Seks Bebas Remaja; Perspektif Metafisika Cinta Arthur Schopenhauer

Seks Bebas Remaja; Perspektif Metafisika Cinta Arthur Schopenhauer
©Kompas Lifestyle

Dewasa ini, seks bebas telah menjadi masalah kronis remaja di Indonesia. Dari hari ke hari, selalu saja ada pemberitaan tentang kasus seks bebas yang selalu menyeret keterlibatan remaja di dalamnya. Pemberitaan menunjukkan bahwa kasus seks bebas dapat melibatkan remaja dengan remaja juga remaja dengan orang dewasa.

Sebelum kita bertolak ke tempat yang lebih dalam, terlebih dahulu marilah kita membahas secara singkat apa itu seks bebas dan siapa itu remaja.

Apa Itu Seks Bebas

Secara sederhana, seks bebas dapat mengacu pada beberapa hal berikut: 1. Persetubuhan di luar nikah, dan 2. Hubungan seksual melalui prostitusi. Definisi ini turut memberi pengertian bahwa seks bebas merupakan tindakan persetubuhan yang tidak seharusnya dilakukan. Karena menyalahi norma serta adat istiadat yang berlaku secara umum di masyarakat.

Dengan kata lain, seks bebas dapat diartikan sebagai tindakan seks yang tidak aman. Ia hanya akan membawa dampak negatif pada pelakunya.

Seks bebas sendiri mengandaikan bahwa dalam melakukan hubungan seks, besar kemungkinan terjadi gonta-ganti pasangan atau kegiatan seks yang dilakukan dengan lebih dari satu pasangan.

Selain itu, bila dilihat dari tujuannya, kegiatan seks yang dilakukan seperti ini tidak berlandaskan komitmen dan motivasi dari kedua pasangan untuk membangun sebuah hubungan keluarga yang baik. Tetapi dilakukan dengan tujuan semata-mata untuk pemenuhan nafsu yang tak terkendali. Termasuk ke dalamnya seks dalam pacaran (seks pranikah), cinta satu malam, prostitusi, atau bertukar pasangan dengan pasangan lain (swinging).

Siapa Itu Remaja

Kata “remaja” berasal dari bahasa latin, yaitu adolescere yang berati to grow atau to grow maturity. Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Umumnya dimulai usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun (Maksimus Manu, 2018).

Selain itu, dalam bukunya Psikologi Perkembangan Memahami Perkembangan Manusia, Maksimus menjelaskan bahwa dahulu patokan usia remaja yang ditandai dengan tanda-tanda pubertas 15-18 tahun. Kini bahkan terjadi pada usia sebelum 11 tahun.

Metafisika Cinta Arthur Schopenhauer

Dalam buku Filsafat Manusia Memahami Manusia melalui Filsafat, pada bagian penjelasan tentang “Kehendak Buta: Filsafat Arthur Schopenhauer”, secara khusus urainya tentang kehendak sebagai kejahatan, Zainal Abidin memaparkan konsep tentang metafisika cinta. “Metafisika cinta” menjelaskan, hukum daya tarik seksual adalah bahwa pemilihan pasangan hidup sebagian besar ditentukan oleh kecocokan di antara orang yang berpasangan untuk beranak pinak (Zainal Abidin, 2009).

Berdasarkan definisi hukum daya tarik seksual, dapat kita lihat bahwa kecocokan yang dimaksudkan ialah menyangkut kematangan dalam pengambilan keputusan yang bijak untuk menentukan pasangan yang hendak dipilih. Kecocokan juga mengandaikan bahwa adanya hubungan timbal balik antar-pasangan. Kedua pasangan telah memutuskan untuk saling mencintai, dapat saling melengkapi satu sama lain. Dalam artian, saling melengkapi segala kelebihan dan kekurangan yang ada.

Menurut Schopenhauer, kecocokan berawal dari rasa kagum seorang kepada orang lain. Maka dengan jelas ia mengatakan bahwa setiap orang secara khusus mengagumi keindahan orang lain (yakni, pasangannya) yang ia sendiri tidak miliki (Zainal Abidin, 2009).

Seks Bebas pada Remaja

Dewasa ini, problem seks bebas pada remaja begitu marak terjadi. Peningkatan kasusnya juga tidak terlepas dari dampak dan pengaruh perkembangan globalisasi yang tak dapat difilter dengan baik oleh remaja. Maka tidak heran kalau kasus prostitusi online pun turut menyeret para remaja.

Contoh keterlibatan remaja dalam kasus prostitusi online, seperti yang diberitakan TribunManado.co.id, 5 Februari 2020. Bahwa Kabid Humas Polda berhasil mengungkapkan kasus perdagangan terhadap anak di bawah umur secara online melalui aplikasi chat. Dengan rincian 13 orang laki-laki dan 7 orang perempuan yang masih di bawah umur.

Baca juga:

Selain contoh kasus prostitusi yang melibatkan remaja di atas, harus pula kita akui bahwa masih ada begitu banyak kasus seks bebas antar-remaja dalam masyarakat kita. Kasus-kasus itu di antaranya terjadi ketika remaja masih dalam masa pacaran (seks pranikah) atau cinta satu malam serta bertukar pasangan dengan pasangan lain (swinging).

Melalui kasus-kasus ini, dapat kita simak bahwa kasus seks bebas pada remaja ini tidak dibangun berdasarkan kematangan dan kedewasaan. Atau, kesiapan diri dari pasangan untuk menjadi sosok ayah dan ibu yang siap merawat buah hati. Melainkan semata-mata terjadi sebagai bentuk pemuasan hasrat atas keinginan nafsu yang tak terkendali.

Jadi, tidaklah heran kalau kemudian sebagian besar kasus-kasus ini berujung pada kesenjangan sosial antar-keluarga/ Hal ini dikarenakan adanya ketidaksiapan dari pihak keluarga juga pasangan remaja sendiri. Dampak negatif lain ialah remaja akan mengalami tekanan psike. Entah itu penghakiman terhadap diri sendiri juga penghakiman sosial yang bagaimanapun akan dirasakan. Sampai di sini, remaja membutuhkan perhatian.

Relevansi Metafisika Cinta terhadap Problem Seks Bebas pada Remaja

Berdasarkan pengalaman konkret dalam hidup bermasyarakat, maka benar bahwa dalam banyak kasus, jatuh cinta bukanlah masalah hubungan cinta timbal-balik antara dua manusia. Masalah pokoknya adalah adanya keinginan untuk memiliki apa yang tidak mereka punyai (Zainal Abidin, 2009).

Hal ini mengartikan bahwa problem seks bebas pada remaja menyinyalir bahwa remaja semata-mata didominasi oleh hasrat untuk memiliki sesuatu yang di luar dari dirinya. Hasrat ini mengarah pada ciri-ciri biologis dari pasangannya. Tanpa dibarengi kesiapan, kematangan, serta kesadaran untuk saling mencintai dan melengkapi.

Selain itu, problem seks bebas yang terjadi pada remaja juga menunjukkan dengan jelas. Bahwa hubungan yang dibangun oleh para remaja merupakan hubungan yang menghindari pencarian keturunan. Mereka semata-mata terobsesi serta terorientasi pada pemenuhan kesenangan dan pemuasan individu.

Mengutip pepatah Spayol sebagaimana yang ditulis Zainal Abidin, “Ia yang kawin karena cinta pasti hidup menderita.” Sepintas, pepatah ini sangat problematis. Namun bila ditelisik secara integral, maka akan kita temukan relevansi.

Perlu adanya penanaman kesadaran dalam diri para remaja berupa pendidikan seks, perhatian, dan pendidikan dalam kaitan dengan kepercayaan yang hidup dalam masyarakat. Perhatian pada nilai religiositas pun harus diberi arti secara baik dan benar kepada remaja. Semisal, sejak kecil kita telah diajarkan untuk hidup supaya berbahagia.

Baca juga:

Kendati demikian, tak ada satupun patokan kebahagian yang secara esensial, objektif, dan universal dipakai, diakui, dan diterima secara umum. Karena pada dasarnya kita selalu dikuasai oleh rasa tidak puas.

Siklus itu kemudian mengantar kita pada pemenuhan pemahaman dam makna terdalam dari bahagia itu sendiri. Jadi sebenarnya kebahagiaan bukanlah apa yang kita miliki atau apa yang ada di luar dari diri kita. Kebahagiaan adalah apa yang ada dalam pikiran kita.

Bila perspektif tentang kebahagiaan dikaitkan dengan kenikmatan yang tidak lain dan tidak bukan merupakan produk dan orientasi dari problem seks bebas pada remaja, maka kita akan menemukan keterkaitannya. Jelas bahwa kebahagiaan selalu menghasilkan kenikmatan. Namun bila kita terlebih dahulu berangkat dari perspektif kenikmatan dalam problem seks bebas pada remaja, maka akan  menemukan makna ganda.

Pertama, kenikmatan juga dapat merupakan kebahagiaan. Identik dengan kebebasan batin. Tetapi kenikmatan juga dapat menyangkut kesenangan. Kesenangan identik dengan tujuan dari hidup hedonis, mengarah pada perilaku foya-foya dan asal terpuaskan serta mengesampingkan kebebasan batin. Jadi, bila terlebih dahulu berangkat dari definisi serta orientasi tentang kenikmatan, problem seks bebas pada remaja mendapat rahimnya.

Maka dari itu, sebagai bentuk retrospeksi terhadap problem seks bebas, penanaman pemahaman nilai-nilai kebudayaan, pengajaran dan keberakaran dalam penghayatan hidup religiositas serta spiritual juga harus getol dijalankan. Itu agar terjadi keseimbangan pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan seks dan pengalaman hidup harian di masyarakat.