Sekolah Tinggi, Arena Latihan Bertanggung Jawab

Sekolah Tinggi, Arena Latihan Bertanggung Jawab
Foto: IST

Siapa, sebagai tamatan SMA, meningkatkan kakinya ke tangga sekolah tinggi meneruskan pelajaran ke jurusan ilmu pilihan hati, ia merasa memasuki dunia baru. Tidak saja tingkah laku serta gelagat dan cara bergaul mahasiswa yang berbeda daripada yang dialaminya selama sebagai murid sekolah menengah, tetapi cara belajar pun berlainan sama sekali.

Apabila dahulu ia lebih banyak menghafal daripada menyelidik, sekarang ia terutama belajar mencari pengartian tentang berbagai masalah yang muncul dan mungkin muncul di alam lahir dan alam ciptaan pikiran. Lambat laun, ia paham akan perbedaan antara—apa yang disebut dalam bahasa Belanda—leren dan studeren.

Leren, belajar, dilakukan pada sekolah menengah. Jalannya ialah mengisi otak dengan berbagai macam pengetahuan. Itu diterima dari buku dan guru dengan tanpa berbantah.

Orang yang mengerjakan studi mempelajari sesuatunya untuk mengerti kedudukan masalahnya. Mencari pengetahuan tentang sesuatunya di dalam hubungan sebab dan akibatnya. Ditinjau dari jurusan yang tertentu dengan metode yang tertentu pula. Bukan menghafalkan dan menerima saja apa yang dibentangkan orang lain, melainkan memahamkannya dengan pikiran yang kritis. Keterangannya diuji benarnya di atas dua macam batu ujian: benarkah logikanya dan sesuaikah ia dengan kenyataan?

Selanjutnya, dipelajari pula perkembangan pendapat tentang sesuatu masalah. Mencari keterangan tentang apa yang menjadi sebab dan di mana letaknya perbedaan pendapat itu dari masa ke masa dan dari ahli ke ahli.

Pendek kata, orang yang mengerjakan studi menghadapi masalah ingin memperoleh keterangan. Studi inilah yang menjadi corak pelajaran pada sekolah tinggi. Pengetahuan diperoleh selangkah demi selangkah melalui berbagai perdebatan tentang duduk dan pemecahan masalahnya oleh pengasuh-pengasuh ilmu yang terkemuka.

Pada sekolah tinggi, orang menuntut ilmu tidak lagi menerima saja hasil perjuangan ilmu sebagai pengetahuan, seperti yang diajarkan pada sekolah menengah. Sekolah tinggi tidak dapat memberi pengetahuan secukup-cukupnya kepada pelajar. Ia hanya mendidik murid untuk pandai berdiri sendiri dalam mempelajari ilmu; mengajar ia mengetahui metode, cara bagaimana membahas masalah yang dihadapinya.

Lebih dari ini, tidak dapat. Tetapi kurang dari itu, tidak pula boleh diberikan oleh sekolah tinggi, yang benar-benar tinggi perguruannya. Tetapi, itulah pula bekal untuk seumur hidup bagi pelajar yang akan kembali ke dalam masyarakat setelah menempuh ujian penghabisan.

Tamat sekolah tinggi tidak berarti sudah volleerd. Diploma yang diberikan oleh sekolah tinggi hanya memuat pengakuan bahwa pemilik diploma itu dianggap cukup syaratnya untuk melakukan studi dan penyelidikan sendiri tentang berbagai masalah di alam atau masyarakat, yang termasuk ke dalam lingkungan ilmu yang dituntutnya. Diploma itu mengandung pengakuan: si pemiliknya dapat “dilepaskan” ke masyarakat untuk melakukan tugas dengan bertanggung jawab.

Dan tanggung jawab seorang akademikus adalah intelektual dan moral! Ini terbawa oleh tabiat ilmu itu sendiri, yang wujudnya mencari kebenaran dan membela kebenaran.

Mendidik Nalar Tanggung Jawab

Universitas—demikianlah tertulis dalam Rapport van de Staatscommissie tot Reorganisatie van het Hoger Onderwijs di Nederland—adalah suatu lembaga yang tumbuh di dalam sejarah. Menyatukan pekerjaan yang mempelajari ilmu kreatif dengan mendidik sarjana muda, yang karena itu kemudian dapat memperkembangkan ilmu serta pemakaiannya dalam penghidupan masyarakat.

Menurut pendapat itu, sekolah tinggi harus senantiasa insaf akan tugasnya. Pada satu pihak, ia harus memberikan sumbangan nyata dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Untuk itu, guru-guru besar hendaklah mempunyai waktu yang cukup serta dibantu oleh suatu staf ilmiah yang luas.

Pada pihak lain, sekolah tinggi harus menginsafi diri sebagai abdi masyarakat. Supaya, di dalam lingkungan, tugas membangun ilmu pengetahuan itu tidak dididik sarjana muda yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dalam hal ini, pusat perhatian harus diletakkan pada mereka yang memerlukan didikan itu guna melakukan tugasnya kemudian dalam masyarakat.

Sesuai dengan pendapat itu, diusulkan oleh komisi tersebut perumusan baru tentang tujuan Universitas atau Sekolah Tinggi. Disalin ke dalam bahasa Indonesia, begini bunyinya:

  1. Memajukan ilmu pengetahuan, termasuk mendidik serta menyediakan dasar untuk berdiri sendiri dalam mempelajari ilmu dan memangku jabatan dalam masyarakat, yang untuk itu perlu suatu pendidikan ilmiah atau berguna.
  2. Memperkuat pendidikan jiwa dan moral mahasiswa serta memperbesar rasa tanggung jawab sosialnya.

Berlainan dengan dahulu yang hanya mengemukakan apa yang tercantum dalam pasal 1 sebagai tujuan perguruan tinggi. Di sini, dikemukakan pula tugas mendidik rasa tanggung jawab sosial.

Pada peluasan ini, tergambar keyakinan yang semakin merata di masa sekarang. Bahwa universitas mempunyai peranan penting dalam menyediakan pemimpin-pemimpin yang bertanggung jawab bagi masyarakat. Dengan perubahan pandangan ini, universitas lebih dekat kepada masyarakat. Pandangan baru ini, tentang kedudukan universitas, boleh dikatakan merata seluruh Eropa Barat.

Lain sejarahnya di Amerika Serikat. Di sana, perhubungan antara universitas dan masyarakat erat sekali sejak semula. Itu sesuai dengan perkembangan perguruan tinggi di sana, yang senantiasa dibangun sebagai sendi dan pendorong kemajuan. Perhatian kaum usahawan bukan main besarnya terhadap perguruan tinggi. Sehingga universitas cepat sekali dapat berdiri sebagai badan-badan otonom.

Universitas—kata AN Whitehead—adalah sekolah untuk pendidikan dan sekolah untuk penyelidikan. Tetapi, alasan yang terutama untuk berdirinya tidak terdapat semata-mata pada menyampaikan pengetahuan kepada mahasiswa atau semata-mata memberikan kesempatan untuk mengadakan penyelidikan bagi anggota-anggota fakultas. Kedua fungsi ini dapat dilaksanakan dengan ongkos yang jauh lebih murah, terlepas dari institut yang sangat mahal itu. Buku-buku lebih murah harganya dan sistem belajar sambil bekerja sudah dikenal betul.

Dasar bagi berdirinya universitas ialah bahwa ia mengadakan jembatan antara pengetahuan dan sari penghidupan. Menyatukan yang muda dan yang tua di dalam pandangan imaginatif—yang mencipta—tentang belajar. Universitas memberikan petunjuk, tetapi petunjuk yang disertai dengan ciptaan. Sekurang-kurangnya, inilah fungsi yang seharusnya dilaksanakan untuk masyarakat.

Suatu universitas, yang tidak dapat memenuhi fungsi ini, tidak ada dasarnya untuk berdiri. Suasana yang bersemangat ini timbul dari pandangan yang mencipta, membentuk pengetahuan.

Suatu kenyataan tidaklah lagi suatu kenyataan semata-mata. Ia ditinjau dengan segala kemungkinannya. Ia tidak lagi beban pada ingatan. Ia memberi semangat sebagai penyair dari mimpi kita dan sebagai arsitek dari tujuan-tujuan kita.

AN Whitehead gusar melihat jurang yang ada dalam masyarakat antara ciptaan dan pengalaman. Yang menjadi tragedi di dunia ini—katanya—ialah bahwa mereka yang pandai mencipta sedikit pengalamannya, dan mereka yang berpengalaman lemah ciptaannya. Orang yang gila-gilaan bertindak atas ciptaan dengan tiada pengetahuan; orang yang sombong bertindak atas pengetahuan dengan tiada ciptaan. Tugas universitas ialah mempertalikan kedua-duanya: ciptaan dan pengalaman.

Itulah kenapa perhatian Whitehead sangat besar sekali akan perkembangan pendidikan pada perguruan tinggi di Amerika Serikat. Karena itu, penghidupan nasional akan banyak terpengaruh oleh tindakan-tindakan universitas. Tetapi, katanya, nilai perguruan tinggi itu jangan pula dilebih-lebihkan. At no time have universities been restricted to pure abstract learning.

Betapapun juga, univeristas dipandang sebagai sumber yang tidak berkeputusan untuk melahirkan pemimpin-pemimpin dan pekerja-pekerja yang bertanggung jawab di dalam masyarakat.

Apabila di negeri-negeri yang telah maju tertanam pendapat yang semakin lama semakin kuat, bahwa universitas harus menjadi tempat pendidikan manusia yang bertanggung jawab terhadap masyarakat, apalagi di negeri-negeri yang terbelakang di dalam kemajuan, seperti Indonesia kita ini, harapan kepada universitas tentu akan sangat besar sekali. Kadang-kadang dengan melupakan pertimbangan, apakah perguruan tinggi yang masih muda itu, yang tidak lengkap alatnya, sekarang sudah dapat melaksanakan harapan itu.

Dalam rancangan undang-undang tentang perguruan tinggi kita, yang sampai sekarang belum juga dibicarakan oleh parlemen, disebut bahwa tugas universitas ialah membentuk manusia susila dan demokratis:

  1. Mempunyai keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat Indonesia khususnya dan dunia umumnya.
  2. Cakap berdiri sendiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan.
  3. Cakap untuk memangku jabatan negeri atau pekerjaan masyarakat, yang memerlukan perguruan tinggi.

Kemudian, perguruan tinggi Indonesia harus pula dapat melakukan penyelidikan dan usaha kemajuan dalam segala lapangan ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan hidup kemasyarakatan.

Pencipta Karakter

Apabila membentuk manusia susila dan demokratis, yang insaf akan tangggung jawabnya atas kesejahteraan masyarakat menjadi tujuan utama perguruan tinggi, maka titik berat pendidikannya terletak pada pembentukan karakter, watak.

Itulah tujuan universitas atau sekolah tinggi. Ilmu dapat dipelajari oleh segala orang yang cerdas dan tajam otaknya. Akan tetapi, manusia yang berkarakter ialah cinta akan kebenaran dan berani mengatakan salah dalam menghadapi sesuatu yang tidak benar. Pendidikan ilmiah pada perguruan tinggi dapat melaksanakan pembentukan karakter itu. Karena—seperti saya katakan tadi—ilmu wujudnya mencari kebenaran dan membela kebenaran.

Sikap guru-besar yang bertanggung jawab serta cara ia mengonggokkan soalnya dan memecah masalah yang terletak di dalam lingkungan ilmunya adalah suatu sumbangan yang besar dalam pembentukan karakter itu. Juga mahasiswa sendiri harus ikut-serta mendidik dirinya sendiri, dengan berpedoman pada cinta akan kebenaran. Ia senantiasa harus melakukan kritik dan koreksi atas dirinya sendiri. Apabila semuanya ini dilakukan dengan segala keinsafan, maka rasa tanggung jawab akan tertanam di dalam dadanya.

Di alam merdeka itulah, yang menjadi karakteristik dunia perguruan tinggi, mahasiswa menemui suasana yang baik untuk memiliki sifat-sifat yang menjadi pembawaan manusia susila dan demokratis: kebenaran, keadilan, kejujuran, dan kemanusiaan.

Dan, memang, manusia susila dan demokratis ini, sebagaimana diciptakan oleh perencana undang-undang perguruan tinggi kita, dapat menginsafi tanggung jawabnya atas kesejahteraan masyarakat Indonesia khususnya dan dunia umumnya. Dan mereka pulalah yang diharapkan akan menjadi pemimpin-pemimpin yang bertanggung jawab dalam negara dan masyarakat.

Bahwa ilmu terutama maju di tangan sarjana yang berkarakter tidak dapat disangsikan lagi. Orang berkarakter tahu menghargai pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapatnya. Ia berani membela kebenaran yang telah menjadi keyakinannya terhadap siapa pun. Ia tak segan mempertahankan pendapatnya, sekalipun bertentangan dengan pendapat umum.

Tetapi, ia juga berani melepaskan sesuatu keyakinan ilmiah apabila pada suatu waktu logika yang kuat dan kenyataan yang lebih lengkap membuktikan salahnya. Hanya dengan pendirian yang kritis itulah ilmu pengetahuan dapat dimajukan.

Dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan, karakterlah yang terutama. Kurang karakter sukar memenuhinya, seperti ternyata dengan berbagai bukti di dalam sejarah.

Kecerdasan dapat dicapai dengan jalan studi oleh orang yang mempunyai karakter. Karena karakter itu pula ilmu pengetahuan dapat berjalan terus. Sarjana yang tak punya karakter mudah saja melepaskan pendapatnya karena desakan yang memaksa. Mereka akan mau saja menerima sesuatu teori yang bertentangan dengan keyakinan ilmunya karena dipaksakan dari atas.

Tak pula sedikit contoh di dalam sejarah yang membuktikann semuanya ini. Orang yang mempunyai karakter berani bertanggung jawab atas pendapatnya, dan berani pula menolak pertanggungjawaban tentang sesuatu yang tidak cocok dengan keyakinannya sendiri.

Oleh karena itu, tepat pula harapan yang tertanam di dalam jiwa rancangan undang-undang perguruan tinggi kita. Bahwa sarjana Indonesia, yang dibentuk sebagai manusia susila dan demokratis, akan cakap berdiri sendiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan. Dengan mempunyai sarjana-sarjana seperti itu, pada suatu waktu di masa mendatang, Indonesia tidak saja tahu menerima, tetapi juga menyumbangkan pendapat dan buah pikiran ilmiah yang berarti kepada dunia luar.

Tidak sukar menerkanya, bahwa semangat yang menjadi dasar rancangan undang-undang perguruan tinggi kita itu, keluar dari sumber yang dalam, yaitu ideologi negara yang terkenal sebagai Pancasila. Lima dasar yang satu sama lain genap-menggenapkan, isi-mengisi, menuju terlaksananya di dalam alam Indonesia segala yang benar, yang adil, yang baik, kebahagiaan dan kesejahteraan, diliputi oleh suasana persaudaraan.

Sarjana muda yang menamatkan studinya dalam tahun yang sudah dan sekarang akan kembali ke dalam masyarakat, tentu menyimpan dalam hatinya kenang-kenangan yang indah-indah kepada almamater-nya, ibu yang menyuapi. Tinggallah dunia yang ganjil dan ajaib itu dengan gelagatnya sendiri, kembali ke dalam dunia penghidupan sehari-hari dengan pandangan yang baru. Alam persiapan ditinggalkan, alam bertugas dimasuki.

Di antara kenang-kenangan yang indah-indah itu, terguris pula hendaknya di dalam jiwa untuk selama-lamanya: latihan bertanggung jawab yang dialami, dengan bersusah payah.

Memang, dengan bersusah payah! Dalam bersusah payah itulah terletak keindahan hidup. Bukankah pujangga besar Max Weber yang mengatakan: Tidak ada yang lebih bernilai bagi manusia sebagai manusia daripada apa yang dapat dibuatnya dengan bersusah payah.

*Bagian I pidato Mohammad Hatta di Hari Alumni I Universitas Indonesia, 11 Juni 1957

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Mohammad Hatta (see all)