Secangkir Burung Pipit

Kupanggil ia kekasihku, “secangkir burung pipit”.

Kalau-kalau sepasang mentari tampak di sela-sela ceramahmu, pasanglah dengan baik doamu. Biar nanti kita bercerita dengan riak-riak diam yang membisu. Persis seperti dunia yang penuh debu dan abu di trotoar-trotoar jalanan ibu negara.

Atau, sehabis kau dan siapa saja membawakan lagu jalanan, kuharap kau akan tahu pengarang yang kian lama tak dikenang kembali. Bisa jadi di antara musim gugur. Daun-daun(nya) dapat menghitung berapa banyak retorika yang melebar di ruas-ruas jalan kota.

Aku hanya sepasang kekasih di antara tawa dan air mata jalan kota. Di setiap lampu merah akan aku permisikan air mataku mengalir, sambil menghitung berapa mata yang pernah iba dengan tawa yang berkumandang. Atau bisa jadi dengan iba membawa puisi jijik dan jorok seperti tong-tong sampah yang ditenteng oleh angkutan-angkutan berpelat juga dengan opsir becak yang kini hampir-hampir berusia seperti jas kumuh penuh tangisan jalan ibu negara.

Sudah sekian tahunnya aku mengair puisi yang tak pernah diberi judul. Pendengarnya, hanyalah kaum-kaum kumuhku di emperan-emperan tokoh. Sedang pengagumnya, hanyalah kawanan sampah yang kucari sebagai pemasok makanan dan minuman sehari atau barang dua-tiga hari ke depan.

Sampai-sampai aku menyeduh kembali bau pesing. Juga keringat dari tubuh yang mulai dahaga bersama sepasang burung pipit yang mula-mula tamu hingga jadi kekasihku di setiap pagi di depan gang-gang kardus rumahku. Kupanggil ia kekasihku, “secangkir burung pipit”.

Maumere, September 2019

Rumah Terakhir Sebuah Nisan

Banyak hari yang makin nganggur. Sedang, banyak pula pertengkaran dan peperangan yang makin liar. Kau boleh saja melenggak-lenggok di duniamu dan boleh-boleh saja kita saling bertatap kata di hadapan larik-larik handphone.

Dunia hari ini seperti biasa-biasa saja. Pagi ke malam dan malam kembali ke pagi itu sebuah rutinitas. Namun, berapa kali dalam rutinitas itu kau dan aku yang menjadi kita membaca surat kabar harian di setiap pagi ataupun malam tiba? Mungkin kita merasa hari seperti berlalu begitu-begitu saja. Sedang di luar sana, hari tak pernah jadi biasa-biasa saja.

Ketika makin lama dunia kita menjadi asyik, ibuku pun makin ramai bertengkar. Sedang ayah-ayah tetanggaku yang dulu pernah kupilih dari iklan-iklan jalanan tak lagi menceritakan tentang segala air mata kita.

Di luar sana, tepat di timur matahari itu terbit saat ini tak pernah jadi biasa-biasa saja. Pagi ke malam, dan malam kembali ke pagi kini jadi air mata yang menarik.

Ibu(ku) tak pernah benar-benar lelap. Di setiap doanya selalu ada darah yang mengalir. Sambil menguping doa ibu(ku) kepada Tuhan-nya, aku dengar ia bercerita segalanya. Kini dunia tak pernah jadi biasa-biasa saja. Maya dan nyata jadi pasangan ideal perkelahian dan percintaan yang kian zina.

Ibu(ku) terus berdoa sambil berharap cemas rumah kami yang terakhir akan jadi nisan yang sempat didahului oleh ayah juga leluhur kami.

Maumere-Wisma Arnoldus, 2019

    Chan Setu
    Latest posts by Chan Setu (see all)