Sebuah Perjalanan

Sebuah Perjalanan
©Hipwee

Juli
Ketika bayangmu mulai mengelupas
Tak mampu aku untuk melepas
Karena hati ini telanjur menyatu
Dengan keteduhan wajahmu

Agustus
Menapaki jalan penuh duri
Tanpa sebuah alas hati
Adalah hal paling memilukan
Dalam kehidupan penuh angan
Seperti yang kualami
Meski langit tak memakai cadar
Mengurung pandang pada rembulan
Adalah kewajibanku yang tak boleh pudar

September
Pada bulan ini aku balut resah dengan
Sekeranjang harapan yang kau bawa
Hingga rindu ini tak lagi menyapa
Pada diriku
Yang selalu menyebutmu tanpa jeda.

Sampang, 2021

Hikayat Sarwono dan Pingkan*

Meski ruang seakan tak setuju
Untuk membina cintanya
Mereka tetap menentang dengan sepenuh jiwa
Karena mereka meyakini;
Cinta sebagai takdir bukan nasib yang harus diukir.

Menitip rindu dari Pulau Jawa ke negeri sakura
Adalah cobaan untuk mengunci air mata
Walau pada akhirnya di antara mereka
Harus ada yang terluka
Sebab tiga potong puisi dalam koran tua.

Lubtara, 2020

*Puisi ini terinspirasi dari novel
Sapardi Djoko Damono (Hujan Bulan Juni)

Untukmu yang di Sana

Memendam rindu pada hamparan senja
Adalah sebagai tipu daya
Untuk menjadi penawar
Ketika wajahmu lindap di kepala

Duhai, kasih
Adakah kau rasakan hal yang sama?

Begitu menyiksa
Bila dibanding
Sengatan matahari pada awan yang menjelmanya hujan.

Untukmu yang di sana
Bolehkah aku menata rasa selembut sutra?
Hanya untuk sekadar menyampaikan
Bahwa aku begitu tersiksa
Oleh wajahmu di relung jiwa.

Lubtara, 2020

Afirmasi Hidup

Acap kali kau bilang
Hidup bagaikan gelombang
Yang harus kita tantang
Walau berguncang
Tetap kita lawan

Acap kali kau bilang
Hidup bagaikan roda berputar
Yang seharusnya kita bersabar
Dalam menghadapinya
Bukan dengan amarah berkobar
Di setiap langkahnya.

Lubtara, 2020

Nyanyian Luka

Bila kau tanya angin
Mengapa sikapku dingin
Maka ia akan menjawab,
“Karnamu!”

Bila kau tanya rembulan
Mengapa diriku kehilangan binar
Maka ia akan menjawab,
“Karnamu!”

Dan jika kau tanya gemintang
Mengapa diriku tak lagi cemerlang
Maka ia akan menjawab,
“Karnamu!”

Cobalah kau tanya pada luka
Mengapa diriku tak merasa tersiksa olehnya
Maka ia akan menjawab,
”Ia telah terbiasa denganku
Dan kini ia menjadi kawan derita-pilu.”

Lubtara, 2020

    Faris Al-Farisi
    Latest posts by Faris Al-Farisi (see all)