Serunya Berziarah Jam Satu Malam ke Makam Raden Suryadilogo

Serunya Berziarah Jam Satu Malam ke Makam Raden Suryadilogo
©Dok. Pribadi

Kami berziarah ke makam Raden Suryadilogo, salah satu penyebar agama Islam di Majene yang berasal dari keraton Solo.

Kemarin, tepat di hari peringatan kelahiran Kartini, 21 April 2022, aku bersama adik dan sahabat-sahabat perempuanku Ammoz, Mila, dan Tina berencana melakukan ziarah di bulan puasa. Kata Tina istilahnya “berzamali” yang kepanjangannya berziarah ke makam wali yang awalnya kukira jika berzamali itu berziarah bersama literasi. Pasalnya, Mila dan Tina merupakan tokoh-tokoh penggerak literasi di Sulawesi Barat, khususnya di Polewali Mandar.

Sore itu, kami berencana berziarah di makam puang To Barani (Warani) di Tandung, Tinambung yang menurut sejarahnya adalah salah satu tokoh Mandar yang merupakan panglima perang. Ada juga yang menyebutkan beliau berjuang melawan Belanda. Namun, kata seorang guru spiritual jika beliau lebih dari itu. Beliau merupakan “hakim” yang dengan adil menangani suatu perkara, menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Tapi, sore itu mungkin karena aku dan Ammoz yang naik motor bersama terlambat  bergeser dari Lapeo, Campalagian ke Tandung yang berjarak kurang lebih sepuluh kilometer. Kemudian begitu juga dengan Mila beserta Tina pun yang juga menempuh perjalanan jauh dari kota Polewali Mandar. Lalu ditambah macet di lampu merah Tinambung di mana jam empat sampai lima sore saat orang sibuk mencari makanan untuk berbuka puasa atau takjil membuat kami tidak sempat berziarah ke makam puang To Barani.

Akhirnya kami langsung buka puasa bersama di masjid besar Tandung, Nurul Bashar. Di sana, Mika dan Uppy sudah menanti kami dengan menu buka puasa seperti menu di kondangan. Ada kari kambing, ayam goreng, acar, ikan bakar yang dibumbui pedas, pupu’ (makanan khas Mandar dari ikan yang dihancurkan dan diberi rempah-rempah kemudian digoreng), dan lain sebagainya.

Suasananya sangat ramai, penuh suka cita, dan kesyukuran yang luar biasa di mana masyarakat Tandung secara gotong-royong menyiapkan buka bersama yang dihadiri oleh masyarakat itu sendiri juga dengan mengundang banyak orang dari luar.

Kami merasakan buka puasa yang serasa di rumah sendiri. Seperti biasa, walaupun di hadapan kami ada teh, kue bolu, gorengan, tetap nasi dan lauk-pauk menjadi nomor satu untuk dinikmati. Kami menikmati makanan dengan lahap selama kurang lebih lima belas sampai dua puluh menit sebelum azan Magrib berkumandang dan beberapa orang, baik perempuan dan laki-laki, yang telah selesai makan membantu merapikan hidangan dan menyingkirkan piring-piring kotor.

Setelah menunaikan salat Magrib, kami baru berencana berziarah ke makam puang To Barani yang terletak tidak jauh dari rumah kerabat. Kami hanya melewati dua rumah kemudian menyeberang dan menaiki sedikit tanjakan. Namun, karena banyak pepohonan, dan tidak ada lampu, kami tidak jadi naik ke atas areal makam. Apalagi, kami sempat melihat seekor anjing yang melintas. Sehingga, kami menundanya esok hari setelah dari Pamboang.

Kami segera bersiap untuk salat tarawih dan witir berjemaah, dan menanti KH. Sibli Sahabuddin untuk berceramah di masjid tadi. Kami mendapati jika masyarakat Tandung sangat antusias dengan kehadiran beliau. Karena setelah ceramah di masjid pun, KH. Sibli Sahabuddin masih menyempatkan diri berbagi ilmu agama di rumah salah satu warga setelah makan malam bersama.

Sebelum berangkat ke makam Raden Suryadilogo

Bergeser ke Pamboang, Majene

Menjelang jam dua belas, kami berempat (aku, Ammoz, Mila, dan Tina) segera menuju ke Pamboang, Majene. Kami akan berziarah ke makam Raden Suryadilogo, salah satu penyebar agama Islam di Majene yang berasal dari keraton Solo. Sebelumnya, kami sudah pernah ke sini sekitar 2013, kemudian Februari tahun ini.

Di Februari kemarin, si juru kunci (kuncen) atau juru pelihara makam (jupel) menyarankan kepada kami jika kami ingin mendapatkan sesuatu yang lebih spiritual, kami disarankan berziarah pada malam Jumat di tengah malam, pada jam dua belas, satu, sampai menjelang subuh. Kami akhirnya bisa melaksanakannya saat malam Jumat tepat jam satu kemarin.

Walaupun awalnya serasa horor sendiri untuk menuju makam yang gelap. Namun, kami percaya diri dan berkeinginan kami kuat untuk merasakan energi berkah leluhur, tokoh agama, di Mandar, Sulawesi Barat. Kami diantar oleh kuncen, kak Aminuddin.

Sebelumnya, kami telah menghubungi kak Mawang untuk menghubungkan kami dengan kuncen sekaligus mengawal kami. Ia merupakan kakak bagi kami, seorang kakak yang suka bertualang naik gunung, dan bergabung dengan tim Sars. Ia mengajak kak Anca yang sefrekuensi untuk ikut serta.

Seru juga menempuh perjalan ke makam dari rumah kebun si kuncen. Kami beramai-ramai melewati tempat peternakan kambing, kebun penduduk, dan jalan menuju areal makam yang sebelum sampai kami melewati kuburan atau makam yang terpisah dari kompleks pemakaman raja tempat Raden Suryadilogo dimakamkan.

Kami berjalan dengan berbekal senter kepala (hand lamp), dan senter hape Android. Kami masuk di areal makam yang di depan pintu pagarnya tertulis jika komplek makam ini dilindungi oleh dinas cagar budaya. Di depan makam juga ada dua pohon beringin yang besar mungkin telah berumur puluhan atau bahkan ratusan tahun. Tetapi, Tina hanya bisa sampai di suatu rumah kecil tempat istirahat karena ia lagi haid, perempuan yang haid dilarang sampai ke makam suci.

Awalnya, suasana sangat gelap dan terasa mencekam. Lama-kelamaan, langit terlihat terang, ditambah bulan bersinar terang di malam dua puluh  (20) Ramadan. Malam itu serasa, malam Lailatul Qadar, malam yang lebih mulia daripada seribu bulan, suasananya sepi, tenang, sampai pohon tidak bergoyang ditiup angin, dan langit terlihat cerah.

Sekitar setengah jam di sana, kami menyalakan dupa, mengirimkan Fatihah, membaca Yasin dari hape, menyiramkan air ke makam, kemudin melakukan “healing” ala kami masing-masing.

Baca juga:

Kami tidak merasa takut di kompleks makam raja (maradia) Pamboang itu di mana makam Raden Suryadilogo terletak. Namun, kami merasakan perasaan haru yang luar biasa, kami pun menangis. Dari sini, kami merasakan kesadaran sebagai manusia biasa, hamba Tuhan yang lemah. Bahkan menurut Mila, ia merasakan dirinya terasa ringan dan terasa tanpa beban.

Kami pun kembali di rumah kebun kak kuncen. Aku mulai mengantuk, Mila membuka tasnya dan menyuruh Tina memasang tenda. Ada dua tenda yang dibantu dipasangkan oleh kak Mawang, dan kak Anca malam itu. Namun, hanya aku yang pergi tidur jam dua malam di tengah desis rumput di tanah dan riuh rendah orang yang berbicara. Mereka asyik berdiskusi berbagai hal terutama tentang leluhur di Mandar, budaya, dan lain sebagainya sambil minum kopi dan camilan.

Aku menyiapkan energi jiwa dan badan untuk menghadapi hari esok, puasa hari kedua puluh, dan kemampuan untuk menghadapi hidup. Semoga, besok-besok kami bisa berziarah ke makam-makam atau petilasan yang lainnya, dan mendapatkan pencerahan spiritual, amin.

    Zuhriah