Seputar Rohingya dan Bagaimana Seharusnya Mahasiswa Bersikap

Seputar Rohingya dan Bagaimana Seharusnya Mahasiswa Bersikap
©AI

Beberapa hari lalu, tepat setelah peringatan 19 tahun Tsunami Aceh, sebuah video liputan dari media pers internasional Aljazeera menghebohkan dunia. Video itu menayangkan sejumlah aliansi mahasiswa di Banda Aceh yang menolak kehadiran pengungsi Rohingya di tanah Serambi Mekah itu. Tak tanggung-tanggung, para mahasiswa seakan menuangkan seluruh keresahan masyarakat Aceh atas pengungsian orang-orang Rohingya.

Gerombolan mahasiswa itu marah, mengamuk, membentak, dan mengusir kaum Rohingya yang terdiri dari orang dewasa, perempuan, dan anak-anak. Sedangkan, pengungsi yang terpojok hanya dapat menangis dan berteriak ketakutan.

Bahkan, dalam banyak video yang beredar, beberapa mahasiswa melempari para pengungsi itu dengan botol. Suatu pemandangan yang barangkali sangat jarang kita lihat dilakukan oleh kelompok yang mengaku terpelajar itu, para mahasiswa.

Walhasil, banyak pihak yang kemudian mengecam tindakan biadab itu, baik dari dalam negeri maupun dunia internasional.

Rohingya dan Kebencian Berbasis Ras

Membicarakan soal pengusiran kaum Rohingya pada dasarnya adalah hal yang sangat pelik dan rumit. Persoalan Ini tidak hanya berhenti pada perihal kaum Rohingya yang diusir dan dipaksa meninggalkan tempat pengungsian. Lebih dari itu, hal ini menyangkut soal diskriminasi ras, penyelundupan, kelalaian pemerintah, penyebaran hoaks, dan tentunya mahasiswa-mahasiswa sumbu pendek yang gampang tersulut emosi.

Sekilas mengenai etnis Rohingya, mereka adalah masyarakat muslim minoritas yang tinggal di Arakan (sekarang Rakhine), Myanmar. Di daerah ini, sering kali terjadi kerusuhan antara etnis Rohingya dengan kelompok mayoritas Myanmar beragama Buddha. Hal ini sudah berlangsung sejak lama, yakni dari masa pemerintahan kerajaan Arakan.

Keberadaan etnis Rohingya ditolak oleh mayoritas masyarakat yang beragama Buddha dan tak jarang menyebabkan adanya penindasan dan pembunuhan. Keadaan juga makin diperkeruh dengan adanya aksi saling serang antara dua kelompok masyarakat tersebut.

Di samping itu, situasi politik juga menjadi faktor penunjang yang mempersulit terjadinya penyelesaian konflik. Aparat kepolisian dan militer, bukannya berupaya untuk mencari titik temu persoalan, malah ikut-ikutan terlibat dalam aksi pembantaian dan kekerasan terhadap etnis Rohingya.

Baca juga:

Sampai pada hari ini, etnis Rohingya tidak diakui kewarganegaraannya. Konflik etnis dan agama itu hingga sekarang belum menemui titik penyelesaiannya. Orang-orang Rohingya menyebar ke beberapa negara seperti Malaysia, Indonesia, dan Arab untuk mencari suaka.

Perubahan Sikap Masyarakat Aceh

Di Indonesia, Aceh adalah destinasi utama pengungsi Rohingya. Alasannya, selain karena Aceh adalah adalah daerah paling barat dan berdekatan dengan Myanmar, masyarakat Aceh dikenal sebagai penganut muslim yang taat dan ramah terhadap tamu. Pengungsian warga Rohingya ke Aceh bahkan sudah dimulai sejak 2009.

Ketika itu, respons masyarakat Aceh terhadap pengungsi Rohingya sangatlah baik. Mereka diberikan tempat pengungsian yang layak beserta dengan akomodasi yang cukup. Hal ini tentunya didasari oleh adanya kesamaan keyakinan antara masyarakat Aceh dan pengungsi Rohingya serta sebagai bentuk empati terhadap kelompok yang tertindas.

Namun, belakangan ini situasi makin rumit. Banyak informasi berseliweran yang memberitakan hal-hal negatif mengenai pengungsi Rohingya. Tak sedikit pula yang berisi ujaran kebencian dan sentimen rasis.

Seperti misalnya orang Rohingya yang berdemo menuntut pulau, penjajahan gaya baru (seperti yang terjadi di Palestina), Lembaga UNHCR yang tidak peduli terhadap pengungsian Rohingya, dan lain sebagainya. Pada akhirnya, penyebaran berita ini menjadikan warga Aceh resah dan menuntut kepergian orang-orang Rohingya tersebut.

Narasi kebencian dan sentimen ras menjadi bahan makanan sehari-hari warganet, khususnya pemuda dan mahasiswa. Berita-berita yang banyak berlalu-lalang di media sosial itu pun belum tentu benar adanya. Begitu banyak berita mengenai Rohingya yang tidak dapat diverifikasi kebenarannya.

Berita-berita yang tak jelas muaranya ini telah dicek oleh beberapa media arus utama tanah air, di antaranya adalah Tempo. Hasil pengecekannya adalah bahwa informasi yang berseliweran di dunia maya nyatanya banyak yang keliru.

Pengusiran Rohingya, Bukti Betapa Tidak Kritisnya Mahasiswa Hari Ini

Kali pertama menonton video amukan mahasiswa tersebut melalui Reels Instagram, saya lantas merasa kecewa dan geram. Kecewa karena peristiwa itu terjadi di daerah tempat saya lahir dan geram lantaran aksi biadab itu dilakukan oleh para mahasiswa. Pasalnya, selama saya hidup, belum pernah saya temukan tindak penindasan dan pengusiran sedemikian keji dilakukan oleh sekelompok kaum terpelajar.

Halaman selanjutnya >>>
Abil Arqam