Si Bujang Merindu Kampung Halaman

Si Bujang Merindu Kampung Halaman
©Wordpress

Sudah 1 tahun, 24 bulan, 366 hari lamanya Si Bujang merantau jauh di Ujung Pandang. Menanggung rindu kampung halaman. Begitu lama ia pergi, sesak di tubuh waktu meracik rindu masa lalu. Bernyanyi sambil tertidur di atas kasur karena rindu.

1 jam terlelap Si Bujang pun terbangun dari tidur panjang. Ia  ingin makan. Perutnya pun berbunyi bak pekikan alarm. Pikirannya melayang-layang tak beraturan. Si Bujang pun beranjak dari kasur terbentang. Ia berjalan selayang pandang mencari sarapan pagi hingga petang. Sepanjang jalan terik mentari berdenting. Menusuk masuk pori-pori kulit Si Bujang. Kucuran peluh Si Bujang bak air hujan datang

Angin sepoi-sepoi pun menyapa pengobat lelah untuk mencari sarapan. Pikirannya kembali terpental. Matanya terbelalak merindu kampungnya di Pasaman. Ia bertemu teman lamanya yang bernama Si Upiak di jalan. Awalnya Si Bujang mengira bahwa orang yang lewat di depannya adalah salah satu penduduk tempat ia merantau. Ia ragu untuk menyapa. Namun karena Si Bujang ragu untuk menyapa. Ia selalu menatap wanita tersebut dengan tatapan tajam. Merasa aneh dengan tatapan lelaki itu, Si Upiak lalu menegurnya.

“Ada apa ya, Bang. Kok menatap saya seperti ini.”

“Bukan bermaksud apa-apa, Uni. Aku merasa kenal dengan wajah Uni. Seperti wajah teman sekampungku, Uni.”

“Sebelumnya saya mau bertanya pada Abang. Nama teman Abang itu siapa?”

“Nama temanku Si Upiak, Uni. Sebelumnya nama saya Si Bujang, Uni. Apakah Uni kenal dengan Si UpiK?”

“Masya Allah, Abang Si Bujang. Namaku Si Upiak, Bang”. Awalnya Si Upiak memanggil dengan sebutan Abang karena belum kenal. Kini ia memanggil dengan sebutan Uda. Yang dimana Uda panggilan untuk laki-laki. Begitu juga dengan Si Bujang, memanggil Si Upiak dengan sebutan Uni. Karena ia biasa memanggil Si Upiak dengan sebutan Uni.

“Selamat bertemu lagi di perantauan, Uda. Sebelumnya Si Upiak mau tanya sama Uda. Mengapa sudah 1 tahun Uda belum pulang kampung juga?”

“Apakah Uda tidak rindu kampung?’’

“Sebelum kita melanjutkan pembicaraan kita terlalu jauh. Alangkah baiknya kita sarapan di warung dulu, Uni. Sambil bercerita di sana.”

Setelah asik bercerita, mereka rupanya saling mengenal. Si Upiak merupakan teman Si Bujang yang baru beberapa bulan merantau ke Ujung Pandang. Sedangkan Si Bujang sudah 1 tahun belum pulang kampung. Mereka berdua melanjutkan pembicaraan di warung makan. Karena perutnya lapar.

Sesampainya di warung makan, ia langsung memesan makan 2 Piring. Dengan menu kesukaannya nasi putih dan rendang ayam. Mereka duduk di meja paling depan saling berhadapan. Sebelum makan sampai ke meja makan. Mereka melanjutkan cerita terkait kampung halamannya.

“Uni, sebelumnya Uda tidak akan bisa pulang kampung. Karena uda kerja pakai kontrak 2 tahun. Jadi untuk pulang kampung sepertinya menunggu 1 tahun lagi. Baru bisa pulang kampung.”

“Ooo, Begitu. Jadi Uda bekerja pakai kontrak selama 2 tahun. Sebenarnya aku baru 1 bulan disini, Da. Sebelum aku berangkat ke sini. Amak, Uda berpesan agar Uda segera pulang kampung. Karena Amak Uda rindu sama Uda.”

“Iya, Uni. Sebenarnya Uda rindu sekali pulang kampung. Rindu orang tua, rindu berkumpul sama sanak family. Namun apa boleh buat. Nasi telah jadi bubur. Hitam diatas putih sudah ditanda tangan. Terpaksa Uda menunggu 1 tahun lagi.”

“Sebenarnya Uni juga sedih mendengar penjelasan Uda. Namun sering-seringlah menghubungi keluarga di kampung. Agar mereka tahu bahwa Uda baik-baik saja. Dan itu juga bisa jadi pengobat rindu uda sama Amak dan keluarga Uda lainnya.”

“Baik, Uni. Sebelumnya terima kasih. Uda akan pulang 1 tahun lagi. Dan Uda akan sering-sering menghubungi keluarga Uda di kampung.’’

Begitu mereka berbicara panjang lebar. Nasi telah sampai ke meja tempat mereka duduk. Mereka makan dengan lahap. Lalu setelah mereka makan. Si Upiak yang ada pekerjaan lain. Ia langsung pamit pergi ke Si Bujang.

“Uda, Uni pergi dulu. Sebelumnya terima kasih. Tuhan mempertemukan kita di perantauan. Karena Uni ada pekerjaan ditempat pekerjaan yang harus diselesaikan. Sebelumnya Uda jaga kesehatan. Sering-sering menghubungi keluarga di kampung.”

“Hati-hati, Uni. Semoga Tuhan mempertemukan kita lagi nantinya baik di perantauan ini maupun di kampung nantinya.”

Lalu Si Upiak pergi. Dan Si Bujang pulang ke rumah kontrakannya. Sambil merenungi kerinduannya.

Sekarang  Si Bujang bak  hujan. Dirindukan ketika terik. Diminta ketika panas melesit. Tapi tak akan bisa bak teduh yang dijadikan angin karena ia masih bisa merengkuh dingin. Ia yang merindu. Ia rindu akan kampungnya, rindu akan orangtuanya dan rindu lampu remang di sudut kampungnya. Pun ia rindu belaian kasih Amaknya.

Isak tangis kerinduannya berubah menjadi tangis darah. Ia tak bisa pulang kampung. Terkekang peraturan hitam diatas putih. Hatinya sendu berharap  ia bisa pulang kampung.

“Kampungku.”

“Ibuku.”

“Tunggu aku.”

“Aku merindukanmu.”

Teriak Si Bujang di Ujung Pandang.

Rilen Dicki Agustin
Latest posts by Rilen Dicki Agustin (see all)