Selamatkan Alam Kita, Bisa?

Selamatkan Alam Kita, Bisa?
Ilustrasi: Odyssey

Diakui atau tidak, keberadaan alam kita (the universe) di antero dunia hingga saat ini mungkin sudah tidak nyaman. Alam seakan tidak mau acuh, marah, bahkan muak, serta tidak mau bersahabat dan ramah bagi keberlangsungan hidup manusia. Ini tidak lain kecintaan kita terhadap lingkungan sudah mulai mengkarat; tidak mau peduli untuk menjaga, merawat, dan memperkuat stabilitas alam raya agar terjaga dari macam bencana alam yang kerap menghantui di pelbagai negeri.

Kita telah banyak mendengar, memahami, menghayati sembari menelan ludah, bahkan terheran dengan mata terbelalak melihat macam bencana alam kita yang bertubi-tubi menerpa di sudut-sudut negeri. Mulai terjadinya tanah longsor, banjir yang tidak dapat diperkirakan, ulah para penebang pohon (illegal logging), pembakaran hutan yang tidak terhitung jumlahnya, pencemaran lingkungan dari imbah serta sampah perusahaan ke sungai maupun di pantai, yang tentunya pola pikir kaum kapital berperan dalam mengusung model industrialisasi yang liberal-kapitalistik. Sehingga kalangan minoritas hanya merana, hati miris, entah sampai kapan bumi ini terlepas dari ragam kepentingan, yang tanpa peduli akan ketenangan dan kenyamanan mayoritas umat manusia.

Belum lagi, jika kita dulu melihat berhektar luas sawah-sawah yang dapat menyuburkan para petani, kini rata sejak pesatnya pembangunan gedung-gedung mewah berjejalan. Semua membuat suasana natural berubah menjadi magnet kapitalisasi modern serta hedonisme global. Siapa saja bisa akan gelap mata untuk halalkan segala cara.

Apalagi sejak keberadaan rumah kaca di pelbagai perkotaan yang kian tumbuh bahkan pesat, yang memperparah dampak buruk pada tergerusnya Ozon (03) yang merupakan lapisan bumi yang terdapat zat kimia di lapisan angkasa yang menyerap pancaran sinar ultraviolet dari matahari, begitu juga agar manusia tidak tersengat langsung dengan matahari. Jika lambat laun dampak pemanasan global sudah tidak ditindak-lanjuti dari sekarang, maka jangan heran jika ancaman besar menimpa keselamatan dan kesempatan generasi hidup manusia di bumi ini.

Apakah manusia akan tetap tersekat dengan nada yang tertuang di dalam Alquran yang menyudutkan manusia atas kerusakan langit dan bumi diakibatkan tangan-tangan jahil, sengaja membuat ketidaknormalan terhadap ekosistem alam (environment)?

Meminjam ulasan Dr. Abu Yasid, LL.M., (2005), yang menjelaskan bahwa pada hakikatnya alam semesta beserta isinya, bagaimanapun keadaannya, konkret maupun abstrak, adalah fasilitas untuk mencapai kesejahteraan umat manusia (kodrat). Tak pelak, bagaimanapun alam diciptakan untuk selalu memberikan yang terbaik buat keberlangsungan hidup manusia. Darinya manusia memperoleh makan, minum perlindungan, keselamatan dan mata pencaharian kehidupan.

Lain halnya jika meminjam ungkapan seorang pecinta lingkungan, Aldo Leopold, bahwa kualitas keberlangsungan hidup manusia (social or individualism) dapat dipastikan bagaimana menjaga lingkungan serta merawatnya. Antara lingkungan dan manusia tidak dapat dilepaskan. Manusia pasti memiliki hubungan erat terhadap lingkungan (hablum minal-bi’ah).

Sejatinya, sejak ditetapkannya dan diperingati hari lingkungan hidup secara internasional yang serentak dirayakan setiap tanggal 5 Juni bukan hanya direfleksikan, bukan juga sebagai bentuk pengakuan dalam kongres PBB atas deklarasi hari lingkungan se-dunia, melainkan sebagai ajang kesadaran global bagi kita di muka bumi.

Betapapun persoalan pelestarian bukan jawaban yang kuat untuk mengkokohkan alam kita dari serangan hama manusia yang tidak memberikan keuntungan untuk sesamanya. Oleh karena itu, menguatkan tekad bulat bersama mencipta cinta lingkungan harus direalisasikan (bil a’māl) secara permanen (laysa bi al-kalām).

Maka yang jauh lebih penting sekarang adalah partisipasi semua elemen masyarakat sangat dibutuhkan. Terlebih pemerintah, dalam hal ini Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup beserta jajarannya merealisasikan agenda kerja menyangkut”mewujudkan alam dan lingkungan kita menjadi surga” di tengah maraknya kerusakan alam akibat ulah orang yang tidak bertanggungjawab.

Last but not least, mulai hari ini hingga kelak nanti, tanamkan jiwa sadar diri, sadar fungsi demi memangkas mimpi menjadi realitas. Bukankah anak cucu kita masih ingin merasakan hidup di bumi ini? Ayo, selamatkan alam kita, selamatkan bumi kita.Bottom of Form

Fathor Razi
Fathor Razi 4 Articles
Alumnus Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta