Selamat Jalan, Nawal Saadawi

Selamat Jalan, Nawal Saadawi
©ABC

Dalam sebuah wawancara dengan kolumnis New York Times, Nicholas Cristof dan Adam Ellick, Nawal El Saadawi menyatakan, “Religion cannot work in politics. It’s against democracy. The concept of religion is dictatorship, obedience.”

Menyaksikan secara langsung bagaimana agama dipraktikkan secara buruk melalui pembungkaman suara berbeda, mutilasi genital, indoktrinasi anak, pembodohan, poligami, dan kediktatoran membuat perlawanan pada agama juga semakin kuat.

Irshad Manji, feminist muslim, pernah mengungkapkan bahwa dia bisa menjadi muslim karena hidup di Canada, sebuah negara demokratis di mana agama muncul dengan wajah yang lebih ramah dan humanis. Kalau dia hidup di Pakistan atau negara muslim lain, kemungkinan dia akan jadi ateis.

Sebab, di sana, agama muncul dalam wajah yang mengancam dan menakutkan. Orientasi seksualnya akan dipersoalkan dan bisa jadi membawanya masuk ke dalam penjara atau dipersekusi di jalanan.

Pada Saadawi, pengalaman buruk dengan otoritas bukan hanya dari agama, tapi juga kelompok sekuler. Karena itu, dia cenderung curiga pada semua otoritas dan dalih apa pun yang akan merenggut kebebasan dan keadilan.

Dia menyatakan: “The written word for me became an act of rebellion against injustice exercised in the name of religion, or morals, or love.”

Selamat jalan, Nawal Saadawi.

Saidiman Ahmad
Latest posts by Saidiman Ahmad (see all)