Sentimen Gender dan Agama Masih Kuat dalam Pemilihan Presiden

“Kalau selama ini tidak mudah bagi seorang perempuan untuk kompetitif dalam politik hal itu terjadi karena basis masyarakatnya memang patriarkal,” ungkap Doktor Ilmu Politik dari Ohio State University, Amerika Serikat, itu.

Dari sisi etnis atau suku bangsa, ada 78 persen yang menyatakan perbedaan etnis atau suku tidak menjadi masalah dalam memilih presiden, hanya 17 persen yang menyatakan calon yang etnis atau sukunya sama dengan mereka, dan 5 persen tidak menjawab.

Menurut Saiful, hal ini menunjukkan masyarakat cukup inklusif dari sisi etnisitas dalam pemilihan presiden. Di negara-negara demokratis lain, sentimen etnis masih cukup kuat, seperti terjadi di Spanyol.

Dalam hal agama, ketika ditanya di antara calon-calon presiden yang akan maju dalam Pilpres mendatang, 50 persen menyatakan akan memilih calon yang agamanya sama, 45 persen menyatakan perbedaan agama tidak menjadi masalah, dan 5 persen tidak tahu.

Saiful menjelaskan bahwa identitas agama punya pengaruh yang sangat kuat dalam pemilihan presiden.

“Secara umum, pada dasarnya masyarakat Indonesia cenderung eksklusif secara agama dalam menentukan pilihan politik mereka dalam pemilihan presiden. Orang memilih bukan karena calonnya kompeten dan rekam jejaknya bagus, tapi karena agamanya sama dengan saya (pemilih),” jelas Saiful.

Apakah perbedaan identitas sosial itu akan memengaruhi pilihan politik dalam Pilpres?

Studi ini menemukan bahwa yang menyatakan presiden harus laki-laki, 42 persen memilih Prabowo, 30 persen Ganjar, dan 28 persen Anies. Yang menyatakan presiden harus perempuan, 43 persen memilih Prabowo, 29 persen Ganjar, dan 29 persen Anies. Sementara yang menyatakan perbedaan jenis kelamin untuk presiden Indonesia tidak penting, 40 persen memilih Prabowo, 41 persen Ganjar, dan 19 persen Anies.

Baca juga:

Saiful menjelaskan bahwa perbedaan gender signifikan secara statistik dalam pemilihan presiden. Yang terlihat berbeda ada pada pemilih Ganjar, lebih tinggi yang menyatakan perbedaan gender tidak penting dibanding yang menyatakan presiden harus laki-laki.

Sebaliknya, pemilih Anies yang menyatakan presiden harus laki-laki lebih banyak dibanding yang tidak mempersoalkan identitas gender. Sedangkan pada Prabowo, perbedaan pandangan itu tidak berbeda secara signifikan.

“Yang berbeda di sini adalah pada pemilih Anies dan Ganjar. Yang memilih Anies lebih patriarkal dan yang memilih Ganjar lebih inklusif,” kata penulis buku Muslim Demokrat tersebut.

Studi ini menunjukkan bahwa sisi etnisitas tidak terlalu penting dalam menentukan pilihan warga. Selisih antara yang memilih calon yang etnisnya sama dan tidak mempersoalkan etnisitas tidak berbeda signifikan secara statistik dengan p-value 0,262 atau di atas 0,05.

Sementara faktor agama sangat kuat. Ada 44 persen yang menyatakan akan memilih calon yang agamanya sama dengan mereka memilih Prabowo, sementara yang menyatakan perbedaan agama tidak penting 38 persen.

Pada pemilih Ganjar, yang menyatakan akan memilih calon yang seagama 26 persen dan 45 persen yang tidak mempersoalkan agama. Sementara pada pemilih Anies, 30 persen yang memilih calon yang seagama dan hanya 17 persen yang tidak mempersoalkan agama.

Seperti pada kasus identitas gender, Saiful menyatakan bahwa efek dari identitas juga terlihat lebih jelas pada Ganjar dan Anies.

Secara umum, Saiful menyatakan bahwa politik identitas pada masyarakat Indonesia masih penting, terutama yang berkaitan dengan gender atau jenis kelamin dan agama.

“Masyarakat kita belum inklusif dalam persoalan gender dan agama. Anda harus berpikir dua kali (untuk maju dalam kepemimpinan nasional) kalau anda perempuan atau berasal dari agama minoritas,” simpulnya.

*SMRC