Semut dan Tikus

Semut dan Tikus

Pada suatu kesempatan Semut dan Tikus berjalan bersama menuju Kantor Beras. Sebenarnya, Semut tidak sudi berjalan bersamaan dengan Tikus, tetapi karena ada hal penting yang ingin ditanyakannya kepada Tikus, sehingga kali itu ia sudi berjalan dengannya.

Lain halnya dengan Tikus, berjalan bersama dengan Semut adalah hal yang didambakannya sejak mereka bekerja di tempat yang sama dan kesempatan kali itu merupakan kesempatan berharga baginya. Dalam perjalanan banyak hal yang dibicarakan oleh Tikus, termasuk ia membanggakan dirinya karena telah dikenal oleh orang banyak. Sudah menjadi kebiasaannya dan tidak terlalu menyombongkan dirinya, Semut hanya diam, setia mendengar dan menyimak semua perkataan atau pembicaraan yang dilontarkan oleh Tikus.

Semut orangnya tidak terlalu suka basa-basi. Ia orangnya to the point atau langsung pada intinya ketika ada hal yang ingin dibahasnya. Ia malas mendengar wejangan-wejangan yang tidak penting dari siapa pun termasuk dari Tikus teman kantornya yang mungkin dibencinya.

Semut: terlepas dari omong kosongmu yang banyak itu dan setelah  kuamati selama ini, engkau semakin lihai dalam aksimu. Sudah berapa anggaran negara yang engkau lenyapkan untuk dirimu dan kelompokmu? Terus engkau juga selalu memperalatkanku untuk memudahkan aksimu.

Tikus: Santai saja kawan, jangan emosi. Berkaitan dengan pertanyaanmu itu, ketahuilah engkau kawan, aku semakin lihai dalam aksiku karena si Kucing sangat lemah dalam mengawasi atau mengatasi aksiku. Dan untuk anggaran negara, berapa yang telah aku lenyapkan, lebih baik tidak usah ditanyakan sebab tak dapat dihitungkan lagi. Perlu engkau tahu juga kawan, aku tidak saja melenyapkan anggaran negara, tetapi hal-hal kecil juga dalam hidup kita yang kurang mendapat perhatian aku lenyapkan juga.

Terus berkaitan dengan aku memperalatkan engkau dalam aksiku, aku pikir karena hanya dengan engkau aksiku mudah untuk dilakukan. Aku bersyukur sekali, sebab hari ini engkau berkesempatan berjalan bersamaku.

Perlu engkau tahu kawan, sejak kita bekerja dalam kantor yang sama, aku ingin sekali belajar lebih banyak tentang kerja sama, baik dalam kebaikan maupun dalam kejahatan darimu, dan walaupun hal itu sulit engkau ajarkan kepadaku, tetapi setidaknya apa yang engkau kerjakan selama ini tidak luput dari pandanganku. Dalam arti semuanya itu terekam dalam memoriku, karena itu aku ingin berterima kasih kepadamu, karena engkau adaku sebagai Tikus semakin dikenal orang banyak.

Semut: terus tidakkah engkau peduli dengan penderitaan rakyat dan kesejahteraan bersama?

Tikus: aduh kawan, engkau terlalu memikirkan orang banyak. Selagi kesempatan itu ada di pihak kita dan si Kucing masih lemah, ada baiknya kita menggunakan kesempatan itu dengan baik.

Semut: kapan engkau menghentikan aksimu? Tidakkah engkau malu dengan semua kejahatan yang telah engkau lakukan? Dan tidakkah engkau malu memakan apa yang menjadi milik mereka dan bukan milikmu?

Tikus: bagaimana mungkin aku menghentikan aksiku kalau semua orang memanfaatkan kesempatan dan menghadirkan aku dalam tugas mereka. Ketahuilah engkau kawan, selama ini mereka yang menangani kejahatan yang kulakukan saja menghadirkan aku dalam pekerjaan yang ditugaskan kepada mereka.

Oleh karena itu kawan, engkau jangan terlalu memaksa dirimu untuk terus berlaku baik kepada semua orang. Manfaatkan kesempatan yang berharga ini dengan sebaik mungkin dan ada baiknya kita mesti keluar dari sisi gelap atau kemunafikan kita. Mari kita sama-sama merenggut semuanya tanpa batas, sebab ketika tiba saatnya kejahatan yang kita lakukan sampai pada batas pencarian mereka, kita tidak bisa berbuat apa-apa selain menyerah.

Dan untuk pertanyaanmu yang kedua, jika aku malu dengan kejahatan yang kulakukan berarti aku mengingkari adaku. Dalam arti aku ada untuk kejahatan itu sendiri. Ada baiknya aku mengakui adaku sebagai kejahatan daripada adamu dan ada mereka yang mengakui ada untuk berlaku baik tetapi diam-diam menyusuri dunia gelap (kejahatan). Lalu berkaitan dengan pertanyaanmu yang ketiga, hematku, itu masih relevan dengan pertanyaan keduamu dan aku pikir aku tidak malu memakan apa yang menjadi milik mereka.

Semut: sungguh kejahatan hakiki itu kutemukan hari ini dalam dirimu. Betapa naifnya aku memaksamu untuk berjalan dalam kebenaran. Ketahuilah engkau kawan, ada saatnya hidup kita sampai pada pengalaman batas. Pengalaman batas menyadarkan kita untuk berempati dan berbelah rasa terhadap yang lain.

Namun, yang kulihat darimu hanya kejahatan. Sebuah kejahatan yang telah tertanam sejak engkau dibentuk. Tidakkah engkau peduli dengan pengadilan terakhirmu di hadapan Tuhan?

Tikus: Hahahaha…Ketahuilah engkau kawan, sejak aku mengabdi pada kejahatan tidak lagi terbersit dalam ingatanku tentang Tuhan. Aku telah menyatu dengan kejahatan. Siapakah Tuhan itu? Kejahatan adalah tuanku.

Jawaban sang Tikus membuat Semut diam. Dalam hatinya, sang Semut menyahut “sampai kapan makhluk yang tak bermoral ini hidup dalam dunia yang sama denganku?

Sungguh aku menyesal ada bersamanya. Sudah kuduga bahwa dalam hidupnya, sedikit sekali ia berempati dan berbelah rasa dengan yang lain, dan apabila makhluk sepertinya terus menjabat sebagai wakil makhluk lain, maka kesejahteraan yang didambakan semua orang tidak akan pernah terwujud, sebab ia lebih mementingkan dirinya sendiri.

    Jordi Sahat
    Latest posts by Jordi Sahat (see all)