Sepenuh Hati Memenuhi Panggilan Berziarah

Sepenuh Hati Memenuhi Panggilan Berziarah
©Dok. Pribadi

Sepenuh Hati Memenuhi Panggilan Berziarah

Jumat lalu, 08 September, aku dan kawan-kawanku pergi berziarah ke kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Ini adalah kali ketiga aku ke sana untuk berziarah. Awalnya pada 28 Juli 2018, aku ke sana bersama kakak perempuanku dan keluarganya. Kemudian tahun kemarin, tepatnya 23 Maret 2022, aku ke sana bersama tetanggaku.

Kini, aku ke sana bersama kawanku dari Makassar yang katanya baru mendapat undangan berziarah dari sana. Maksud dari mendapat undangan di sini, kita tidak akan bisa pergi berziarah ke sesuatu tempat misalnya ke makam wali jika bukan mendapat “panggilan” dari sana.

Menurut kawanku, jika belum mendapat panggilan ini kita belum bisa ke mana-mana (ke makam wali). Beda jika maqam kita sudah level mencintai wali, kita akan berusaha memenuhinya dengan sepenuh hati dan ikhlas karena panggilan itu juga datang secara otomatis misalnya, kita akan gelisah di suatu tempat yang baru kita datangi jika kita tidak melakukan ziarah terlebih dahulu setelah melakukan ziarah, hati pun menjadi tenang.

Ngomong-ngomong soal panggilan, aku juga sudah memanggil beberapa orang untuk ikut berziarah. Beberapa dari mereka memang punya minat yang sama dalam dunia ziarah spiritual; ada adikku, Muja (adiknya kak Cia). Adikku yang mengajar di MAN Lampa, tapi karena masih jam kerja, belum libur jadi belum bisa ikut berziarah. Kemudian, ada Apri yang suka pergi bersamaku berziarah, namun hari itu ia ada pengajian rutin jadi belum sempat.

Terus ada adik dosen, dan pengajar di pesantren, Syarif, tetapi ia lagi ada amanah yang tidak bisa ditinggalkan. Syarif berharap ada momentum lain untuk kesana, dan minta didoakan di sana. Aku juga memanggil adik sepupu, Uppy dan Izzah namun berhalangan karena ada tugas.

Hari itu, kami berangkat kesiangan karena semalam begadang karena ada acara. Aku juga tidak bisa tidur cepat akibat insomnia dan paginya aku kedatangan tamu lalu kami menyempatkan diri untuk berziarah dulu di makam kakek Imam Lapeo yang terletak di desa Lapeo, kecamatan Campalagian, kabupaten Polewali Mandar bersama Ammoz dan Faje karena kami pernah mendapat nasihat dari seorang kuncen di suatu makam wali, katanya sebaiknya sebelum ziarah makam orang lain atau wali lebih dahulu mendahulukan menyiarahi makam tosalama Imam Lapeo atau keluarga terdekat. Saat itu entah mengapa, aku merasa sedih.

Kawan-kawanku baru bersiap mandi ketika jam delapan lewat, sementara bapak Haji Usman yang akan mengantar kami sudah datang dengan mobilnya. Aku masih sempat sarapan nasi, sedang kawan-kawanku hanya makan cemilan yang dibawa oleh adik dosen Faje. Faje disela-sela kesibukannya mengajar di kampus Majene, mau ikut berziarah ke makam Wali Tosora dan KH. Muhammad As’ad.

Lalu di jalan, kami menjemput Elna di daerah Manding, kenalanku dari teman-teman pegiat Literasi Sulbar yang ingin kuajak berziarah karena mengingatnya gara-gara kita suka saling DM di IG. Jadi, formasi yang berangkat hari ke Wajo itu delapan (8) orang yaitu; aku, dua kawanku dari Makassar, Ammoz, Faje, Kak wahidah, dan Elna juga pak H. Usman yang laki-laki sendiri laki.

Baca juga:

Mungkin karena cuaca yang panas, dan jalan sangat ramai karena menjelang salat Jumat. Kami merasakan mual. Padahal, ini baru di Polewali Mandar, Sulawesi Barat belum pindah ke kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, kami semua juga adalah orang yang biasa melakukan perjalanan jauh, perempuan-perempuan yang suka bepergian jauh. Kami pun singgah membeli buah anggur, jeruk, dan pisang.  Setelah memakan buah beberapa dari kami tampak ketiduran.

Ketika salat Jumat tiba, pak H. Usman singgah di masjid Atta’wun Marawi, Pinrang. Kami pun turun untuk ikut salat Jumat dan Duhur. Masjid ini indah ada kolam ikan di dekat tempat wudhunya. Kami merelaksasi diri sebentar melihat ikan-ikan, selfi-welfi sebelum ikut masuk ke masjid karena kami serasa “anak perawan di sarung penyamun”.

Setelah salat, kami mencari tempat untuk makan. Kami membawa bekal nasi putih, ikan goreng, semur kecap tempe-tahu, mie kering, kerupuk, dan sambal tomat. Kami makan dengan lahap di suatu rumah-rumah di jalan poros Sidrap. Rumah-rumah itu adalah rumah kosong yang biasa dipakai orang berjualan kopi dan mie siram di sepanjang jalan Poros. Suasananya sejuk banget karena dibelakang kami adalah areal persawahan dan irigasi air yang jernih.

Kami melanjutkan perjalanan, sepanjang perjalanan di Sidrap sejauh mata memandang kami melihat sawah yang hijau maupun yang sudah kuning karena sudah panen. Faje bilang orang Sidrap sangat makmur, sentosa. Ammoz sampai berseloroh siap berkenalan dengan anaknya si pemilik sawah. Kami juga mengomentari banyaknya masjid di jalan yang kami lalui. Sesuatu yang bisa sangat menggembirakan sekaligus menyedihkan.

Adik Sinar, santriwati lepasan Bonde, Campalagian yang biasa berziarah di Lapeo, kini ia berkuliah di As’adiyah menghubungi kami, dan bertanya kami sudah di mana. Sebelumnya, aku memang menghubungi Sinar untuk diantar ke makam anregurutta KH. Muhammad As’ad pendiri pesantren As’adiyah untuk diantar berziarah nanti karena sebelumnya di tahun 2022, kami tidak menemukan ke makam beliau karena kami lupa dan para penduduk tidak jelas memberikan informasi tempatnya.

Aku balas chat Sinar dengan mengatakan kami mengalami macet di suatu daerah di Sidrap. Ternyata penyebab macetnya adalah acara pernikahan. Rumah pengantin yang besar terletak di pinggir jalan dan tamu-tamunya yang sangat banyak terbukti dengan mobil yang berjejer. Akhirnya, ketika melihat plang jalan dan tanda arahnya di jalan yang tertulis: “Sengkang kearah kanan, Palopo kearah kiri” kami menjadi bahagia.

Tiba-tiba ada chat dari Mila, ia mengomentari postinganku tentang Plang tadi, Sengkang. Ia meminta didoakan agar keluarga kecilnya diberi kesehatan dan kebahagiaan punya generasi. Kujawab amin yaa Allah dengan emotikon.

Kakek para Wali, Kami Datang…

Beberapa menit sebelum sampai di makam wali Tosora, beberapa dari rombonganku mencium bau harum, bau bunga melati, namun bau ini tidak seperti parfum melati. Mungkinkah karena kami melewati rumah –rumah penduduk yang asri dengan tanaman bunga di depan rumahnya, atau karena banyaknya pohon-pohon dan areal perbukitan di sepanjang perjalanan itu yang dibawa oleh angin masuk ke jendela mobil? Wallahu alam bishowab. Setelah Azar, kami baru sampai di desa Tosora, kecamatan Majauleng, kabupaten Wajo. Betapa bahagianya kami, perjalanan yang panjang dan melelahkan itu terbayar sudah ketika melihat kompleks masjid dan makam wali Tosora.

Halaman selanjutnya >>>
Zuhriah