Selamat Jalan, Mas Dawam Rahardjo

Selamat Jalan, Mas Dawam Rahardjo
Foto: fb/saidiman.ahmad

Nalar Warga Aku mengenal Mas Dawam Rahardjo melalui buku Pergolakan Pemikiran Islam, catatan harian Ahmad Wahib. Di awal kuliah di jurusan Aqidah Filsafat, IAIN/UIN Jakarta, buku itu perlu dibaca. Saya lupa kapan persisnya bertemu muka langsung dengannya. Mungkin di salah satu seminar di kampus atau di sebuah diskusi JIL (Jaringan Islam Liberal) di Utan Kayu.

Yang saya ingat, pertemuan dengan Mas Dawam kemudian terjadi di banyak tempat: ruang diskusi, seminar, dan di tengah demonstrasi. Foto di atas, kalau tidak salah, adalah aksi demonstrasi pertama Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di depan Mabes Polri setelah kampus Mubarak JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia) diserang di Parung tahun 2005.

Pertemuan dengan Mas Dawam menjadi sangat intens, tentu saja, ketika saya bergabung dengan Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) tahun 2006. Di tempat ini, saya saksikan Mas Dawam beraktivitas persis seperti yang selama ini saya dengar dari para sahabat dan murid-muridnya. Dia adalah seorang pencari ilmu yang gigih. Setiap hari kantor diisi dengan percakapan tentang pikiran dan perjuangan.

Mas Dawam sangat terganggu dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia yang mengharamkan sekularisme, liberalisme, dan pluralisme. Dia ingin melawan fatwa itu. Dari situ kemudian muncul gagasan untuk menggali pandangan para tokoh intelektual Muslim Indonesia tentang tiga tema tersebut. Dari situ kemudian lahir dua jilid buku tebal Membela Kebebasan Beragama: Percakapan tentang Sekularisme, Liberalisme, dan Pluralisme.

Percakapan-percakapan dengan Mas Dawam selalu menarik. Semua yang ia sampaikan berangkat dari pertanyaan. Ia ingin menyelesaikan suatu perkara secara serius. Ia tambahkan referensi pada percakapan. Setiap saat ia perlu berhenti untuk sekadar mengingat-ingat di buku mana teori yang ia rujuk.

Saya usul pada Mas Dawam agar percakapan-percakapan sore, siang, dan pagi itu direkam atau setidaknya dicatat agar bisa ditulis secara lebih sistematis. Dia setuju. Mulailah saya mencatat dan kemudian menuliskan percakapan saya dengan Mas Dawam. Satu atau dua hasil percakapan itu kemudian terbit di Kompas dan koran lain.

Selain berdiskusi, aktivitas lain Mas Dawam di LSAF tentu saja adalah membaca. Setiap hari dia membaca. Di depan mejanya, buku bertumpuk-tumpuk. Dia membaca buku apa saja. Minatnya sangat luas: agama, ekonomi, politik, filsafat, sastra, dan mungkin juga hal-hal lain yang saya tidak tahu.

Karena itu, berbicara dengannya bisa dimulai dari mana saja. Dia bukan tipe intelektual yang selektif memilah-milah bahan bacaan. Dia seolah ingin membaca semua buku yang diterbitkan.

Mas Dawam memiliki dua kategori untuk sebuah tulisan: bagus banget dan buruk sekali. Tapi untuk karya buku, dia ingin baca semua, termasuk buku-buku baru dari penulis yang menurut saya hanya akan menyia-nyiakan umur untuk membacanya. Tapi Mas Dawam tidak begitu. Dia baca semua.

Yang mengesankan adalah bahwa gairah membaca semua buku itu dilakukannya dengan penderitaan. Penglihatannya bermasalah. Dia membaca dengan kaca pembesar. Di atas buku yang sedang dia baca, ada kaca pembesar. Demikian pula jika dia ingin menulis, font tulisan di komputer dibuat sangat besar.

Pada beberapa kesempatan saya berinisiatif untuk membacakan pada Mas Dawam buku yang sedang dia baca. Kadang-kadang buku itu saya bawa pulang. Saya rekam di kotsan. Esoknya rekaman itu dia dengarkan. Rekaman-rekaman itu menjadi lebih berguna ketika Mas Dawam beberapa kali masuk rumah sakit. Duh, Mas Dawam. Maafkan kami.

Suatu hari, Mas Dawam tiba-tiba ingin kembali menulis sastra. Saya kira itu terjadi di rumah sakit Medistra. Dia diktekan cerpen-cerpen yang ingin dia tuliskan. Kalau tidak salah ada sembilan cerpen yang berhasil ditulis dengan cara itu. Setelah ini saya akan mencari filenya, semoga masih ada.

Salah satu ciri cerpen Mas Dawam adalah cerita yang diangkatnya beririsan secara intens dengan kehidupan nyata yang sedang ia alami. Nama-nama tokoh ia ambil dari nama orang-orang yang hidup di sekelilingnya disertai dengan karakter dan profil yang sangat mirip.

Berkali-kali saya terkecoh menganggap ceritanya itu adalah curhatan pribadi soal peristiwa nyata, ternyata hanya rekaaan. Dia menulis cerpen soal perjuangan Neng Dara Affiah. Cerpennya yang berlatar belakang Cina memasukkan nama dan karakter anaknya sendiri. Demikian pula dengan cerpennya yang lain.

Mas Dawam adalah seorang guru dan sahabat sekaligus. Kami memanggilnya Mas, walaupun secara umum dia pantas kami panggil Ayah atau Kakek. Kadang-kadang kami menyebutnya MDR (Mas Dawam Rahardjo).

Dia bukan tipe intelektual senior yang membatasi pergaulan. Semua orang diajak bertukar-pikiran. Itulah yang menyebabkan Mas Dawam memiliki banyak sekali murid. Dia mengkader siapa saja. Saya bersyukur pernah belajar langsung padanya.

Selamat jalan, Mas Dawam Rahardjo. Terima kasih atas pelajaran, inspirasi, semangat, dan pengaruh yang demikian besar pada diri saya dan juga pada murid-muridmu yang lain. Kami akan menyusulmu, Mas.

*Saidiman Ahmad

___________________

Artikel Terkait:
Warganet
Latest posts by Warganet (see all)