Seorang Demonstran yang Terluka

Seorang Demonstran yang Terluka
©Hipwee

Seorang demonstran pun bisa terluka…

Di tengah keremangan kota Kutai Timur (Kalimantan Timur), suara kendaraan kian senyap. Para buruh terlelap tidur melepas lelah.

Jarum jam telah menunjukkan pukul 01.14 WITA. Di depan teras rumah kayu, Hendrik masih tetap terjaga menikmati rembulan yang kadang cahayanya ditutupi awan. Duduk bersila di atas kursi, sambil mengisap batang rokok. Pikirannya entah ke mana, terbang bersama asap rokok yang menyatu dengan udara malam.

Tak sedikit tanda-tanda kantuk di rona wajahnya. Ia masih sibuk berjibaku dengan dunia khayalnya, kemungkinan tengah tenggelam pada peristiwa traumatik yang pernah ia lalui. Ingatan masa kecil, harapan yang belum tuntas, atau tentang hubungannya bersama dengan Esti, seorang perempuan yang ia pacari 2 bulan lalu? 

Entah apa gerangan yang mengeruhkan ketenangan hatinya?

Sudah 2 minggu ia habiskan malam duduk di tempat yang sama. Seberat itukah pikirannya hingga azan Subuh menjadi alarm untuk merebahkan kepala dan mengistirahatkan pikiran?

Sepulangnya di tanah Jawa menimba ilmu agar nasib tak celaka. Peringai bersahaja dan paras ceria hilang entah di mana rimbanya. Buku-buku yang ia bawa dari Jogja dibiarkan saja tergeletak di atas lemari. Terkadang hanya dibuka lembar demi lembar. Itu pun buku yang ia sangat sukai, Catatan Seorang Demonstran yang ditulis oleh Soe Hok Gie.

Berkali-kali ia harus menelan ludah, menerima nasib bahwa tanah ia pjiaki, tempat menyatu tulang-belulang leluhur, tak seramah di masa kecil ia dulu. Nyanyian alam dari pepohonan telah lenyap diganti deru mesin alat berat. Gunung dikeruk, sumur bor minyak berseliweran di pinggiran kota, air sungai keruh, sedang sampah yang menumpuk ikut meruyak menjadi pemandangan yang menjenuhkan.

Tak satu pun orang peduli atas tanah moyang mereka yang dijarah. Suara berlawan tak berkecut. Ia berlindung di dalam relung hati. Mesti ditutup rapat getirnya, tangis harus dipendam, suara harus dibungkam. Bukan karena kokang senjata, melainkan perut tetap harus diisi sesuap nasi.

Satu jabatan dalam perusahaan mesti diisi waupun menjadi kuli. Terlebih jika baju berwarna orange dengan lambang KPC, status sosial akan lebih tinggi.

Tetapi dengan cara apa Hendrik melawan? Orang-orang hanya akan menertawakan seorang demonstran tak bertaring lagi seperti dirinya. Seperti beberapa hari yang lalu, ia malah dapat respons yang tidak baik dari seorang pamannya sendiri perihal keresahannya.

Namun ia belum patah semangat soal ini. Sebab Hendrik sadar, tanpa organisasi massa, perubahan adalah mimpi. Ia akan benar-benar fokus jikalau studinya telah usai.

Malam kian larut, ingatannya terhadap Esti belum enyah. Esti belum membalas pesan yang ia kirim. Tetapi ia tetap menunggu. Sudah berkali-kali ia berpikir agar memutuskan hubungannya dengan Esti, tetapi Hendrik tetap kalah dengan perasaannya sendri.

Ia benar-benar mencintai Esti. Baginya, ketulusan kepada perempuan adalah hal dasar untuk tulus mencintai manusia dan alam. Akan sangat rendah jikalau karena perasaan semu kepada perempuan lain kemudian ia berkhianat pada janji setia yang pernah ia utarakan kepada Esti.

Apa istimewanya Esti bagi Hendrik? Ia hanya perempuan biasa, bahkan pernah selingkuh setelah menjalin hubungan sebulan dengan Hendrik di pertemuan pertama mereka setelah jadian.

Bila dipikir, pengorbanan Hendrik dalam memperjuangkan cintanya cukup besar. Bahkan ia rela menyisihkan kiriman dari orang tuanya untuk ongkos ke Surabaya, tempat Esti kerja. Lapar dan tidak merokok satu hari masih dapat ditanggulangi, tetapi rindu sulit diobati. “Hanya pertemuanlah obatnya,” kata Henrik.

Cinta benar-benar membuatnya sudah buta. Hingga nyaris melumatkan mimpi-mimpinya. Balasan atas itu hanyalah pengkhianatan, kebohongan yang benar-benar terencana dari Esti.

Apakah ia akan membenci? Apakah ia mendendam? Tampaknya cinta telah menutupi sisi negatif dari dirinya. Bahkan egonya pun kalah.

Sungguh benar-benar malang nasib para pencinta. Walaupun ia tahu akan terluka, tetapi tetap bertahan pada harap.

Namun sampai kapan kamu akan bertahan, Hendrik? Kamu adalah manusia biasa, juga punya rasa kecewa, terlebih godaan perempuan lain akan membenamkan cintamu pada Esti.

Anak bodoh ini tetap akan bertahan. Tetapi dengan apa kamu akan bertahan? Kepercayaan yang kamu bangun telah hancur setelah perselingkuhannya dengan teman kerjanya.

Kamu berharap setia? Ia tidak akan setia. Buktinya, ia telah selingkuh. Dan mungkin saja yang membuat sikapnya berubah karena ia mencintai orang lain? Atau mungkin Esti belum mampu move on dari mantannya? Lantas apa dasarmu bertahan, Hendrik bodoh?

Di percakanpan yang lalu melalui layanan video call dengan Esti, Hendrik pernah menyampaikan kepada Esti bahwa alasan perselingkuhan Esti bukan karena salah Esti, melainkan karena Hendrik yang tidak mampu membuat Esti sayang kepada Hendrik.

Azan Subuh mulai berkumandang. Awan masih tetap tenang di atas langit. Cahaya rembulan masih tetap sama. Balasan pesan dari Esti akhirnya tiba, setelah ditunggu berjam-jam. Dia hanya menjawab “ya” dengan mengirim foto bersama dengan seorang lelaki telanjang dada.

Luapan emosi dan rindu bercampur menjadi getir pahit. Sungguh masihkah aku bisa bertahan, menahan sakit? Ia tengah dinikmati laki-laki lain. Sebegitu kejamnyakah ia sampai harus mengirim gambar demikian?

Bodohlah aku jikalau tetap bertahan. Tetapi dengan apa aku pertanggungjawabkan kata-kataku bahwa aku akan setia? Sungguh pergolakan batin yang cukup dramatis.

Oh, sungguh, Esti hanyalah bagian kecil dari pergolakan hidupku. Tetapi sulit pun kuenyahkan ia.

Eh, air mata mengapa kamu menetes? Mengapa kamu jatuh? Ia tak perlu disedihkan. Esti tak pantas untuk itu. Kumohon berhentilah, air mata.

Ah, hati mengapa kamu terasa diiris? Cukup! Berhenti! Tidakkah kau lelah setelah berbulan-bulan diiris belati tajam, kemudian terasa disiram air cuka?

Kumohon. Mana engkau hasil bacaanku, yang kalian katakan kirii tak mampu menolongku, aku benar-benar celaka malam ini.

Aku harus bercerita ke mana? Kepada ibuku? Kepada temanku? Itu tak akan tuntas.

Hari-hari berlalu seperti biasa. Semangatku belum pulih. Beberapa kali kucoba untuk membaca buku tetapi sulit. Nafsu bacaku telah hilang, hingga tak terasa liburanku akan usai.

Tinggal beberapa hari lagi aku akan meninggalkan kampungku tercinta. Layanan pesan kubuka seperlunya saja untuk berkabar kepada teman, perihal info kampus.

Ya, hidupku ada di dalam dunia kampus. Bersama para buruh dan tani di dalam baris massa yang rapi, itulah duniaku, dunia seorang demonstran.

Syam
Latest posts by Syam (see all)