Selamat Datang di Realitas

Selamat Datang di Realitas
┬ęDeepublish

Hari ini kita menyambut datangnya realitas di mana mahasiswa tidak lagi peka dengan keadaan sosial.

Bagi generasi zaman old, perjuangan saat menjadi seorang mahasiswa bukan hanya perjuangan untuk bertahan di sebuah kampus agar tidak di-drop out (DO). Melainkan perjuangan yang dilakukan benar-benar menjadi titik balik besarnya nama mahasiswa saat ini.

Terbukti dengan gerakan perjuangan mahasiswa mampu mengubah tatanan sosial di masyarakat. Hal itu merupakan bagian dari esensi seorang mahasiswa yang menamai dirinya agent of change.

Seperti yang dikatakan oleh Eko Prasetyo, mahasiswa merupakan benteng pertahanan sipil yang memiliki kekuatan besar, yang siapa pun tidak mampu meruntuhkannya. Hal itu dibuktikan dengan tumbangnya rezim orde baru, yang dilakukan oleh mahasiswa untuk menggantikan rezim otoriter yang tidak memberikan hak demokrasi kepada seluruh rakyat Indonesia.

Demikianlah seharusnya mahasiswa. Ada yang mengatakan bahwa mahasiswa hari ini sedang tertidur pulas diakibatkan terlena dengan keadaan kampus yang makin meninabobokan mahasiswa. Jarang lagi kita temui adanya lingkaran-lingkaran diskusi mahasiswa yang membahas persoalan negeri ini.

Kisah heroik mahasiswa di tahun 98 hanya mampu dijadikan sebagai pemanis dalam pengantar diskusi agar dianggap cerdas dan visioner. Mahasiswa dibelenggu dengan sistem. Dosen yang mengajar hanya sekadar menggiurkan kewajiban.

Mahasiswa yang memiliki nilai tinggi dianggap cerdas. Mahasiswa yang mengikuti organisasi dicap tidak baik dan tidak bisa menjadi apa-apa. Padahal para pemimpin negeri ini, banyak yang terlahir dari dunia organisasi dan menjadi aktivis.

Namun sangat disayangkan, hari ini kita menyambut datangnya realitas di mana mahasiswa tidak lagi peka dengan keadaan sosial, menjadi cerdas di dalam kelas menjadi tujuan utama, dan menjadi masa bodoh dilingkungan masyarakat.

Padahal jika kita mengaitkan dengan hadis, Nabi mengatakan jadilah manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya. Hal demikian bukanlah hanya sekadar perkataan Nabi, melainkan itu perintah yang relevan dengan keadaan saat ini.

Mahasiswa Apatis

Seringnya mahasiswa absen dalam peran penting mengawal kebijakan penguasa menjadikan mahasiswa ataupun anak-anak organisatoris tidak lagi memiliki taring yang kuat. Akibat banyaknya yang tidak peduli dengan keadaan sosial, membuat mahasiswa hanya menjadi seonggok manusia yang memperpanjang barisan pembodohan.

Sekali lagi saya katakan, seorang mahasiswa bukan hanya kuliah semata, melainkan ada tanggung jawab moral yang harus dilakukan untuk kesejahteraan rakyat. Sebab tidak ada masyarakat ilmiah yang mampu menggerakkan masyarakat di akar rumput, selain dari mahasiswa. Jadi mahasiswa jangan hanya perbanyak main game, main tiktok, rebahan, dan sebagainya.

Baca juga:

Begitu pun sebagai anak organisasi, jangan menjadikan organisasi hanya tempat penitipan nama. Menjadikan organisasi bagian dari mencari kawan yang hanya diajak bermain dan bercanda semata.

Seyogianya seorang organisatoris harus selalu membicarakan konsep gerakan agar bisa direalisasikan di masyarakat. Ketidakpedulian kita terhadap realitas sosial akan berdampak kepada kebijakan pemerintah yang nantinya tidak akan menguntungkan masyarakat.

Contoh kasus saat ini, kebijakan pemerintah yang akan mengambil PPN pendidikan dan sembako, seharusnya mahasiswa atau anak organisasi perlu melakukan gerakan advokasi terhadap isu ini. Karena ini berkaitan dengan realitas yang menyulitkan masyarakat.

Namun sayang, sepertinya mahasiswa saat ini, selalu berakhir dengan keapatisan yang didukung dengan keadaan yang meninabobokan gerakan tersebut. Apakah kita hanya akan tinggal diam, dengan masih memengang label sebagai mahasiswa? Seharusnya ini tidak lsgi menjsdi persoalan. Tapi inilah realitas, selamat datang di realitas mahasiswa saat ini.

Gerakan Pembaruan Mahasiswa

Melihat keadaan ini, seharusnya kelompok mahasiswa yang masih memiliki idealisme harus mampu membuat perubahan di tubuh mahasiswa sendiri. Akibat perkembangan zaman teknologi, dan didukung dengan apatisnya keadaan mahasiswa menjadikan gerakan mahasiswa hanya berakhir pada diskusi yang materialistik.

Tak jarang gerakan mahasiswa saat ini dijadikan sebagai gerakan penjemputan finansial yang menguntungkan segelintir orang. Hal demikian menjadi realitas yang nyata kita temukan di kampus-kampus. Sehingga gerakan pembaruan harus dilakukan untuk menolong mahasiswa yang sebentar lagi tidur sepanjang masa.

Gerakan pembaruan itu bisa dilakukan dengan memurnikan ideologi gerakan mahasiswa yang tidak terkontaminasi dengan paham-paham lain. Tugas dari pengambil kebijakan dalam tubuh mahasiswa, baik presiden mahasiswa maupun ketua dari lembaga kepemudaan, untuk membina secara intens ideologi gerakan mahasiswa agar kembali mengambil peran di setiap kebijakan yang dianggap tidak pro dengan rakyat kecil.

Dan yang utama ialah komitmen dan konsistensi seluruh komponen mahasiswa yang menganggap dirinya sebagai mahasiswa agent of change.

    Asman