Sepak Bola yang Bebas dari Politik?

Sepak Bola yang Bebas dari Politik?
Selebrasi Granit Xhaka & Xherdan Shaqiri saat rayakan gol kemenangan Swiss atas Serbia. (Getty Images)

Sepak bola telah lama menjadi simbol harkat dan martabat sebuah bangsa. Apalagi dalam turnamen akbar seperti Piala Dunia dan Piala Eropa. Nasionalisme khidmat dilantunkan lewat nation anthem. Kebanggaan etnis pun diewajantahkan begitu semarak (terkadang garang) dalam ragam atribut suporter.

Karena itu, sekalipun FIFA kini tak segan-segan menghukum siapa saja yang berani membawa pesan politik ke dalam stadion, namun, seperti halnya agama, politik tetaplah sebuah keniscayaan. Muskil disingkirkan dari sepak bola. Hal ini lantaran berkat kepopulerannya. Sepak bola telah mengakar begitu rupa dalam kehidupan masyarakat dunia. Menjadi bagian dari politik identitas.

Tengoklah aksi selebrasi Granit Xhaka dan Xherdan Shaqiri, dua pemain Swiss keturunan Albania asal Kosovo di Stadion Kaliningrad, Sabtu (23/6/2018) lalu. Merayakan gol kemenangan Swiss atas Serbia, mereka serta-merta menyilangkan tangan di depan dada dengan dua ibu jari saling mengunci. Ya, seolah membentuk simbol elang berkepala ganda pada bendera Albania. Alhasil, FIFA pun menjatuhkan sanksi denda masing-masing €7.700 kepada keduanya. Mereka dianggap telah melakukan provokasi publik.

“Sepak bola internasional adalah kelanjutan dari perang dengan cara yang lain!” Ini kata wartawan dan novelis Inggris, George Orwell. Dan Grant Jarvie dari Universitas Edinburgh punya istilah “90-minutes patriots” untuk para pesepak bola.

Bagi rakyat Argentina di Piala Dunia 1986, gol handball termasyhur Diego Maradona ke gawang Peter Shilton tentunya sebuah pembalasan yang pantas. Karena Inggris mencaplok Kepulauan Malvinas. Dan 8 tahun sebelumnya, tatkala Piala Dunia 1978 digelar di negeri mereka, Presiden Jorge Videla menjadikan ajang itu alat mengampanyekan keberhasilan pemerintah militer. Sehingga, apa pun caranya, Tim Tango mesti keluar sebagai juara.

Johan Cruyff tak berani datang. Di rumahnya, di Barcelona, ia ditodong dan keluarganya disekap. Junta militer bahkan mengirim jutaan ton gandum ke Peru, yang lantas menggantinya dengan kebobolan 6 gol.

Kita pun tahu betapa tingginya tensi pertemuan Jerman dengan Inggris atau Belanda. Sampai-sampai Franz Beckenbauer mendeskripsikannya dengan ungkapan “sepak bola dalam wujudnya yang termurni”. Ya, betapa tidak, jika setiap kali bersua dengan Der Panzer, orang Inggris dan Belanda masih saja sering menghubungkan pertandingan dengan kepahitan mereka di masa Perang Dunia II.

Malah suporter Three Lions punya lagu khusus berjudul Two World Wars and One World Cup untuk membakar semangat para pemain mereka di lapangan. Lagu yang mengadopsi irama Camptown Races karya Stephen Foster (1826-1864) ini merujuk pada kemenangan Inggris atas Jerman dalam dua kali Perang Dunia dan Final Piala Dunia 1966. Walaupun FIFA sudah melarang lagu ini sejak Piala Dunia 2006 di Jerman, toh masih juga ia terdengar dalam pelbagai laga antarkedua negara.

“Tentu saja kami tidak membenci kalian. Tetapi rivalitas ini adalah warisan dari era Nazi. Orang Belanda tak bisa memaafkan orang Jerman yang menduduki negeri mereka. Kalian mencuri sepeda kami,” demikian kata penulis Belanda, Leon de Winter, kepada majalah terkemuka Jerman, Der Spiegel, dalam sebuah wawancara pada 2012.

Menurutnya, kendati kejadian pada era itu tinggallah folklor bagi orang-orang muda, tetapi dalam sepak bola, kemarahannya layak dihidupkan kembali. Agar pasukan oranye merasa lebih kuat dan mendefinisikan identitas dengan lebih jelas.

Lalu, seperti biasanya, kita juga tahu, pers kerap tampil sebagai yang terdepan dalam hal memanasi-manasi. “Achtung Surrender, Football War on Germany,” tulis Daily Mirror dalam headline-nya pada Piala Eropa 1996 tatkala Inggris menjadi tuan rumah. Mereka seolah tak peduli sejarah mencatat betapa brutalnya laga Battle of Santiago pada Piala Dunia 1962. Tepat ketika para pemain Chile saling beradu jotos dengan pemain Italia di Estadio Nacional, Santiago. Itu akibat pemberitaan dua jurnalis Italia yang kurang bertanggung jawab. Menulis soal buruknya kondisi Chile sebagai tuan rumah, yang lalu dibalas tak kalah garang oleh media-media Chile.

“Saya tak memimpin pertandingan sepak bola. Saya ketika itu menjadi wasit dalam sebuah aksi manuver militer,” ujar wasit Ken Astan yang ikut terluka pada pertandingan tersebut.

Ya, tak perlu heran karenanya apabila pada Piala Dunia 2018 di Rusia kali ini, kita pun lagi-lagi menemukan media seperti ‘mid-day.com’ dari India menurunkan artikel provokatif dengan judul “FIFA World Cup 2018: Can Germany’s Joachim Loew succeed where Adolf Hitler failed?”.

Warga Jerman dan para fans Die Mannschaft kemudian jadi tambah meradang. Ketika kekalahan tim mereka dari Korsel pada laga terakhir Grup F di Kazan Arena (28/6/2018), membuat Thomas Mueller dkk harus berkemas pulang kampung, dikait-kaitkan dengan tersingkirnya mereka pada fase knock-out Piala Dunia 1938 akibat kalah 4-2 dari Swiss. Yang mana pada saat itu Nazi memaksa 5 pemain Austria bergabung di kesebelasan Jerman. Ini belum lagi ditambah oleh olok-olok terhadap mereka dalam bentuk meme yang beredar luas di medsos, yang antara lain menampilkan sosok “Der Fuhrer”.

“Mengaitkan sepak bola modern Jerman dengan Nazi adalah rasisme! Itu juga masa lalu yang menyakitkan bagi orang Jerman. Sebagian besar rakyat Jerman pun sangat membenci Hitler,” begitulah respons mereka.

Namun, celakanya, tahun lalu, kala Jerman melawan Republik Ceko di babak kualifikasi zona Eropa grup C di Stadion Eden, Praha, oknum-oknum suporter mereka sendiri justru menyanyikan lagu Nazi. Itu berlangsung tepat pada hari peringatan invasi pasukan Hitler ke Polandia 1 September 2017. Para fans terdengar melantunkan Sieg Heil saat lagu kebangsaan Jerman sedang diputar!

Ya, anasir politik bisa hadir ke dalam sepak bola dalam wujud yang beragam. Mulai dari upaya para diktator, seperti Mussolini dan Hitler memanipulasi Piala Dunia di era Perang Dunia II. Para politikus yang jadi pemilik klub-klub ternama dan membeli hati para suporter untuk mendulang suara. Atau dukungan terhadap perjuangan Palestina yang dibentangkan di tribun dan penolakan sebuah kesebelasan bertanding dengan lawannya. Hingga lagu-lagu Brexit yang dinyanyikan para suporter Inggris pada Piala Eropa 2016.

Sebagai keturunan etnis Albania, selebrasi Xhaka dan Shaqiri di Kaliningrad tentunya sarat dengan muatan politis. Lantaran lawan mereka adalah Serbia yang tidak mengakui kemerdekaan Kosovo, bekas provinsinya yang mayoritas beretnis Albania. Karena itu, dalam laga kedua Grup E yang berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan Swiss berkat gol mereka, keduanya pun mengenakan sepatu berbendera Kosovo.

Xhaka adalah kelahiran Swiss. Ayahnya yang pernah menjadi tahanan politik di penjara Yugoslavia hijrah ke Swiss pada tahun 1990. Sementara Shaqiri dilahirkan di Gjilan, sebuah distrik di bagian timur Kosovo. Semenjak keduanya masih kecil, ayah mereka kerap mengisahkan kekejaman tentara Serbia dalam Perang Balkan.

“Jangan lupa dari mana dirimu berasal!” begitulah syahdan ayah Shaqiri selalu berpesan setiap kali ia akan mengikuti sebuah turnamen besar.

“Aku memikirkan (selebrasi) ini dan tak ingin membicarakannya. Dalam sepak bola, Anda pasti selalu memiliki emosi. Anda dapat melihat apa yang kulakukan. Dan itu hanya luapan emosi karena aku senang dapat mencetak gol. Aku melakukannya. Dan kita tak perlu membicarakan hal ini,” ujar Shaqiri selepas pertandingan seperti dilansir oleh ESPN.

Maka, seperti kata kolumnis terkemuka Tom Utley, “Menyatakan bahwa sepak bola hanyalah permainan belaka merupakan omong kosong yang paling memalukan. Sepak bola adalah sains dan seni. Ia adalah perang, drama, teror, sekaligus kegembiraan yang menjadi satu kesatuan.”

Sebab itulah, saya kira, usaha FIFA untuk menjaga sepak bola dari anasir-anasir politik masih akan menjadi PR panjang di tahun-tahun mendatang. Termasuk di antaranya mencoba menghilangkan Perang Sipil antara Catalan dan Madrid dalam laga El Classico.

Bukan saja lantaran FIFA sendiri sebagai lembaga tertinggi sepak bola dunia tak pernah lepas dari aktivitas politik. Misalnya, dengan terbongkarnya isu pembelian suara tuan rumah Piala Dunia 2010 lalu. Tetapi, sering kali isu-isu politik yang menyelimuti sebuah laga dan menaikkan tensinya itu justru membuat stadion dipadati penonton. Ditunggu-tunggu oleh jutaan pemirsa di muka televisi.

Janganlah lupa, bagaimanapun, sepak bola adalah sebuah industri raksasa. Bahkan diakui atau tidak, perayaan nasionalisme-lah yang membuat sebuah turnamen seperti Piala Dunia mampu menggaungkan keagungannya ke seluruh penjuru bumi.

___________________

Artikel Terkait:
Sunlie Thomas Alexander
Sunlie Thomas Alexander 2 Articles
Kritikus Sastra | Pengelola penerbit indie Ladang Publishing