Segala Nalar

Segala Nalar
©imgflip

pahlawan telah menciptakan sumpah yang melampaui segala nalar

Sementara ruh masih menari-nari dalam tubuhmu, maka larungkan doa-doa yang paling
di atas sungai yang dipenuhi bait-bait khidmat seperti hikayat dari buku peradaban tua
menceritakan betapa hebat, sakti, bahkan besarnya pulau dan laut
seperti itulah kamu harus berdoa, luas membumbung tinggi
pada nama yang telah termaktub di batu nisan

setidaknya, dirimu masih menghargai jasa para pahlawan
tanpa menyeberangi jembatan kehidupan

Setelah hal-hal baik diikhlaskan pergi petualang
pemikiranmu akan matang meski tanpa tungku arang
hidup tak sekadar menyulut api atau menyiram air
menipu dan ditipu, menuduh juga membunuh
mungkin perbedaan zaman telah menjadikan semua itu muskil dipahami

namun pahlawan telah menciptakan sumpah yang melampaui segala nalar
seperti trilogi, satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa yang menjelma makna abadi 

Demi Abadi di Alam Seberang

seluruh berlian yang terpasung dalam badan
nisbi ia fragmentasi ke setiap logika
hingga mengandung janin-janin pemahaman
demi melahirkan generasi pintar dan teladan

seandainya seorang guru memilih berganti peran
ia akan pergi berhadapan dengan Tuhan
meminta reinkarnasi untuk meyakini tugasnya terdahulu
telah rampung dengan sebaik-baiknya

sebab ia percaya
hal-hal kecil yang ia ciptakan akan berubah jadi ornamen besar

seorang guru tak pernah meminta untuk dibangunkan istana
ia hanya ingin dihadiahi sebidang liang serta pena bertinta emas
untuk abadi di alam seberang
lagi terkenang di tanah kelahiran

Tatkala Langit Menjawab Tuduhan Penghuni Bumi

harum telah merinaikan tuduhan gila di hamparan langit
menyulam gumpalan-gumpalan hitam di dalam tubuh gerimis

sepasang kekasih yang mengajar sekolah dan mengaji
sering bertanya tentang bau bangkai yang acapkali hadir menyapa
tatkala malam berkeliling menyatroni rumah tempat kedua insan itu beribadah
ribuan ingin dan angan hinggap bergelantungan di ruas-ruas pagar besi
serupa jelaga hendak meminta untuk dapat dijadikan permadani

pagi ke pagi hingga tahun ke tahun
yang kecil tumbuh berhasil
bangkai hitam menjelma mawar merah
bertunas putik ikhlas dengan mekar paling ranum
nestapa berubah nirmala
pujian menggema ribuan hasta

kaki-kaki dari tempat yang entah
pun ikut mengantarkan jantung hati yang berwajah pasi
untuk digumbuk menyerupai punggung kunang-kunang
meski tak menderang, setidaknya menerangi tempat remang
dididik oleh pendidik dan diajar oleh pengajar
demi ahli menghidupkan huruf-huruf mati
untuk abadi jadi kalimat penuh khidmat

demikianlah sepasang kekasih itu mengabiskan waktu
di antara hiruk pikuk dunia penuh gengsi
serta beringasnya persaingan dalam mencari pundi-pundi kekayaan
keduanya lebih memilih hidup sebagai definisi paling baik

hingga akhirnya langit mementahkan suara
sembari menurunkan rintik-rintik hujan dengan merdu
untuk menjawab pertanyaan serta tuduhan para penghuni bumi
bahwa gawai dari sepasang kekasih itu
adalah menjadi guru

Perselisihan Para lelaki

jelang pagi, sapa menyapa dari musuhku menjadi pemulai harimu
sedang bagiku adalah akhir bagi harapan yang kian membiru
memberi bekas laiknya tubuh seorang pemabuk dicambuk
bilur menandak-nandak ke dalam rusuk.

aku mulai merasa,
tampaknya kau begitu menuhankan diri?

tak ada yang mengetahui tentang perselisihan ini
bahwa beberapa lelaki yang pandai menggumuli hati
berjibaku dengan seorang lelaki penyulam fiksi
melainkan Tuhan, kumbang, ombak, serta jalanan yang terhiasi lampu-lampu taman.

kini, aku mulai bertanya:
bila seorang lelaki kalah dalam peperangan,
dapatkah ia merasakan singgasana pernikahan?

    Ilham Nuryadi Akbar
    Latest posts by Ilham Nuryadi Akbar (see all)