Setiap Anak Punya Potensinya Masing-Masing

Setiap Anak Punya Potensinya Masing-Masing
©Dok. Pribadi

Setiap anak yang dilahirkan di muka bumi ini dibekali dengan potensi.

Kami sebagai dosen mata kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan semester lima kali ini mengundang Karmila Bakri, seorang pegiat literasi Blantara, Polewali Mandar, Sulawesi Barat yang juga seorang pengajar di sekolah “Dinding tanpa Batas” untuk berbicara mengenai masalah-masalah pendidikan yang terjadi di provinsi ini.

Karmila Bakri yang akrab disapa dengan kak Mila mengaku bahwa profesinya sebagai pengajar di sekolah “Dinding tanpa Batas” adalah sebuah ungkapan jika ia mengajar di mana-mana, bukan hanya satu tempat tanpa batas “dinding”. Ia menceritakan pengalamannya itu kemarin, Minggu, 28 November 2021 via Google Meet.

Ia mengajar, baik di sekolah formal seperti Madrasah Tsanawiyah maupun di ruang informal bersama komunitas rumah bacanya, dan tidak melihat tempat antara kota dan desa. Desa yang ia maksud di sini adalah kampung, pelosok yang jauh dari akses pendidikan. Walaupun jaringan agak bermasalah mungkin karena hujan deras di kota Mamuju, tempat mahasiswa kami bermukim, dan di Polewali Mandar tempat kami, aku dan Mila tinggal juga, hujan deras tidak menghalangi kami untuk bertatap muka lewat daring ini.

Banyak hal yang diceritakan Mila tentang masalah pendidikan. Namun, teman-teman mahasiswa lebih tertarik dengan cerita Mila ketika mengajar di pelosok. Daerah pelosok yang terkadang masih jauh dari akses jalanan, apalagi pendidikan (kurangnya ketersedian sekolah) sehingga orang pelosok sering dianggap sebelah mata.

Kami pernah mengikuti Zoom tentang sekolah pelosok yang mendapati salah seorang pembicaranya seolah-olah mengatakan anak-anak di pelosok itu jauh dari peradaban, kurang beradab karena melihat gaya anak-anak sekolah yang awut-awutan, tidak rapi, kemudian kepala sekolahnya yang datang tanpa memakai seragam kemudian membawa pisau besar (parang) di sampingnya karena harus membabat tumbuh-tumbuhan yang hidup di sekitar sekolah.

Kami kemudian mengonfirmasi maksud dari pernyataan narasumber tersebut. Kami tanyakan apa maksud dari peradaban? Apa dia pernah mendengar kisah Butet Manurung yang mengabdi mengajar di pedalaman dan membaca buku yang dituliskan berdasarkan pengalaman nyatanya mengajar, Sakola Rimba?

Kembali ke laptop! Berikut beberapa kutipan hasil diskusi kami dengan Mila. Sebenarnya, ada dua (2) jam. Namun karena kesalahan teknis, alat perekam kami hanya memperdengarkan di menit-menit terakhir. Tapi, itu pun sangat berisi.

Pertanyaan dari seorang mahasiswa, Sahrul yang suka turun ke tempat-tempat terpencil untuk mengajar, “Sebelum kak Mila turun ke lapangan, apa langkah awal yang harus ditempuh ketika kita ingin melakukan pendampingan di pelosok?”

Mila yang menganggap belajar di sekolah itu tidak cukup pun menjawab, “Pertama membentuk tim assessment yang kami tugaskan dua (2) orang, paling banyak tiga (3) orang, kami assessment dulu, apakah benar-benar pelosok, kemudian apakah benar-benar tertinggal dari segi pendidikan. Lalu bagaimana respons masyarakat dan bagaimana kultur di sana, yang terpenting juga apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan di sana?”

“Kita di Polewali Mandar itu kental dengan namanya nilai-nilai yang tertanam lama di masyarakat. Ketika kita masuk ada aturan begini dan begitu yang harus kita tahu seperti itu. Bersama tim assessment kami sepakati lagi-lagi harus menemui pemerintah setempat, mendatangi pak desanya kemudian pak dusunnya kalau jangkauan aparat desanya jauh, kami hanya ke pak dusun saja misalnya.”

“Setelah assessment dan mengumpulkan beberapa data, kami mempersiapkan perangkat pembelajaran yang kami bawa kemudian dan kesiapan teman-teman ke medan, misalnya akses jalan yang parah. Bukan cuma peralatan tetapi bagaimana persiapan bekal teman-teman dengan menghadapi kultur dan adatnya, hidup di pelosok. Karena tanpa mengetahui kondisi sosial masyarakat di sana, kondisi geografis wilayahnya, kita hanya datang hanya untuk menuntaskan momentum.”

“Mohon maaf ya, misalnya hanya untuk melakukan perayaan-perayaan yang mengedukasi dan menginspirasi tapi bagaimana ceritanya kita mau datang menginspirasi, menumbuhkan pendidikan di pelosok kalau kita hanya datang mengunjungi satu kali. Tapi, bagaimana kita tetap kontinyu, terus-menerus dan ada follow up, evaluasi. Jadi, sebenarnya, tim assessment harus menginap satu sampai dua malam untuk membaca kondisi karakter masyarakat yang ada di daerah itu, semacam survei.”

Kemudian Sahrul bertanya lagi, “Apakah kita harus bermusyawarah dengan kepala desanya ketika sudah ke pelosok untuk masuk mengajar namun siswa tidak mau diajar karena siswanya sebagian keras-keras? Apa yang harus kita tempuh, apakah tetap harus diajar atau bagaimana?”

Mila menjawab dengan bijak, “Jika anak-anak keras dan susah diatur sehingga harus dimusyawarahkan dengan perangkat desa, menurut saya itu harusnya diberikan perhatian khusus. Pengalaman saya, tapi ini bukan saya menganggap, saya menyelamatkan.”

“Pada  tataran musyawarah itu, jika anak-anak dipindahkan saja sekolahnya karena anak ini susah diatur, jadi saya bilang, apa gunanya pendidikan yang didirikan di kampung ini kalau tidak mampu menyelesaikan masalah ini karena kebijakan memindahkan anak ke sekolah lain itu supaya dia bisa berubah itu bukan solusi?”

“Jadi, itu maksud saya tadi, ketika sekolah itu ibarat bengkel, ketika mendapat barang rusak jangan langsung menyerah tetapi ada beberapa pendekatan yang kita lakukan. Misalnya, pendekatan emosional kemudian kita harus cari tahu bagaimana sih lingkungan keluarganya, bagaimana pendidikan di keluarganya, apakah anak ini memang tidak didik oleh keluarganya atau apa?”

“Jadi banyak faktor yang harus kita jadikan pertimbangan karena anak nakal bagi saya itu bukan kriminal, ya. Anak nakal itu ada beberapa faktor sehingga pendekatannya harus bermain sambil belajar, belajar sambil bermain kalau kami, yang kami terapkan seperti itu.”

Mila menambahkan, “kemudian yang kedua, menjadi seorang pendidik memang harus juga menjadi seorang volunteer, relawan, bukan hanya persoalan harus paham jika harus mentransfer pengetahuan tetapi harus paham bagaimana tipologi pendekatan pada anak. Karena tadi kan dibahasakan kalau anak-anak kalau dari pedalaman itu orangnya keras, tidak juga.”

“Di perkotaan juga saya banyak menemukan banyak orang-orang keras, susah diatur, kurang ajar, jadi saya lebih kepada menstigma anak-anak yang berada di pedalaman itu susah diatur karena temuan saya di lapangan banyak juga mereka sangat menghormati kita, sangat beretika, dan mudah untuk menerima kita, dan sebenarnya persoalannya bukan pada pedesaan dan perkotaannya tetapi tergantung dari di mana anak itu tumbuh dan berkembang. Jadi kita tidak hanya menilainya dari pengalaman bersama kita di kelas tetapi apa yang dilakukan di rumah.”

Mila pun bercerita, “Ada kemarin anak di perkotaan yang saya ajar di rumah baca kami, tiap saya ajar itu pasti setiap ada benda di depannya pasti saya dilempar. Apa pun itu pasti saya dilempar, saya tidak langsung memarahinya dengan mengatakan bodoh, nakal, pulang, namun saya menerima kondisinya selama tidak membahayakan saya toh apalagi benda-benda yang dilemparkan bukan benda-benda berat yang tidak membahayakan dan tidak menyakiti saya.”

“Setelah saya mengamati satu sampai dua hari, seminggu kemudian saya mendapati bahwa ternyata ini anak suka belajar tapi suka melempar. Saya identifikasi dengan ini anak kenapa, ternyata memang orang tuanya itu berpisah dan sering dilempari barang seperti pakaian. Anak ini tidak beres, jadi memang bentukan anak itu dari keluarganya.”

“Nah, kalau kita hanya menghadapi satu, dua jam saja langsung menyerah, kita bukan seorang volunteer atau seorang pendidik. Tapi, bagi saya sih lakukan pendekatan emosional ke anak itu. Dikuliti baik-baik. Temuan saya bukan hanya di desa anak-anak itu keras tapi di kota juga ada.”

Sahrul kemudian memotong perkataan Mila dengan mengatakan jika anak-anak itu harus diambil hatinya. Mila menjawab dengan bercanda jangan ambil hatinya nanti tidak punya hati.

Lebih lanjut, Mila mengatakan, “Kita melakukan pendekatan emosional, misalnya, kita usap-usap kepalanya, kita tepuk-tepuk pundaknya, kita hadir untuknya dengan banyak cara yang bisa kita tempuh. Pendeketan persuasif tapi dengan cara berdua boleh, misalnya mengetahui masalah anak ini apa. Karena setiap anak yang dilahirkan di muka bumi ini dibekali dengan potensi.”

Kemudian, ada lagi pertanyaan, apakah Mila pernah mengalami penolakan dari anak-anak ketika mengajar di pelosok?

Jawaban Mila yang juga seorang jurnalis itu, “Tidak ada, karena anak-anak di pelosok selalu menerima karena kami menempuh banyak cara yang berbeda-beda misalnya membuat permainan yang sarat dengan edukasi. Misalnya, saat kami bermain ular tangga namun tia tidak suka bermain. Jadi kami tahu jika anak ini tidak suka bermain, tapi sukanya nonton film, maka kami putar layar lebar untuk nonton bareng. Dan yang kita tampilkan adalah film-film edukasi.”

“Kami membangun kesenangan mereka dulu dari sini kita bisa mengindentifikasi oh anak ini, ia sukanya membantu kakak-kakaknya ketika membantu membuat arena bermain sesuatu yang luar biasa karena ia mempunyai kepekaan yang tinggi karena ketika diajari ABCD ia tidak mau bergabung tetapi ketika melihat kami kakak-kakaknya membuat sebuah arena bermain atau permainan ia respon. Dari sini kita tahu karakter si anak.”

Selanjutnya pertanyaan dari Mirzal, “Daerah mana saja yang paling terjauh dikunjungi, dan berapa lama saja di sana.?”

Mila menjawab, “Yang terjauh di daerah Bulo, Polewali Mandar, sama-sama jauh dengan di daerah Binuang, Polewali Mandar namun kami kolaborasi dengan beberapa komunitas. Kadang kami di sana itu selama seminggu, kadang tiga hari kemudian kami follow-up lagi, tetap kami kontinyu. Cuma ada beberapa titik yang membuat kami berhenti karena pandemi, kami takut ke sana membawa virus.”

“Kami juga pernah ke pulau Karampuang, Mamuju, kami dipanggil suatu lembaga untuk menjadi fasilitator anak. Di mana anak-anaknya luar biasa yang membuat kami tertantang untuk melebur ke sana.”

“Saat ini, ada titik baru yang ditawarkan di daerah Tutar, Polewali Mandar, di mana nama dusunnya terjauh yang bernama dusun Ratte yang medannya luar biasa. Ketika ke sana lima ratus ribu sewa ojeknya. Ada teman yang membuka dinding baru lagi untuk ke sana. Insyaallah kami niatkan untuk sampai di sana. Kalau di komunitas kami, Blantara kami terus- menerus kontinyu untuk memfollow-up. Jadi yang terjauh ya, akan kami godok lagi di daerah Tutar.”

Kemudian Mila mengatakan, “Banyak juga yang mengajak kami untuk hunting di daerah Majene di pedalaman yang termasuk di daerah tertinggal yaitu komunitas adat terpencil. Kami masih mempertimbangkan untuk kesana dengan memastikan jadwal teman-teman. Jadi bukan mengenai berapa lama kadang kami seminggu, kadang kami tiga hari di sana. Kemudian balik lagi, dan masuk lagi seperti itu.”

Kami mengetahui bahwa Mila bersama teman-teman di komunitas Blantara juga concern pada masalah kekerasan seksual. Kami bertanya, bagaimana cara Mila mendampingi adik-adik yang mengalami kekerasan seksual.

Awalnya Mila mengatakan, jika ia menyebutnya dengan kejahatan seksual, karena kejahatan ini merusak masa depan anak-anak, ia kemudian mengatakan, “Pendekatan saya tidak langsung mengajak ayo membaca, ayo menulis, atau jor-joran bertanya tentang masa lalunya tetapi saya mengamati bahwa ini anak kesehariannya apa. Contoh kemarin itu ia suka ke kebun mengambil cokelat, atau ia senang pergi bermain sendiri, kadang kami tentunya mengikuti alurnya, kita ajak main. Misalnya, ia senang bermain jual gula-gula batu, ketika kami datang kami berpura-pura menjadi pembeli, kami bercanda bersama, kami memasuki dunianya ia.”

“Mengenai pelecehan seksual yang dialami kami lebih bertanya kepada sistem sumber misalnya dari tetangganya, kalaupun orang tuanya mau terbuka pada kami alhmadulillah, tetapi kalau orang tuanya tidakterbuka kami tidak memaksa untuk orang tuanya berbicara kepada kami.”

Lalu Mila melanjutkan, “Tapi kebanyakan setelah kami membangun hubungan emosional orang tuanya terbuka sendiri pada kami. Karena awalnya ketika kami masuk kami mengatakan kami punya program kelas ceria. Jadi ada juga anak yang langsung respons, dana ada juga anak yang mungkin diajak bermain. Ada juga klien kami yang mau diajak jalan, ada juga yang tertutup sekali. Ada yang bisa langsung semangat ada juga yang susah untuk berbicara.”

“Kami tidak langsung menyerah tapi kami langsung datang memberikan kado cinta, misalnya teman-teman mengemas kado cinta blantara yang berisi cokelat, susu, terus biskuit, disisipkan boneka, atau buku bacaan, sehingga membuat mereka tersenyum dan mau menerima itu sudah luar biasa bagi kami. Apalagi mau salaman, dan kami terus berpikir pendekatan apa lagi.”

“Dan kami sengaja tidak membawa banyak volunteer tapi kami satu, dua orang, karena kami sangat hati-hati untuk masuki ruang-ruang privasi seperti itu. Dan kami terkadang sekadar menyarankan orang tuanya ketika ada orang lain datang jangan diceritakan ke banyak orang karena bisa menjadi hantaman psikologisnya. Kami ketika datang ke sana juga memakai kode etik bahwa kasus ini sebagai konsumsi pribadi.”

Mila melanjutkan bahwa, “Langkahnya selajutnya pendidikan seks di usia dini. Lagu tubuhku milikku, yang ada gerakan-gerakannya itu. Ini yang bisa disentuh, ini yang tidak bisa disentuh. Ada edukasi seperti itu, tapi setelah anak itu merasa dekat dengan kami.”

Di akhir diskusi yang berlangsung hampir dua (2) jam itu Mila berpesan, “Buat teman-teman mahasiswa yang sedang berjuang di dunia intelektual, kebijakan pendidikan. Ada beberapa hal yang perlu kita kaji ulang tentang produk-produk kebijakan pendidian hari ini karena realitas di lapangan khususnya di daerah Polman itu masih jauh dengan kebijakan-kebijakan yang digaungkan oleh negara jadi harapan saya, bagaimana negara betul-betul hadir di pelosok bukan hanya sebatas ganti kurikulum, menggaungkan slogan-slogan misal merdeka belajar, sekolah merdeka, tetapi bagaimana betul-betul kata merdeka itu dinikmati oleh generasi-generasi yang ada di pelosok karena ketika kebijakan ini tidak sesuai dengan kebutuhan yang ada di pelosok itu sendiri bagi saya tidak mewakili pendidikan-pendidkan formal dan nonformal, komunitas-komunitas lierasi, dan kelompok-kelompok kultur yang ada besar harapannya makin banyak yang mau berkontribusi dan berempati melakukan gerakan-gerakan di Sulawesi Barat itu sendiri.”

Mila menyadari bahwa, “Karena sebenarnya kami dari komunitas Blantara ini adalah komunitas yang masih jauh dari kata membangun sebuah pengetahuan tetapi bagaimana kami selalu memberikan program dan menampilkan ke media sosial niatnya bukan untuk mengatakan kami sudah berhasil tetapi bagaimana memantik kawan-kawan khususnya kawan-kawan mahasiswa untuk melakukan transformasi pengetahuan itu sendiri.”

“Ayo sekarang menembus dinding kampus itu, dinding sekolah itu, semoga mencerahkan kita untuk melihaat harapan kampung ini lebih baik ke depan angka buta aksaaranya turun, angka kejahatan seksualnya menurun karena tanpa adanya geraka-gerakan kolektif itu Sulbar hanya akan seperti ini, angka pernikahannya tinggi. Ketika teman-teman mahasiswa ke pelosok ini bukan hanya berbicara tentng pendidikan teteapi juga akses jalan yang bisa diangkat ke media melauli tulisan-tulisan melalui pengalaman di lapangan.”

“Terima kasih sudah diundang di Stit Al Chaeriyah. Membaca dan tuliskanlah fakta-fakta sosial yang terjadi, jangan apatis tetapi tetap optimis, kita unggul untuk mencapai itu kebersamaan dalam gerakan-gerakan kolektif melalui komunitas-komunitas.”

    Zuhriah