Sebuah Cerita tentang Kita #1

Sebuah Cerita tentang Kita #1
Foto: Pexels

Suatu petang, cahaya lembayung tampak memudar. Di langit, kemerlap bintang berkedip-kedip layaknya sinar kunang-kunang yang menari kegirangan. Sesekali telinga kita menangkap debur ombak menghempaskan diri. Siluit orang-orang yang berada di sekitar pantai turut menambah keindahan petang itu.

Pada sebuah beranda rumah yang terletak beberapa meter dari bibir pantai, kita duduk sembari mengantar matahari pulang ke peraduan. Begitu ia tenggelam di balik laut, kau pun membuka percakapan setelah beberapa saat terdiam karena rasa takjub menyaksikan pemandangan indah yang tak boleh diabaikan. Kau mengawalinya dengan sebuah pertanyaan.

“Apa yang membuat hubungan dapat bertahan lama, sebab sering kali aku menjumpai orang-orang yang karena hal sepele lantas mengakhiri hubungan mereka?”

Ungkapan tersebut adalah pertanyaan pertama yang kau lontarkan padaku saat-saat kuyakinkan diriku untuk menyatukan hati kita. Dan karena pertanyaan itu pula, aku jadi mengurungkan niatku. Secara tak langsung, kau mengajakku memikirkan segala kemungkinan-kemungkinan yang kita hadapi jika hubungan ini terbangun.

Kau menegaskan bahwa kita datang dari dua keadaan yang amat berbeda, dan jika disatukan, tentu akan mendatangkan berbagai macam keributan. Belum tentu aku menerima kekuranganmu dengan alasan kita sudah lama saling mengenal, dan begitu sebaliknya.

Tanpa pikir panjang, aku menutup perdebatan kita dengan diam. Aku memutar langkah, bukan karena menyerah, tetapi karena menyatukan dua hal yang berbeda bukanlah perkara yang mudah.

Misalnya, ketika kita memaksakan hubungan ini terjadi, lalu salah satu di antara kita enggan memahami, tentu akan ada hati yang terluka atau jiwa yang rapuh. Kau memintaku memikirkan kemungkinan yang akan menimpa hubungan kita ke depannya, berarti juga kau menginginkan kepribadian yang lebih matang.

Ah, kau memang selalu menantang. Kau tak pernah main-main dengan apa yang hendak kau perbuat. Demikian sudah kurasakan selama kita menjalin hubungan, di mana kau selalu membuat pertimbangan-pertimbangan ketika dihadapkan pada suatu masalah. Kau menjelaskan positif dan negatifnya, lalu menarik kesimpulan. Hal itu menambah rasa kagumku padamu.

***

Pada hari kelima pasca diterima sebagai pegawai di perusahaan yang sama, akhirnya kita jadi sering bertemu. Aku bersumpah, demi keseringan itu, aku selalu berusaha untuk membangun percakapan denganmu.

Bagaimana tidak, dari tempat tersembunyi, aku selalu mencuri pandang senyummu. Manis sekali. Kau membina keakraban dengan pegawai lainnya. Amat cepat beradaptasi dengan lingkungan, sedangkan aku masih sibuk mengurusi tatanan mejaku.

Ketika kau sudah punya teman karib untuk diajak ke kantin, aku masih saja membawa bekal dari rumah sendiri. Tak pernah terpikirkan olehku apakah kau juga menangkap perilaku-perilaku anehku, dan ternyata, ya, kau memang menyadarinya sejak hari pertama kita ditraining.

Sebulan sudah waktu berjalan. Pun kita makin tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Namun tentu sekali sehari aku tetap mencuri pandang padamu. Bagiku, hanya orang yang tak normal yang mengabaikan keindahan yang tergambar dari wajah dan sikapmu.

Lalu tiba-tiba sesuatu yang tidak pernah terbayangkan mengubah stagnasi perjalanan hidupku. Ketika kota Jakarta benar-benar dalam keadaan panas. Saat aku sedang menikmati bekal makan siangku di kantin dengan segelas es good day cappucino, sesosok tubuh menghempaskan tubuhnya tepat di kursi yang di depanku.

“Wah, panas sekali, ya!” keluhmu. Sontak saja aku terkejut.

“Ya, Jakarta memang selalu panas,” balasku seadanya. Namun ada kegirangan menari-menari dalam dadaku.

“Belum lagi polusi di luar sana yang setiap saat dapat merusak udara. Tetapi tetap saja para perantau memilih Jakarta sebagai tujuan.”

“Lah, memangnya kamu dari mana?”

“Bandung.”

“O, kota kembang itu, ya?” kataku pura-pura kenal. “Aku Hasan, dari Yogyakarta.” Aku mengulurkan tangan.

“Aku Hana.” Ia menyambut tanganku. Yang membuatku girang adalah senyumnya. Lepas sekali, tanpa paksaan.

Namun perbincangan itu tidak berlangsung lama, Rina teman karibmu sejak masa training memanggil namamu dari meja yang terletak di sudut ruangan. Tumbuh sedikit rasa kecewa dalam hatiku, akan tetapi siapa yang bisa melarangmu? Ini saja kali pertama kita saling menyapa setelah sekian lama bekerja dalam ruangan yang sama. Aku membesarkan hati dengan berharap mungkin besok kita dapat bertemu lagi.

Sudah menjadi kebiasaan bagiku sepulang kerja mengunjungi toko buku yang terletak beberapa meter di sebelah kantor. Dari pintu masuk, hanya perlu berjalan ke arah selatan sekitar lima puluh meter. Setelah sampai di pertigaan, berbelok ke arah timur kurang lebih tiga puluh meter.

Di sana, berdiri toko buku sederhana yang menjual buku-buku murahan. Selain menjajakan buku-buku bagus, hal yang membuatku tertarik adalah karena sikap pemiliknya yang terbuka. Namanya Pak Kamto, seorang duda berumur lima puluh tahunan. Ia sangat ramah.

Setelah menemukan buku yang kucari, aku menuju kasir tempat Pak Kamto duduk menanti pembeli melakukan transaksi. Karena sudah mengerti kebiasaanku, Pak Kamto lantas mengambilkan sebuah kursi dan meletakkannya untuk kududuki.

“Tak perlu repot, Pak.”

“Tidak apa-apa,” balasnya. “O, ya, bagaimana dengan kantormu? Kau betah di sana, bukan?” tanya Pak Kamto tanpa basa-basi.

“Begitulah, Pak. Tapi ada satu hal baru yang ingin kuceritakan, tentang……”

“Tentang gadis itu? Oh, sebenarnya tak perlu kau ceritakan pun aku sudah paham.” Pak Kamto cekikikan.

“Lah, bapak tahu dari mana?” tanyaku tak percaya. “Jangan-jangan bapak intel, ya?”

“Aku sudah tahu sejak kedatangan pertamamu ke toko ini. Secara aku juga pernah muda, maka tak heran jika aku mampu menebak kekosongan hatimu. Benar begitu, bukan?” goda Pak Kamto. Aku hanya geleng-geleng kepala menyadarinya.

“Oh, ya, pak! barangkali ada pesan untukku.”

“Pesan?”

“Pesan, nasihat, atau apalah istilahnya.” Aku salah tingkah dibuatnya. Pak Kamto tersenyum. “Bapak tahulah, kalau saat ini umurku hampir tiga puluh tahun. Sudah sepantasnya bagiku mencari calon istri. Tak boleh lama-lama lagi, makin lama maka makin tua nanti aku menikahnya. Aku tidak mau disebut laki-laki tak normal, mandul, dan lainnya.”

“Menikah itu perkara sepele. Ada mahar dan penghulu saja sudah beres. Yang sulit itu adalah menemukan seseorang yang mampu berkomitmen.”

“Aku mengerti, pak, itu keputusan yang cukup sulit.”

“Tidak, atau begini saja.”

“Bagaimana, pak?” desakku.

“Tadi kau sebut berapa umurmu?” Pak Kamto balik bertanya.

“Tiga puluh tahun.”

“Nah, kalau begitu, pengalamanmu sudah tidak diragukan lagi.” Pak Kamto menyerahkan uang kembalian kepada seorang pembeli. “Hal yang perlu kau lakukan sekarang, fokuslah pada gadis yang kau anggap baik itu. Kau sudah punya pandangan itu, kan?”

“Maksud bapak, calon?”

“Iya, calon!”

“Kalau itu, sudah, pak. Itulah yang mau kuceritakan kali ini.”

“Tidak usah, sebab kau sudah tahu jawabannya sendiri. Intinya adalah berani. Berani menyatakan dan mengungkapkan sikap serius kita kepada orang itu. Apabila tidak berhasil meyakinkannya, maka mungkin seseorang itu bukan jodohmu.”

“Tetapi, pak…..”

“Bukan maksud mengusirmu, ada baiknya kau pulang dulu. Setibanya di rumah, kau pikirkan apa yang baru kukatakan. Ingat! Jangan gegabah menarik simpulan.”

Aku mengurungkan bertanya lagi dan menuruti saran Pak Kamto. Maka setelah memberikan sejumlah uang sesuai dengan harga buku yang tertera di sana, aku langsung pamit dan meninggalkannya seorang diri. Sungguh aku memandang Pak Kamto seperti orang tuaku sendiri, layaknya seorang ayah. Orang-orang juga mungkin menganggap sama.

*Bersambung…

    Sammad Hasibuan

    Kelahiran Janjilobi, Sumatra Utara | Alumnus Program Studi Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Latest posts by Sammad Hasibuan (see all)