Semakin Benar, Semakin Merusak

Semakin Benar, Semakin Merusak
©Touchstone

The Insider (1999). Ini salah satu film yang saya tonton minimal setahun 3 kali. Di atasnya hanya ada JFK (1991), yang bisa saya tonton dua bulan sekali. Judul di atas adalah terjemahan suka-suka saya dari satu kutipan paling populer dalam film ini: “The greater the truth, the greater the damage.”

Lanjutan kalimat itu—yang tentu saja diucapkan seorang pengacara—adalah “If he lied, the damages are smaller.”

Ini dramatisasi dari kisah nyata Jeffrey Wigand (Russell Crowe), seorang ilmuwan yang menjadi whistleblower dari sebuah perusahaan rokok di AS pada 1996. Ia membocorkan praktik penyuntikan berbagai senyawa kimia ke dalam tembakau; untuk menggenjot kinerja adiktif rokok. Yaitu amoniak, untuk memanipulasi nikotin agar lebih mudah diserap paru-paru, sehingga lebih cepat mencapai otak dan syaraf. Juga coumarin, sebagai penyedap rasa, yang mana senyawa ini serupa dengan coumadin, yaitu karsinogen atau pemicu kanker pada paru.

Sebagai perokok Indonesia, saya tidak tertarik dengan subject matter tentang manipulasi nikotin dalam film ini; sebab:

1) Merek rokok keretek yang saya konsumsi masih diproduksi secara manual, jauh dari steroidisasi nikotin seperti di AS, karena rokok kita tidak perlu dicampur apa-apa pun sudah cukup adiktif, berkat tidak adanya aturan pembatasan volume atau berat tembakau per batang rokok keretek di Indonesia.

2) Sebagai penambang data, saya sudah menggali fakta di luar film ini; yaitu isu manipulasi nikotin di AS itu sudah diungkap oleh whistleblower lain sejak satu tahun sebelum Wigand maju. Dengan kata lain, Wigand membawa isu yang sudah basi. Apalagi sekarang, 25 tahun kemudian.

Yang membuat saya memperingati film ini secara religius, lebih intens daripada lebaran, adalah sisi jihadnya. Baik di sisi Wigand sebagai whistleblower, maupun di sisi Lowell Bergman (Al Pacino), jurnalis yang dikisahkan banting karier demi memberi Wigand panggung di televisi.

Tidak ketinggalan, laskar Kejaksaan Tinggi Negara Bagian Louisiana yang berjihad menuntut sejumlah besar perusahaan rokok di AS, sampai-sampai Kajatinya diperkarakan oleh Gubernurnya sendiri di pengadilan, untuk mencabut tuntutan itu.

Wigand, setelah di-PHK gara-gara menolak meng-ACC penggunaan amoniak dan coumarin, lalu terciduk bicara dengan jurnalis, harus seorang diri menghadapi segala teror yang dihantamkan perusahaan kepadanya. Seperti biasa dalam protap penanganan whistleblower di seluruh penjuru bumi, teror pertama adalah perusakan rumah tangga. Istri tercinta tidak tahan tekanan, khususnya tidak tahan mendadak hidup miskin, lalu minggat bawa dua anaknya kembali ke orang tua.

Dan seterusnya. Standar. Persis yang terjadi pada tokoh Jim Garrison dalam JFK.

Baca juga:

Adapun lakon Lowell Bergman, walaupun dramatisasinya terlalu fiktif, menggambarkan dengan sempurna bagaimana idealnya seorang jurnalis. Dia tidak hanya melawan secara frontal pihak manajemen stasiun TV yang takluk di bawah tekanan pabrik rokok dan batal menyiarkan rekaman wawancara dengan Wigand, namun juga berjuang lewat jaringan jurnalis untuk mementahkan pencemaran nama baik yang dilancarkan pabrik kepada Wigand.

Dia bahkan mengkhianati stasiun TV tempat kerjanya, CBS, dengan membocorkan skandal tentang patuhnya jurnalis kepada titah manajemen, kepada koran The New York Times. Ulasan koran itu menyerang integritas jurnalistik CBS, dan tekanan publik yang deras pada akhirnya memaksa CBS menyiarkan wawancara itu.

Di Indonesia, fiksi sejenis ini entah kenapa tidak ada yang memfilmkan, padahal di kita lalu lintas eksodus jurnalis dari satu TV ke TV lain cukup pesat; tapi tidak ada yang mengungkap drama apa yang melatarbelakangi.

Pesan utama yang dihasutkan film ini adalah bahwa jihad nahi munkar itu tidak memberi kemenangan apa-apa, di dunia.

Bergman memang akhirnya berhasil memaksa CBS menyiarkan wawancara Wigand, namun bagi Wigand sendiri tidak ada kemenangan. Istri tercinta tetap tidak balik-balik. Kebenaran yang mengorbankan cinta tidak lain hanya keegoisan.

Bagi Bergman pun tidak ada kemenangan. Hitungan hari setelah siaran wawancara Wigand mengudara, jagat pers AS sudah dihantam berita yang jauh lebih bernilai: penangkapan teroris anti-kapitalis yang berjuluk Unabomber (pengebom universitas dan airport) yang hingga saat itu sudah menghantui rakyat AS selama 18 tahun tanpa bisa dilacak FBI. Balada pabrik rokok pun sirna dari media, berganti dengan drama litigasi yang hanya berbuah kemenangan bagi pemilik modal, kemusnahan bagi pemilik moral.

Bergman pun memilih mundur dari pekerjaannya, yang dianggap sudah tidak ada arti itu. Bersamaan, ia pun harus meninggalkan teman seperjuangan; sesama jurnalis yang menolak berada di pihaknya saat ia sendirian, dan baru mau latah saat opini publik memihak kepadanya.

Seperti dialog penutup film, antara Bergman dengan istrinya. Patut dicatat, istri Bergman tidak minggat melihat suaminya ribut cari masalah sana-sini. Dia tetap setia; mungkin karena beda dengan Wigand, mereka belum punya anak.

“Kamu menang,” kata al-bini Al Pacino.

“Iya?” sahut al-swami, “Apa yang saya menangkan?”

    Fritz Haryadi
    Latest posts by Fritz Haryadi (see all)