Secara Ilmiah, Kesetaraan Gender Itu Omong Kosong

Secara Ilmiah, Kesetaraan Gender Itu Omong Kosong
©The European Sting

Nalar Warga – Pernah lihat bedes perempuan membuka peta terus petanya diputar-putar? Jangan diketawain, lho wong memang dia bingung mana utara-selatan kok.

Meskipun tidak semuanya, pada umumnya bedes-bedes cewek tidak mahir baca peta. Konsekuensi logis evolusioner pembagian peran sosial perempuan-laki.

Meskipun tidak semua juga, pada umumnya bedes laki lebih jago membaca peta. Tapi cowok sering kali bisa menemukan arloji atau kaus kaki di rumahnya sendiri. Mahir navigasi jarak jauh, tapi punya handicap serius dalam hal navigasi jarak dekat.

Apakah bedes perempuan dan bedes laki-laki itu berbeda? Jawaban ilmiahnya adalah jelas: iya. Apakah perempuan dan laki setara? Jawaban moralnya adalah: seharusnya begitu. Pengetahuan ilmiah bebas nilai, bebas moral.

Jadi begini, apakah bedes perempuan dan laki-laki setara? Ini adalah pertanyaan politis atau moral. Tapi kalau apakah bedes laki-laki dan perempuan identik? Ini pertanyaan ilmiah.

Sampai sekarang, masih banyak yang percaya bahwa bayi bedes dilahirkan seperti kertas putih kosong yang siap dicoret-coret oleh orang tua atau guru-guru mereka. Padahal sebenarnya hormon dan sirkuit-sirkuit (yang sudah terbentuk) di otaklah yang bertanggung jawab atas perilaku, pilihan, dan sikap kita.

Artinya, saat bayi bedes lahir, perangkat untuk berperilaku, memilih, dan bersikap sudah siap pakai. Sudah terbentuk kecenderungannya. Bakat sesebedes sudah terbentuk sejak sebelum lahir. Bukan akibat dibentuk oleh lingkungannya. Lingkungan akan mempertegas bakat yang ada.

Terlepas dari jenis kelaminnya, bakat bedes untuk menjadi maskulin atau feminin sudah tercetak di otak masing-masing individu sejak sebelum lahir. Jangan heran kalau ada bedes cowok yang feminin banget, atau ada bedes yang maskulin abis, karena bakatnya memang begitu.

Bagaimana bakat-bakat dasar sifat bedes laki-laki atau perempuan itu tercetak di dalam otak kita? Penjelasannya berkaitan dengan ilmu yang disebut: Sosiobiologi. Saya kenal sebutan ini pada tahun 1985, di bukunya EO Wilson, On Human Nature, yang terbit 2 tahun sebelumnya.

Sosiobiologi: adalah ilmu yang lingkup bahasannya didasarkan pada penelitian tentang bagaimana perilaku kita dijelaskan oleh gen-gen pada tubuh dan evolusi kita. Penjelasan logis dan sederhana mengenai perilaku bedes.

Sosiobiologi adalah serangkaian konsep, teknik, strategi kuat, saling mendukung dalam menjelaskan secara ilmiah bagaimana perilaku kita terbentuk. Tubuh kita disusun oleh bahan-bahan alam yang bekerja sesuai dengan hukum alam; tidak ada takhayul dalam tubuh kita.

Sosiobiologi menyingkirkan segala bentuk teknik, praktik, ataupun pendapat yang tidak mendasar atau yang tidak dibuktikan secara ilmiah. Dan dengan sosiobiologi, kita bisa mendapat penjelasan bagaimana bedes modern seperti kita ini akhirnya bisa mengendalikan dunia.

Kita membutuhkan hampir 65 juta tahun untuk berkembang dari primata purba menjadi sebuah masyarakat canggih yang mampu mengirim bedes ke bulan. Tapi ketika mendarat di bulan, bedes-bedes tetap memerlukan “toilet” seperti nenek moyang purbanya. Di bulan pun kita perlu pup dan pipis.

Bedes-bedes modern sekarang ini kelihatannya sedikit atau banyak berbeda satu dengan yang lain. Hal ini karena perbedaan budaya, perbedaan arah evolusi kultur. Tapi dalam tubuh mereka, kebutuhan dan desain biologisnya ya tetap sama.

Mari kita sedikit rasan-rasan, bagaimana secara genetik dan evolusioner otak bedes sapiens berjalan sehingga menghasilkan pemahaman unik tentang identitas gender mereka sendiri.

Seperti layaknya kehidupan di zaman modern ini. Di zaman prasejarah, bedes laki-laki dan perempuan juga hidup bersama dengan bahagia dan bekerja dalam keharmonisan, menjalankan fungsi dan berbagi tugas.

Bedes laki-laki harus menjelajahi daerah berbahaya penuh musuh untuk berburu, bertaruh nyawa demi makanan bagi pasangan dan anak-anaknya. Laki-laki juga bertugas melindungi pasangan dan anak-anaknya dari binatang buas atau musuh alami. Harus bisa juga menemukan binatang buruan, mahir membidik.

Karena hal-hal tadi, otak laki-laki secara evolusioner mengembangkan keterampilan navigasi jarak jauh. Inilah kenapa sekarang laki-laki lebih mahir membaca peta. Di masa itu, keberhasilan bedes laki-laki diukur dari kemampuannya membawa binatang buruan dan melindungi keluarga dari ancaman bahaya.

Tugas perempuan sama jelasnya: mengandung, melahirkan, dan mengasuh keturunan. Maka keterampilkan yang diperlukan ya yang berhubungan dengan hal-hal tersebut. Perempuan harus mampu memantau area sekitar gua dengan cepat untuk melihat tanda-tanda bahaya. Perempuan mengembangkan kemampuan navigasi jarak dekat.

Di mata laki-laki saat itu, keberhasilan bedes perempuan diukur dari seberapa terampil dia mengatur gua dan sekitar tempat mereka tinggal. Sehingga otak perempuan berevolusi untuk keperluan penguasaan jarak dekat sekitar tempat mereka tinggal. Mereka dengan detail hafal setiap sudutnya.

Inilah penjelasan secara sosiobiologi kenapa bedes perempuan zaman now mampu mengenal dengan detail setiap sudut rumah, sedangkan kebanyakan bedes laki-laki tidak bisa menemukan kaus kakinya di kamarnya sendiri. Dan kenapa bedes cewek-cewek mutar-mutar peta seperti sedang pegang setir mobil.

Laki-laki dan perempuan memang berbeda karena pada dasarnya otak dan fisik mereka ya memang berbeda. Tapi di zaman now, secara moral, bedes laki-laki dan perempuan dipaksa setara. Bedes-bedes tertentu ya tidak mau juga sih kalau harus setara.

*Ryu Hasan

    Warganet

    Pengguna media sosial
    Warganet