Sepak Bola dan Kelakuan Para Fans

Sepak Bola dan Kelakuan Para Fans
©LawinSport

Seakan keseruan atau pertarungan sebenarnya itu ada di antara para fans (fanatik).

Eropa dan Amerika Latin sedang menjadi fokus dunia—semua mata dunia sedang tertuju pada dua benua ini. Pasalnya, ada perhelatan olah raga terbesar di jagat raya, yakni turnamen sepak bola bertajuk Euro 2021 di Eropa yang bertempat di 11 negara dan Copa Amerika 2021 di mana Brazil menjadi tuan rumah penyelenggara. Kedua turnamen ini adalah turnamen yang paling bergengsi setelah Piala Dunia (World Cup).

Kedua turnamen ini juga menjadi menarik dengan diadakan saat masa pandemi Covid-19 masih berkelana di seluruh belahan dunia. Di saat banyak kebijakan dan aturan dibuat dengan menghindari kerumunan, jaga jarak, dan lain sebagainya, di ajang Euro atau Piala Eropa dilaksanakan penuh suka cita seakan menepis masalah global Covid-19 yang sedang melanda.

Bahwa selama turnamen berlangsung, stadion atau lapangan yang menjadi pusat permainan dan pertandingan negara-negara (tim) peserta diisi dengan puluhan ribu penonton yang datang menyaksikan tim kebanggaannya. Bahkan penonton-penonton ada yang datang dari luar negara-negara tuan rumah. Hal berbeda terjadi di Copa Amerika atau Piala Zona Conmebol di mana tidak ada penonton yang memenuhi bangku penonton di stadion—tetapi tetap ada kemeriahan yang terjadi dalam turnamen.

Menariknya Sepak Bola

Kita tahu bahwa kedua turnamen ini sudah berada pada fase puncak perhelatan, yakni partai final. Di Piala Eropa ada Italia menghadapi Inggris di final, sedangkan di Copa Amerika mempertemukan Argentina dengan Brazil di partai final. Pastinya, semua orang dan semua mata akan tertuju pada laga final ini—baik di Euro maupun Copa Amerika.

Sepak bola memang menjadi permainan olah raga yang menarik dan enak untuk ditonton. Sepak bola sampai hari ini masih menjadi olah raga difavoritkan seluruh penghuni bumi. Sepak bola menjadi olahraga paling banyak ditonton di dunia dengan perkiraan 4 miliar penggemar.

Sepak bola telah dimainkan oleh lebih dari 270 juta orang secara global, dengan empat benua paling banyak mendominasi olahraga ini, yaitu Eropa, Afrika, Amerika, dan Asia. Turnamen sepak bola dengan tontonan paling banyak adalah Piala Dunia, hampir setiap perhelatan itu digelar ada sekitar 3,5 miliar menyaksikan event tersebut. Disusul dengan turnamen-turnamen yang lain termasuk Euro dan Copa America.

Di lain sisi, sepak bola itu bukan hanya menampilkan sebuah permainan, tetapi sepak bola juga menampilkan sebuah seni. Bahwa sepak bola tidak hanya olahraga atau fisik saja, tetapi lebih dari itu, sepak bola juga adalah olah akal pikiran. Baik olah akal pikiran dari yang main maupun yang
menonton.

Hampir seluruh masyarakat di dunia menempatkan permainan sepak bola di sudut hati mereka masing-masing. Penonton rela mengeluarkan uang untuk melihat tim kesayangannya bermain.  Atau mengenakan kaos dengan nomor, nama, dan negara tertentu.

Meskipun mereka harus berjalan kaki, naik sepeda, mobil, kapal atau pesawat terbang, penonton tetap mendatangi stadion sepak bola untuk bisa melihat langsung tim favoritnya bermain selama 2 x 45 menit.  Sementara penggemar sepak bola lainnya bisa melihat di layar kaca televisi, meskipun harus terlambat kerja karena baru bisa ditayangkan saat malam atau bahkan subuh.

Dari sisi bisnis antara tahun 2011-2014 penghasilan FIFA sekitar 5,7 miliar dolar AS. Tahun 2014 sendiri, dari Piala Dunia, pemasukan untuk FIFA sekitar 2,4 miliar dolar AS. Tidak heran kalau dari masa ke masa isu korupsi dan suap pejabat FIFA selalu menghiasi berita dunia. Tidak sedikit personel FIFA yang ditangkap atau kena sanksi pelarangan aktif di sepak bola untuk seumur hidup.

Baca juga:

Dalam sebuah pertarungan, menang atau kalah selalu menjadi hasil akhir. Begitu pun sepak bola. Segala-galanya akan selalu indah bagi tim yang menang, dan sebaliknya kekalahan akan membuat tim dan penonton tertunduk sedih bahkan menangis. Kemenangan di sepak bola memang berarti segala-galanya terutama bagi si pemenang.

The winner takes it all, itulah istilah yang sangat populer bagi sang juara di olahraga. Sementara tim yang kalah akan merasa sangat terpukul, meskipun sudah mencapai babak final sekalipun. Penonton pun bisa ikut larut, baik dalam suasana kegembiraan maupun kesedihan.

Sepak bola bahu-membahu satu sama lain dengan visi dan misi yang sama dalam menciptakan peluang dan mencapai tujuannya yaitu kemenangan. Begitu pula hidup yang tak lepas dari ketergantungan orang di sekitar kita, baik dari segi politik, bisnis, sosial dan lain-lain tentunya dengan tujuan-tujuan tertentu.

Benarlah apa yang dikatakan mantan pelatih Liverpool, Bill Shankly mengenai sepak bola bahwa “Some people believe football is a matter of life and death….it is much, much more than that” (Beberapa orang percaya sepak bola adalah bukan saja masalah hidup dan mati… tapi lebih dari itu).

Tingkah Fans

Ada dua keseruan dalam dua turnamen yang digelar ini. Keseruan pertama jelas terjadi di lapangan, sedangkan keseruan kedua ini terjadi antara para fans atau pendukung masing-masing tim (negara peserta). Keseruannya itu bermacam, ada saling menghina, saling bully, saling hujat, dan lain sebagainya.

Dan fenomena saling serang ini terjadi jauh dari tempat atau wilayah perlombaan yakni di Indonesia. Bagaimana dengan di negara lain? Seakan keseruan atau pertarungan sebenarnya itu ada di antara para fans (fanatik). Artinya, yang terjadi di dalam lapangan ketika bertandingan dengan penuh sportivitas berbeda jauh dengan susanan di luar lapangan yang jauh di sana.

Fenomena yang selalu terjadi ketika melihat selama turnamen ini berlangsung di antaranya:

Banyak netizen yang dengan bebas mengedit foto pemain-pemain bintang di setiap negara dengan gambar yang aneh-aneh ketika negara/tim mereka kalah dan gugur dari turnamen—bahkan yang menang pun jadi korban editan. Seperti pemain yang sering fotonya diedit jadi sesuatu yang aneh adalah Mbappe dari Prancis, Christian Ronaldo dari Portugal, Muller dari Jerman, Morata dari Spanyol, Lukaku dari Belgia, Memphis Depay dari Belanda. Sedangkan yang selalu menang tapi tetap menjadi korban adalah Messi dan Neymar dari Argentina dan Brazil.

Kemudian banyak perilaku para fans yang menunjukkan ketidaksportifnya dalam merespons hasil pertandingan. Bahwa ada fans yang seakan-akan tidak mau menerima kekalahan fans timnya, padahal kenyataannya mereka kalah. Begitu pun sebaliknya—ada fans yang tidak mau menerima kemenangan tim yang tidak disukainya, walaupun tim yang tidak disukainya itu berhadapan dengan tim lawan. Meraka beralibi dengan segala macam cara.

Ada yang mengatakan seperti ini, “walaupun kalah tetapi secara terhormat”, “tim/negara itu menang karena kawan tidak seberapa”, dan masih banyak lagi. Maksud saya adalah tidak harus alibi-alibi ini keluar, bahwa kalah ya kalah atau menang ya menang.

Hal-hal yang terjadi di atas menunjukkan kalau kebanyakan para fans di Indonesia tidak berkualitas dalam mendukung fans di Eropa maupun di Amerika Latin sana. Banyak yang tidak rasional dalam menanggapi hasil pertandingan serta para netizen kita yang tidak beretika dan tanpa mereka sadari ada semacam praktik yang tidak baik kepada pemain sepak bola dunia secara tidak langsung dengan mengedit sekian foto yang sudah banyak beredar dan sering mewarnai dinding media sosial sejauh ini.

Dari sini saya mau tegaskan bahwa sepak bola tetap memiliki energi positif yang salah satunya mampu meredakan perseteruan bahkan konflik antar-sesama maupun kelompok. Namun, yang mengecewakan adalah tingkah laku para fans yang belum mencerminkan nilai edukasi dan seni dari sepak bola itu sendiri terhadap kehidupan kita sehari-hari. Semoga ada perubahan ke depannya.

    Latest posts by Nardi Maruapey (see all)