Sebuah Cara

Genap berusia dua puluh tahun
kau rela menerima kamar tidur sebagai tinggalmu paling cukup.
dan mengerti, sampai hari ini,
itu satu-satunya cara kau berkenalan dengan negara.

ada cerita berulang sebelum kau terbangun pada cara biasa:
seorang anak kecil selalu berdiri dari balik jendela
menunggu kembang api tumpah ruah di langit.

kau tahu
biar hingga renta pun
sepasang lengan anak itu tidak pernah
mampu mengabulkan tujuan matanya.

mimpi kadang kala hanya diam yang mutlak.
Begitulah kira-kira lelucon terakhir tuan Chaplin
lalu akhirnya pamit dari kepalamu.

memang kehilangan selalu pintar
jadi ruang tunggu setelah halnya kata-kata adalah credo
panjang menenangkan sesal doa orang tua
sebagaimana kau menyebutnya Tuhan sebelum tidur.

Puisi 2

“Hanya Dea.
ketika kau bertanya seberapa kuat mata pensil
melihat alasan terdalam di bibirku.”

Sedikit Sekalipun

Aku bayangkan diriku adalah buku tua
Dengan lembar-lembar terbuka
Dan kau satu-satunya pembaca
Yang juga menjadi tokoh utama
Di setiap halaman

“Dan memasuki kata-kata ini, ingatan
Setelah terlewat mengubah dirinya
Semua tanda baca”
Agar setidaknya
Sesuatu yang dinamakan keributan
Punya cara untuk diceritakan

Latest posts by Sandro Sogemaking (see all)