rumah
Jika sekali waktu pintu terbuka dan diterima
Itu hanya kematian

Di Manakah Profesor?

untuk dia yang mencari sebab
Ia temukan pertanyaan itu di depan pintu kelas.
Tercetak rapi pada sebuah poster bergambar lukisan tanpa kepala.
Ia tahu kelas lengang dan ia lekas kembali
mencari guru besarnya yang menghilang tanpa sepatah kata.

Lukisan itu tanpa kepala
profesor meninggalkan universitas
mahasiswa mencari isi kepalanya
mencari sebab dari sebab

Di manakah profesor?
Ia bertanya kepada dekan filsafat.
Dekan hanya melekatkan jari telunjuk di bibinya
lalu berbisik, “Profesor sedang main petak umpet.”

O my god. Ia berkeluh. Profesorku masih di gua Plato.
Kant berteriak, sapere aude! Tapi rupanya rantai kompromi
birokratis mengikatnya dengan lembut. Ia bermain di bawah bayang-bayang rezim.
Tanpa kepala, tanpa idea, profesor merawat epithumia.

Usia matahari hampir 51 tahun
cahaya Sophia yang cerlang cemerlang
tapi jendela kampus masih tertutup
kelas sepi dari elegkhos, tapi riang di medsos dengan aporia

Di manakah profesor?
Adakah ia di palaistra?
Sedang menyimak Nietzsche atau menyimpan amplop kapitalis?
Membaca Heidegger atau membajak karya klasik?

Ia masih terus mencari. Menapaki batu pijakan. Makna tak pernah termiliki.
Makna  itu cerlang cahaya di kejauhan. Jauh dan jauh…
Penyair dan filsuf membidik cahaya itu dengan puisi dan filsafat.
Dua alat bidik makna yang menentukan sinar makna tetap benderang.

Ia mengetuk pintu. Bertanya, “Guru besar menginap di sini?”
“Sudah lama ia tidak berumah setalah gagal merawat logistikon,” tuan rumah menjawab.
“Apakah ia meninggalkan pesan?” ia bertanya lagi
Tuan rumah berjalan ke meja, mengambil secarik kertas, lalu membacanya, “Gnothi Seaton!

Ternyata pencerahan sudah dimulai sejak maksim Delphi nyaring di lidah Socrates.
Apakah pesan itu menujukkan bahwa profesorku seorang sophron?
Di manakah profesorku? Ia kehilangan kepala. Hidup dengan akrasia.
Epithumianya mekar berbunga, aromanya merebak, dan ia siap diadili!

Edy Soge