Semua Anak Suka Belajar, tapi Benci Dipaksa Belajar

Semua Anak Suka Belajar, tapi Benci Dipaksa Belajar
┬ęKompas

Pada dasarnya manusia itu pembelajar. Percaya deh, mau gimana pun uniknya anak-anak, mereka tetap punya gairah belajar dari dalam dirinya sendiri. Siapa pun itu, tanpa diminta, tanpa disuruh sekalipun, bahkan jika dilarang, mereka akan tetap mencari cara untuk belajar. Nggak percaya?

Kemauan belajar adalah satu dari hasil proses evolusi yang panjang. Sejak dimulainya revolusi kognitif, manusia menjadi satu-satunya yang mampu belajar secara sadar, tidak sekadar mengikuti nalurinya semata.

Seekor monyet mungkin akan selalu memanjat pohon untuk mengambil pisang. Tapi manusia akan terus belajar mencari cara termudahnya, misal dengan menciptakan golok besi untuk merubuhkan pohonnya sekalian. Sejak saat itu manusia terus belajar, mulai bahasa sampai semua teknologi yang membantu mereka.

Nah, kalau belajar adalah sifat asli manusia, mengapa kita sering kali melihat orang malas belajar? Di sekolah khususnya, kita sering marah ketika melihat siswa enggan memperhatikan pelajaran gurunya, mengapa?

Sebenarnya kaca mata kitalah yang terlalu sempit. Kita hanya mendefinisikan belajar sebagai proses siswa memperhatikan gurunya di sekolah. Padahal di luar itu mereka pasti mempelajari banyak hal lainnya.

Sebagian mereka yang malas di kelas, justru sedang serius belajar masak, menyanyi, menari, les matematika, menggambar, dan belajar yang lainnya. Saya yakin bapak/ibu gurunya pun demikian, belajar sesuai dengan ketertarikannya.

Saya pun begitu. Saya bisa dengan PD mengatakan bahwa saya ini suka mempelajari banyak hal. Matematika tentu khususnya. Tapi selain itu, saya mempelajari ilmu komputer, origami, yoyo, psikologi, dan lainnya.

Saya juga pernah benar-benar serius belajar bahasa Inggris secara mandiri (walau hanya pasif). Tapi ya begitu, saya hanya semangat belajar materi yang saya butuhkan.

Baca juga:

Pernah suatu ketika saya diminta datang mengikuti pelatihan terkait politik, saya hanya datang absen lalu pulang. Dipaksa seperti apa pun, saya tak akan benar-benar belajar. Palingan cuma menggugurkan kewajiban.

Nah, dari sana saya memikirkan ulang, apa yang membuat saya belajar ini dan tidak belajar itu? Di tempat lain, mengapa siswa saya rajin sekali membaca Alquran tapi enggan sekali berada di kelas matematika saya? Apa yang menjadikan orang-orang tertarik belajar suatu hal dan menghindari belajar hal lainnya? Jawabannya adalah tujuan.

Ketika seseorang punya tujuan yang muncul dari dalam dirinya sendiri, maka ia akan mencari segala cara agar ia mencapai tujuan tersebut. Mengapa dulu saya bersemangat belajar bahasa Inggris, sebab pada satu titik sadar bahwa bahasa Inggris akan menjadi jembatan untuk mengetahui dunia lainnya.

Saya sering kesal ketika mencari buku atau film dan hanya mendapatkan versi bahasa Inggrisnya. Sejak saat itu saya memutuskan mau tak mau belajar bahasa Inggris adalah kewajiban.

Begitu juga Anda, dan para siswa di sekolah. Saya pernah punya seorang siswa yang bercita-cita menjadi fisikawan. Tentu Anda bisa menebak dia semangat sekali ketika belajar IPA dan matematika. Sebaliknya, ia malas sekali ketika harus belajar IPS dan seni.

Saya juga punya siswa yang tertarik sekali dengan dunia seni. Semangat belajarnya tentu berbeda dari siswa saya sebelumnya. Jadi penting bagi anak-anak kita untuk memiliki tujuan, sehingga ia semangat untuk belajar menggapainya.

Masalahnya adalah kerap kali kita memaksakan tujuan kita. Tujuan itu sering kali juga tidak realistis. Banyak dari kita yang menetapkan tujuan belajar anak-anak kita hanya sebatas mendapat nilai bagus dan peringkat satu. Kita memaksa mereka belajar demi hal yang tidak realistis.

Nilai dan peringkat di sekolah adalah perihal abstrak yang tidak dapat dirasakan oleh anak secara langsung selain hanya pujian sesaat. Nilai dan peringkat hanyalah objek pemenuh gengsi kita sebagai orang tua. Anak-anak perlu tujuan yang realistis, yang bisa mereka jangkau dan sesuai apa yang mereka sukai.

Baca juga:

Lalu bagaimana jika anak belum tampak memiliki tujuan?

Justru itulah tugas kita. Sering kali kita fokus pada nilai mereka di sekolah dan tidak memperhatikan bakat atau ketertarikan yang mereka tunjukkan. Masih sering saya temuai orang tua yang marah ketika anaknya bermain bola lalu justru memintanya mengikuti les matematika.

Saat kita terlalu fokus pada satu pintu, kita cenderung mengabaikan seribu pintu lainnya. Kita terlalu banyak menuntut mereka di rumah, di sekolah, tapi enggan memahami mereka. Sudah seharusnya kita menunjukkan kepada mereka ada banyak tujuan yang mereka bisa tuju. Tugas kita hanya mengarahkan, bukan menetapkan.

Sebagai orang dewasa kita sering lupa, bahwa setiap manusia selalu punya jalan yang berbeda. Barangkali karena itu kita sering memaksakan kehendak kepada anak-anak kita. Tanpa kita sadari, kita menginginkan mereka menjadi penurut selayaknya robot baja. Atau jangan-jangan kita lupa, bahwa mereka, bagaimana pun polosnya, adalah manusia?

Rachmat Hidayat
Latest posts by Rachmat Hidayat (see all)