Sexy Killers Tidak Mengkritik Kapitalisme

Sexy Killers Tidak Mengkritik Kapitalisme
©Sexy Killers

Tidak ada satu kata pun yang diucapkan narator bahwa film itu ditujukan untuk mengkritik kapitalisme.

Saya sangat senang membaca artikel yang ditulis oleh Minrahadi Lubis yang berjudul Sexy Killers dan Tragedi Kapitalisme. Sebab, tulisan itu secara tegas mencoba mempersoalkan moda produksi dominan yang menjadi akar masalah sosial hari ini. Saya sangat sepakat akan hal itu.

Akan tetapi, ada beberapa hal yang saya pikir masih perlu didiskusikan bersama. Yaitu, ketika menyandingkan kapital kritik dengan dokumenter besutan Watchdoc Documentary yang fenomenal, Sexy Killers.

Sexy Killers cukup berhasil memotret dan  menunjuk hidung pihak-pihak yang diuntungkan di balik kerusakan lingkungan hidup oleh bisnis batu bara di Indonesia. Ketika sebagian besar orang gontok-gontokan dan mengklaim jagoan pemilunya yang paling baik, Sexy Killers justru menyodorkan fakta bahwa kedua capres dan cawapres pada saat itu sama saja, sama-sama dalang kerusakan lingkungan. Sexy Killers menyebut mereka oligarki batu bara. Itu poin pertama yang saya sepakat.

Sementara di poin kedua, saya juga sepakat ketika Kang Lubis (izinkan saya meyebut begitu) menulis bahwa antara kapitalisme dan lingkungan tidak akan mungkin bergandengan tangan. Logikanya masuk akal.

Di satu sisi, kapitalisme pada dirinya mengandung logika untuk mengeruk dan menguras secara tak terbatas. Sementara, di sisi lain, lingkungan atau alam memiliki logika ruang dan waktunya sendiri, dan beberapa tentu saja terbatas. Sehingga, ketika lingkungan diperlakukan dengan logika keuntungan sebesar-besarnya itu, ia tak akan lagi sempat untuk memulihkan dirinya sendiri. Sehingga tepat di saat itulah keberlangsungan lingkungan sebagai penyangga ruang hidup mulai terancam.

Akan tetapi, saya pikir ada hal yang dirasa kurang tepat ketika mengkritik kapitalisme kemudian menjadikan Sexy Killers sebagai titik berangkatnya. Sebab, hemat saya, tidak ada satu kata pun yang diucapkan narator Sexy Killers bahwa film itu ditujukan untuk mengkritik kapitalisme. Memang Sexy Killers mengkritik sistem oligarki. Itu saya sepakat. Tapi, bukankah mengkritik oligarki tidak otomatis juga mengkritik kapitalisme?

Kapitalisme adalah moda produksi yang didasarkan pada akumulasi tak berhingga atas nilai lebih melalui kepemilikan alat produksi dan eksploitasi tenaga kerja  dan alam di dalamnya. Sedangkan oligarki adalah sistem relasi kuasa yang memungkinkan akumulasi kekayaan dan wewenang di tangan segelintir elite beserta seperangkat mekanisme untuk mempertahankannya.

Dari dua definisi itu jelas, keduanya adalah entitas yang berbeda. Kapitalisme lebih merujuk pada penguasaan alat produksi untuk mengakumulasi nilai lebih. Entitas yang melakukannya disebut kapitalis. Sementara oligarki merujuk pada kondisi di mana segelintir kapitalis itu berhasil menguasai struktur politik di wilayah tertentu sehingga dapat melanggengkan akumulasinya. Selanjutnya, mari kita uji dalam konteks film.

Sexy Killers dengan sangat baik memaparkan bahwa bisnis energi listrik di Indonesia didominasi oleh energi kotor batu bara. Yang mana bisnis energi kotor itu dikuasai oleh segelintir elite yang disebut oligarki di atas. Sementara itu, sudah galib bahwa energi fosil batu bara adalah energi yang kerusakannya besar terhadap lingkungan dan segala macam. Singkatnya, oligarki batu bara adalah biang kerok kerusakan.

Sampai di sini jelas asumsi yang dibangun dalam film, masalahnya adalah konsentrasi bisnis energi oleh segelintir elite pemilik bisnis energi kotor batu bara. Bukan kapitalisme.

Selanjutnya Sexy Killers menawarkan, untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara diperlukan solusi alternatif energi panel surya. Sebab panel surya dianggap lebih bersih karena tidak mengeluarkan polutan berbahaya.

Energi panel surya juga dipromosikan lebih efisien dan lebih murah dalam jangka panjang. Meskipun diakui panel surya memiliki kendala. Misalnya karena harga pemasangan awalnya yang mahal. Bisa mencapai 50 juta rupiah. Namun, Sexy Killers juga tak luput menawarkan solusinya. Yaitu kredit, seperti halnya kredit sepeda motor.

Sampai di sini, belum ada narasi yang bisa disebut kritik terhadap kapitalisme. Justru beberapa hal mungkin perlu didiskusikan lebih lanjut. Misalnya apakah energi panel surya benar-benar bersih seperti yang disampaikan dalam film? Sementara bahan dasar panel itu sendiri dibuat dari mineral kritis yang harus ditambang seperti arsenik, gallium, germanium, indium, dan tellurium (Duniatambang.co.id, 19/4/2021).

Ketika diasumsikan setiap rumah memasang bilah panel seluas 30 meter persegi seperti yang diusulkan, asumsinya tentu akan ada proyeksi pertambangan skala besar yang dampaknya tak kalah massif dengan tambang batu bara yang dikritik dalam film. Lalu ketika Sexy Killers menampilkan motor dan mobil listrik yang dipasang panel di atasnya, barangkali juga memerlukan baterai yang dipakai untuk menyimpan daya listriknya.

Bukankah energi berbahan baterai itu juga mensyaratkan pertambangan yang tak kalah merusaknya seperti batu bara? Sudah menjadi barang umum, kobalt adalah bahan tambang yang menjadi penyebab kemiskinan dan kerusakan lingkungan yang begitu besar di wilayah macam Republik Kongo. Bukan tidak mungkin wilayah-wilayah pertambangan itu juga ada di belahan dunia yang lain termasuk di Indonesia.

Lebih jauh, di atas sudah didefinisikan bahwa kapitalisme adalah sistem produksi-konsumsi yang didasarkan atas kepemilikan pribadi atas alat produksi dan orientasinya akumulasi keuntungan. Lalu dalam film, ketika menawarkan alternatif solusi barupa panel surya, Sexy Killers sama sekali tidak menawarkan sistem prosumsi energi yang, sebut saja, menjadi alternatif dari kaptalisme. Energi yang tidak dikuasai secara pribadi oleh korporasi, baik industrinya maupun keuntungannya.

Kemudian solusi yang ditawarkan adalah kredit. Sementara kredit adalah salah satu fitur akumulasi nilai lebih dalam kapitalisme. Misalnya seperti kita tahu, ketika kredit motor atau mobil, pihak mana yang meneguk keuntungan? Tentu bukan negara atau masyarakat kelas bawah, melainkan korporasi macam Honda, Yamaha, dan segala macamnya. Atau, sebut saja kapitalis-kapitalis itu. Sebab kepemilikan alat produksinya dimiliki oleh mereka.

Misalnya ketika mengusulkan panel surya sebagai alternatif solusinya, narator film masih mengandaikan masyarakat sebagai nasabah atau konsumen saja. Kemudian negara diasumsikan sebatas “kalo bisa” menjadi penyubsidi, supaya masyarakat bisa menjangkau harga panel yang terkenal mahal. Dari situ, Sexy Killers tidak punya tendensi untuk mendorong perubahan struktur kepemilikan alat produksi dari alternatif yang ditawarkannya itu.

Sexy Killers juga menampilkan data RUPTL sampai 2027 mendatang penggunaan energi terbarukan secara nasional masih 22,6%. Sebesar 54,4%-nya masih didominasi oleh energi batu bara. Persoalannya, bagaimana proyeksi energi setelah tahun 2027-nya. Sebab kabarnya pemerintah sudah jauh-jauh hari berencana menyetop pembangunan PLTU Batubara setelah tahun itu. Berikutnya pemerintah akan memproyeksikan pembangunan energi terbarukan seperti panas bumi, bendungan, dan mungkin juga energi panel surya.

Akan tetapi dorongan dibangunnya energi (yang katanya) bersih itu bukan untuk menyelamatkan lingkungan seperti yang diidealkan dalam film. Penyebabnya karena memang sudah diproyeksikan stok batu bara di Indonesia hanya cukup sampai pada 2040 saja (Ekonomi.bisnis.com, 22/1/2020). Sehingga, kasarnya, tanpa dikritik pun energi bersih itu sudah direncanakan akan dibangun, dan energi batu bara lambat laun akan jua ditinggalkan.

Terakhir yang saya pikir juga perlu didiskusikan adalah paragraf ke-2 s/d ke-4 dari tulisan Kang Lubis. Di sana semacam ada dilema antara mengkritik sekaligus mengakui kesalahan. Penonton adalah pengkritik atas kerusakan yang ditimbukan oleh sistem keenergian di Indonesia, sekaligus juga merasa bersalah karena mereka menikmati produknya.

Sexy Killers dianggap secara kreatif mengaitkan antara si penikmat dan dampak kerusakan yang tidak disadarinya. Namun, justru di situlah kritiknya. Sexy Killers cenderung menyuguhkan konsumen listrik secara gelondongan. Seolah-olah listrik yang diproduksi oleh PLTU Batubara adalah saya dan jutaan penonton lainnya. Padahal framing begitu berimplikasi bias kelas.

Pemerintah dalam dokumen Proyek Strategi Nasional (PSN), misalnya, dengan jelas menganggap megaproyek energi sebagai infrastruktur. Seperti halnya jalan tol, bendungan, bandara, dan pelabuhan. Infrastruktur itu dibangun dulu. Setelah siap, nantinya akan melayani rencana dibangunnya banyak kawasan industri baru, wilayah ekstraksi dan kota-kota baru. Semua itu tidak lain adalah sirkuit-sirkuit akumulasi kapital yang baru. Dan yang paling diuntungkan dari itu semua bukan masyarakat kelas bawah.

Dari uraian singkat di atas itu, barangkali cukup untuk menyimpulkan bahwa Sexy Killers memang tidak bermaksud menunjuk hidung moda pruduksi kapitalisme dan mencarikan alternatif darinya. Apa yang dikritik sebenarnya isu parsial dominasi energi batu bara di balik pemilu dan dampak-dampak lingkungannya. Sehingga solusi yang diajukan adalah berhenti bergantung pada dominasi itu, lalu beralih ke subtitusi produknya, yaitu panel surya.

Akhirnya alangkah lebih tajam kritiknya jika rumah produksi Watchdoc Documentary memproduksi karya-karya yang secara eksplisit mengandung kritik terhadap kapitalisme. Sebagaimana juga artikel Kang Lubis yang sudah disebutkan di atas tadi. Tidak banyak, setidaknya itu saja yang saya harapkan sebagai penonton setia.