Selamanya Agama (Islam) bukan Pengusung Kekerasan dan Terorisme

Selamanya Agama (Islam) bukan Pengusung Kekerasan dan Terorisme
Ilustrasi: Steemit

Banyak yang menduga, kebiadaban teroris di Mako Brimob Jakarta, Surabaya, Sidoarjo, dan Pekanbaru dalam beberapa pekan yang lalu sebagai suatu gerakan menjelekkan citra Islam sebagai agama pengusung kekerasan dan terorisme. Tetapi, para penduga tersebut tidak bisa secara jelas menunjukkan siapakah mereka. Hal ini wajar, karena banyak faktor yang memengaruhi mereka tidak berani menjelaskan apa yang mereka maksud.

Tapi, sebelum ada yang menjawab pertanyaan misteri yang mereka ungkapkan itu, terlebih dulu saya harus jujur menyampaikan dua fakta, yang sebenarnya fakta ini sudah menjadi rahasia umum dan tidak bisa dipungkiri kebenarannya. Pertama, para pelaku teror di tiga lokasi itu semuanya adalah muslim. Dan kedua, di dalam Islam, perilaku kekerasan dan terorisme itu sama sekali tidak diajarkan.

Kenyataan yang pertama sama sekali tidak bisa dilawan dengan anggapan sembrono bahwa para pelaku teror dianggap tidak beragama. Jika hal ini kita paksakan, maka sama pula menampakkan ketidakjujuran kita, yang tidak mau menerima fakta bahwa memang mereka muslim, mereka salat, mereka menjalankan syariat, sama dengan kita, sehingga menegasikan status primordial keagamaan mereka. Saya kira, fakta ini tidak bisa dihapus oleh argumentasi perlawanan lainnya.

Yang menjadi pokok kericuhan, bahwa mereka muslim tapi mereka merusak, membunuh dan menebar teror ketakutan bagi banyak orang. Dan hal ini haruslah menjadi pemahaman dan penegasan kita, jika perilaku yang seperti itu sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam yang adiluhung. Bahkan, boleh dibilang, di semua ajaran agama apa pun, semua bentuk terorisme sama sekali tidak diajarkan. Karena memang bukan pesan suci agama.

Oleh karena itu, kenyataan yang pertama tentang status kemusliman mereka, namun meneror banyak orang, mendapatkan bantahan dengan sendirinya dari kenyataan kedua. Yang menjelaskan lagi bahwa praktik kebiadaban tersebut benar-benar mencederai ajaran Islam atau semua agama itu sendiri. Sehingga bisa dipastikan mereka salah dalam beragama, mereka salah dalam memahami ajaran Islam yang sebetulnya rahmatan lil alamin, bukan pengusung kekerasan.

Dari penjelasan dan bantahan ini, seyogianya ketakutan atau anggapan bahwa ada pihak-pihak yang ingin mencederai nama harum Islam, bisa terbantahkan dengan sendirinya. Sebab, bagi semua masyarakat yang meyakini kesucian setiap agama, akan dengan sendirinya menyadari bahwa Islam adalah sama dengan mereka: tidak menolerir pembunuhan, perusakan, dan penghancuran. Sehingga, diktum jihad para pelaku teroris dengan cara mengebom dan membunuh orang-orang yang tak berdosa terbantahkan pula dengan sendirinya.

Adanya beberapa orang yang kemudian prejudice atas tragedi biadab tersebut, lalu menganggap Islam sebagai agama teror, pengusung kekerasan, saya kira ini respons kecil yang tidak bisa dihindari. Ada aksi, maka akan ada reaksi. Ada kejadian, maka akan ada respons. Hal ini hukum alamiah belaka yang lumrah terjadi.

Bahkan bisa dianggap, inilah getah yang harus kita tanggung, sebagai muslim, akibat ulah saudara kita yang salah jalan dan pemahaman. Getah ini tidak bisa kita lihat terus-terusan. Getah ini harus segera kita bersihkan. Dengan cara dan upaya menyampaikan bahwa Islam tidaklah seperti itu. Islam adalah agama damai, yang menyebarkan kerahmatan bagi seluruh alam, selama-lamanya.

Lihat juga: Bangkitnya Sel-Sel Tidur Teroris

Tugas bersih-bersih ini tentulah bukan pekerjaan yang singkat. Kita butuh banyak waktu dan kesabaran. Kita pula butuh banyak dialog dengan penganut agama lain, yang di dalamnya ada penjelasan dari kita tentang sisi humanisme Islam yang memang menjadi ajaran atau dogma. Adanya penjelasan silang tentu akan mengurangi beban bersih-bersih getah tersebut.

Apakah kita perlu sakit hati dan marah atas ulah para penganggap bahwa Islam agama teroris? Buat apa kita marah dan sakit hati? Toh kemarahan atau sakit hati kita tidak lantas mengubah keyakinan mereka untuk segera berubah pandangan; dari menganggap Islam sebagai agama teroris, pengusung kekerasan, menjadi Islam sebagai agama rahmatan lil alamin.

Malah ini bisa menjadi tantangan kita, yang menauladani cara dakwah Rasulullah, yang dilakukan secara bertahap, penuh kesabaran, dan menggunakan cara yang brilian, menjelaskan kepada khalayak ramai tentang sejatinya Islam itu sendiri, yang lemah lembut dan penuh kasih sayang, bukan pengusung kekerasan.

Ada sebuah kisah menarik tentang cara dakwah dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang yang jauh dari karakter kekerasan bahkan terorisme, yang dijalankan Imam Yazid al-Busthami. Suatu ketika sang imam sufi termasyhur hingga sekarang ini ingin membebaskan seorang pelacur dari belenggu pelacuran. Sang imam pun sudah membidik salah satu pelacur yang akan berusaha ia bebaskan. Sebutlah namanya fulanah.

Datanglah Imam Yazid al-Busthami di sebuah rumah bordir. Dengan jubah sufi yang selama ini kerap beliau pakai, beliau pun duduk diam di depan rumah bordir itu. Tepat di samping pintu masuk. Sontak, adanya beliau tersebut, membuat banyak lelaki hidung belang yang ingin menyewa para pelacur, membatalkan diri masuk ke rumah pelacuran itu. Mereka sungkan, karena ada imam besar yang mereka hormati, ada di situ, di samping pintu.

Hal itu membuat para pelacur menjadi bertanya-tanya. Biasanya dalam satu malam mereka semua bisa melayani banyak lelaki. Tetapi malam itu, seorang pun tidak ada yang menyewa, bahkan masuk pun tidak.

Begitu pula yang dirasakan oleh fulanah. Dia merasa aneh, janggal, karena tidak ada satu lelaki pun memadu nikmat dengannya.

Lihat juga: Gara-Gara Teroris, Nalar Pemerintah Jadi Tak Waras

Karena dirasa perlu mengetahui jawabannya, maka fulanah ini menyuruh pembantu rumah pelacuran itu untuk keluar. Mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi. Setelah ia keluar, barulah ia terkejut dan menyampaikan kepada fulanah bahwa di luar ada Imam Yazid al-Bushtami duduk di pinggir pintu. Beliau ingin menemui fulanah.

Fulanah itu kemudian memperbolehkan sang imam menemuinya, memasuki kamar. Fulanah menanyakan apa yang diinginkan sang imam. Sang imam pun menanyakan berapa tarif menyewa jasanya. Fulanah menjawabnya 100 dinar. Kemudian sang imam pun melunasinya. Seketika itu fulanah membebaskan apa saja yang diperintahkan sang imam, karena ia sudah jadi budaknya.

“Baiklah, kalau begitu—sambil melepas jubah sufinya—pakailah jubah ini.”

“Untuk apa, tuan?”

“Pokoknya pakai saja, sesuai perintahku.”

Sejurus kemudian, pelacur fulanah itu memakai jubah sang imam. Saat jubah dipakainya, sang imam pun menengadahkan tangannya, seraya berdoa.

“Wahai Tuhan, Engkau telah memperbaiki penampilan zahirnya, maka perbaikilah batinnya.”

Mendengar doa tulus dari sang imam itu, pelacur fulanah itupun menangis. Ia menyadari dosa-dosanya. Dan kemudian bertobat, melepaskan diri dari kebiasaan melacurnya.

Beberapa masa kemudian, diketahui, ia menjadi wali perempuan, atau waliyah. Seandainya sang imam sufi memakai cara kekerasan bahkan teror, lalu merusak tempat pelacuran itu, niscaya ending-nya tidak akan seperti itu.

Tauladan Imam Yazid yang berdakwah nirkekerasan bahkan terorisme tersebut dapat dijadikan semangat untuk berupaya menunjukkan kelemahlembutan ajaran Islam. Dan di sinilah sebenarnya titik temu yang harus kita padukan.

Bolehlah kita terbelah dalam aspirasi politik, tapi jangan untuk persoalan genting ini. Sebab yang nyata kita lihat hari ini, pihak yang berwenang, dalam hal ini kepolisian, memang butuh banyak dukungan dari warga bangsa. Dukungan itu sendiri dapat kita wujudkan dengan bersama-sama bersatu padu, menjelaskan kepada umat agama lain tentang sejatinya Islam bukan agama pengusung kekerasan.

Kalau upaya kerja keras ini benar-benar kita lakukan, maka niscaya kedamaian akan menyebar. Para penuduh Islam sebagai agama teroris pun lambat laun akan menyadari tentang kesalahan mereka. Namun, sekali lagi, ini semua perlu peran serta dan kerja positif kita bersama.

___________________

Artikel Terkait: