Sekolah Tanpa Buku Pelajaran?

Sekolah Tanpa Buku Pelajaran?
©UMA

Sekolah Tanpa Buku Pelajaran?

Saya selalu percaya quotes yang mengatakan bahwa sebenarnya setiap orang itu suka membaca, hanya saja beberapa orang belum menemukan buku yang tepat. Menurut saya, sialnya lagi beberapa membaca buku menyebalkan yang kemudian membawa mereka untuk benci membaca.

Kalau ditanya tentang hobi saya, dengan PD saya biasanya akan menjawab membaca. Hobi yang sebenarnya baru saja saya temukan.

Dulu ketika di masa sekolah, saya benci membaca. Meskipun setiap belajar saya diperintah bahkan dipaksa membaca. Ujung-ujungnya tak lama kemudian ngantuk melanda lalu tertidur pulas. Kadang tertidur sambil tengkurap dengan buku di depan saya, kadang pula tertidur sambil duduk.

Bukankah banyak dari kita seperti itu? Tidak sedikit dari kita yang menganggap membaca adalah obat tidur paling mujarab, kan?

Saya baru sadar mengapa pengalaman saya membaca waktu kecil begitu menyebalkan. Pertama, saya tidak punya buku bacaan selain buku pelajaran. Kedua, karena saya dipaksa membaca buku-buku itu. Sayangnya pengalaman buruk itu terus dirasakan banyak siswa kita di sekolah sampai sekarang.

Menurut saya, banyak struktur buku pelajaran yang kacau dan garing. Tidak pernah ada narasi yang baik. Penulisnya meringkas segala peristiwa seolah ingin menunjukkan inti informasinya saja. Tambahan banyak gambar menarik tidak akan membantu jika narasinya sudah telanjur buruk.

Misalnya, beberapa buku pelajaran IPS yang saya tahu menjelaskan sebab runtuhnya VOC. Penulis buku tidak membuat narasi yang menarik tentang kejatuhan VOC. Kebanyakan buku pelajaran hanya merangkum dalam beberapa poin a, b, c, d, dst yang nantinya harus dihafalkan.

Belum pernah saya menemukan narasi dalam bentuk cerita yang menarik yang bisa dinikmati informasinya daripada sekadar dihafal saja. Berbeda sekali dari buku-buku sejarah dari Jared Diamond atau Yuval Noah Harari.

Baca juga:

Beberapa buku sains juga tak kalah kacaunya. Penulis buku-buku biologi masih banyak yang malu-malu mengemukakan teori evolusi. Ketakutan mereka terlihat sekali. Beberapa malah ada yang tidak membahas sama sekali teori evolusi.

Misalnya, beberapa menyebutkan bahwa leher jerapah bertambah panjang karena makanannya berada di atas. Padahal pertambahan leher jerapah tidak bisa bertambah panjang hanya dari satu, dua generasi saja.

Buku pelajaran sains yang takut menjelaskan secara sainstifik, menyebalkan sekali, bukan? Padahal teori evolusi ini bisa sangat mudah dinikmati dan dijelaskan. Contohnya adalah buku-buku Richard Dawkins terutama “Selfish Gen”.

Guru-guru selalu mengajarkan pelajaran dari buku pelajaran. Seolah ilmu hanya bersumber dari itu. Lalu ketika membuat soal mereka mencomot informasi dari buku itu sepenggal-sepenggal dan menyembunyikan jawabannya di sana. Terpaksa semua siswa yang ingin dapat nilai bagus harus membaca dan menghafalkan isi buku pelajaran tersebut.

Buku yang buruk ditambah dengan pemaksaan yang buruk tentu tak menghasilkan apa pun selain kesan buruk ketika membaca. Tidak sedikit orang yang gagal menghapus kesan itu sampai akhir hayatnya. Mereka pun nyaris tak pernah membaca selain buku pelajaran selama hidupnya.

Saya beruntung, saya menemukan buku yang mampu membangkitkan gairah saya dalam membaca. Dari dulu saya selalu suku cerita detektif. Saat SMA, saya iseng ingin menyewa komik di tempat penyewaan buku-buku. Lalu saya menemukan buku yang cukup menarik, “The Davinci Code” karya Dan Brown. Setelah membaca sinopsis di sampul belakangnya, saya putuskan untuk membawanya pulang.

Halaman pertama isi buku yang mengatakan “Semua deskripsi karya seni, arsitektur, dokumen, dan ritus rahasia dalam novel ini adalah akurat” benar-benar membuat saya terkesan dan bergairah menyelesaikan buku yang berisi tak kurang dari 600 halaman.

Buku itu saya selesaikan kurang dari seminggu. Tentu karena saya harus sesuaikan dengan durasi sewa saya. Tapi saya sama sekali tidak tertekan dan justru menikmatinya.

Halaman selanjutnya >>>
Rachmat Hidayat
Latest posts by Rachmat Hidayat (see all)