Selilit Kisah Amanda

Selilit Kisah Amanda
©Pinterest

“Kriiiiing…..,” bunyi jam beker pekakkan telinga Amanda dari tidur pulasnya.

Ia lalu memukul jam bekernya dengan stick yang berada tak jauh dari ranjangnya, yang biasa ia pakai untuk bermain bola kasti sewaktu SMA dulu. Pecah dan berkeping-kepinglah jam kesayangannya, hadiah ulang tahun dari ayah tersayangnya yang ia jaga sejak berumur 16 tahun.

Saat itu jam telah menunjukkan pukul 07.30 WIB. Jarum jam makin cepat berpindah.

 “Mati aku! Aku telat, padahal hari ini, kan, hari pertamaku masuk kuliah?” gumam Amanda bergegas mandi.

Ya, sekarang Amanda telah kuliah di sebuah Universitas ternama di Indonesia bagian timur sana. Ia segera melepas baju lalu membasahi tubuhnya. Dan dengan cepat berganti baju agar terhindar dari kesan negatif di hari pertama kuliahnya.

Percuma, usahanya tak sebanding dengan perjuangannya untuk on time di kampus hari itu. Amanda yang culun, seperti mahasiswa baru biasanya, terpaksa bersembunyi di luar kampus dekat pedagang es Kelapa pinggir jalan memilih tidak hadir di ruang kelas. Kekhawatirannya membuncah, malu dicerca teman sekelas dan takut mendapat label negatif di hari pertamanya kuliah.

“Malangnya nasibku, tak salat subuh, dan jam kesayanganku pun hancur. Mana telat pula ke kampus,” gemuruh Amanda sambil duduk termenung sendiri dan hanya ditemani lalu lalang bis antarkota, berikut polusi-polusi udara serta terik matahari yang telah menyengat kulitnya hari itu.

“Menjengkelkan! Mimpi apa, sih, aku semalam? Sial mulu deh hari ini. Dalam sejarah hidupku, baru kali ini deh aku telat, apessss, apes,” sesalnya.

“Ini adalah yang pertama dan terakhir, tak boleh terjadi lagi, tak boleh!!” tekadnya kembali.

Sesosok pria muncul di sebelah tempat duduknya. Menghentikan gerutu hatinya. Seperti jailangkung: datang tak dijemput, pulang tak diantar, pria itu muncul secara tiba-tiba.

***

Amazing!! Mimpi apa lagi? Gantengnya nggak ketulungan. Perfect abis pokoknya. Cakep, rapi, berpostur jangkung dengan kacamata stylis yang melindungi mata indahnya. Wajar bagi Amanda, ia belum pernah seperti ini sebelumnya. Ini kali pertamanya bertemu sesosok pria yang membuatnya meronta gelisah.

Cowok tak pernah ada dalam kamus hidupnya. Baginya, memikirkan cowok hanyalah tindakan buang-buang waktu. Hampir seluruh waktunya ia habiskan untuk belajar dan menyibukkan diri dalam organisasi-organisasi ekstrakurikuler di SMA-nya dulu.

Amanda memang enggan membangun cerita kasih dengan lawan jenis. Entah pula latar belakang apa yang membuatnya mendapat label angkuh dan sombong pada lawan jenis dalam urusan ini. Mungkin cerita masa lalu keluarganya pernah kelam.

***

Pria itu kini makin dekat dari posisi tempat duduk Amanda. Membuat hatinya menari. Mengajaknya tersenyum-senyum sendiri kala itu, dan berusaha memalingkan muka untuk menyembunyikannya.

“Permisi, boleh duduk di sini?” tanya pria tadi.

Jantung Amanda berdegub kencang dan tegang, mengalahkan bom Nurdin M. Top. Bahkan bom atom Hirosima-Nagasaki pun lewat. Serasa planet Jupiter menghantam bumi saja.

“Oh iya, silakan,” jawab Amanda singkat.

“Adik semester berapa dan dari fakultas apa?” lanjut pria itu penuh kelembutan dan sesaat sambil membenarkan posisi jam digital yang melingkar di tangan kirinya.

“Aku baru semester satu, kak, dari fakultas Ilmu Pendidikan,” jawab Amanda lirih.

“Ow,,, sama dong. Tapi bedanya, aku sudah semester atas. Sedang apa di sini? Sudah pulang ataukah dikeluarkan dosen, hayooo?” celoteh pria itu menggoda dengan memainkan jari telunjuknya ke arah Amanda.

“Heheee… iya, kak. Aku nggak dikeluarin sih, tapi seorang mahasiswa, tahu, kan, konsekuensinya kalau telat lebih dari 15 menit harus ngapain?” jawabnya sambil nyengir kambing.

“Uuupzzz.. kamu telat toh. Begitulah mahasiswa, dik. Harus pintar-pintar mengatur waktu,” ungkap pria itu melanjutkan.

“Kamu anak mana? Kok bisa telat selama itu?” tanyanya kembali dengan senyum tipis di bibirnya.

Amanda mulai sebel karena tanya yang sangat aktif dari pria tadi. Padahal ia sedang kesal. Ditambah lagi tanpa sapa nama lalu berulang tanya, usil. Untung saja ganteng, Lek nggak, udah ia jorokin ke aspal jalan yang memanas.

“Aku dari Surabaya, kak, kosku agak jauh dari kampus. Belum lagi jalanan Jakarta yang padat,” jawabnya ketus.

“Wow, sendiri?” lanjut pria tersebut, sok kaget membuat kedua pipinya mengembang.

“Ya,” jawabnya singkat.

Obrolan mulai memanjang. Ada banyak motivasi, nasihat, kritik, dan saran telah terlontar. Membuat Amanda terengah mendengarnya, tampak dewasa dan begitu sempurna dalam benaknya.

“O iya, dik, kita udah cerita panjang lebar dari tadi, tapi aku belum tahu namamu. Siapa namamu, dik?” akhirnya pria itu bertanya nama.

“Hmmzz.. Rakhel Amanda Putri, tapi panggil saja aku Amanda, kak,” jawabnya.

“Wuiiih. .lengkap sekali yah? Sama deh, aku Bayu Bramantyo Sagara, panggil saja Bayu, dik!” kata Bayu melanjutkan sembari pergi begitu saja.

Bayu pergi begitu saja. Seakan hendak memberi rasa penasaran yang teramat pada Amanda. Setelah begitu lama berdialog, Bayu beranjak tidak lama setelah berkenalan. Tapi, baginya yang sejak pertama bertegur sapa sudah terkagum, memberinya ribuan tanya yang belum selesai Bayu jawab.

***

Kisah pertemuan Amanda dengan Bayu di hari pertama kuliah masih terbawa di hari kedua ia memasuki kampus sebagai mahasiswi aktif angkatan termuda. Kini, ia memiliki teman baru, Via namanya.

Ya, Anjani Avia Ningrum lebih tepatnya. Tidak genap satu minggu, mereka sudah cukup akrab. Menyenangkan dan baik itu sudah cukup untuk menjadi teman Amanda. Baginya, semua itu sudah ada dalam diri Via.

Di depan kelas, Amanda dan Via tampak mencari-cari kursi kosong untuk diduduki. Wajar saja, beberapa teman kelasnya sudah memadati kursi-kursi yang memang sengaja diletakkan di luar kelas.

Bola mata Amanda mendadak terhenti, melihat sesosok pria yang luput dari pandangan Via. Pria itu berdiri di antara teman-temannya. Ya, dialah Bayu yang menyambut kisah perdananya di kampus dan dalam satu fakultas pula.

Namun, di hari ini, Bayu tampak asyik mengobrol dengan teman wanitanya. Jauh berbeda dengan khayal Amanda dari kemarin. Kali ini, ia memasang wajah yang agak meradang. Aneh baginya, perasaan yang belum pernah ia rasa selama ini. Batinnya bertindak di luar nalar.

“Yesss!!!” pekik Amanda girang yang membuat Via heran mendengarnya.

Bayu mulai mengerti dan memperhatikan kehadiran Amanda. Kini tak ada sapaan, hanya senyuman dari Bayu. Wajar, tipikal Bayu dasarnya memanglah lelaki penganut cuekisme kelas berat yang membuatnya klepek-klepek.

Tetapi, wanita yang menemani Bayu telah membawa misteri pada Amanda. Sedang Via terheran, tak sempat menegur tanya. Ruang kelas telah memotong pertemuan hari itu, hingga akhir waktu dosen memberi kuliah, ribuan tanya pun menyelimutinya, dan Via pun kini sama.

* Lely Itta Ningrum
Cerpenis, sedang menempuh studi di Universitas Agama Islam Situbondo, Jawa Timur

    Kontributor

    Kontributor Nalar Politik
    Kontributor

    Latest posts by Kontributor (see all)