Siapakah Beliau Petta Wallie Syeh Jamaluddin Al Akbar Al Husain?

Siapakah Beliau Petta Wallie Syeh Jamaluddin Al Akbar Al Husain?
©Dok. Pribadi

Sewaktu aku berziarah ke makam wali syeh Jamaluddin Al Akbar Al Husain atau wali Tosora, aku mendapatkan buku biografi tentang beliau dari juru kunci (kuncen) yang menjaga di sana. Buku itu berjudul “Sayyid Jamaluddin Al Akbar Al Husain, Datuk para Wali & Sultan di Nusantara dan sekitarnya”. Buku itu ditulis oleh Ambo Tang Daeng Matteru dan kawan-kawan.

Buku yang cetakan pertamanya di Januari 2022 itu setebal dua ratus enam puluh delapan (268) halaman diterbitkan oleh penerbit Magama (anggota IKAPI) bekerja sama dengan BPW KKSS Provinsi Gorontalo. Buku ini menuliskan banyak sejarah, mulai dari sejarah perhubungan dan perdagangan di zaman Nabi, sampai kepada keturunan beliau, Petta Walli (Tuan Wali Besar) syeh Jamaluddin Al Akbar Al Husain.

Rincian daftar isinya sebagai berikut; pertama, perhubungan dan perdagangan dunia sebelum dan setelah kelahiran Nabi Muhammad SAW Rasulullah. Kedua, Tosora dan negara kerajaan Wajo. Ketiga, siapakah Sayyid Jamaluddin Al Akbar Al Husain (leluhur). Keempat, sayyid Jamaluddin Al Husain Al Akbar (keturunan). Kelima, jejak armada dakwah Petta Walli Sayyid Jamaluddin Al Akbar Al Husain di Wajo dan sekitarnya. Keenam, sejumput harapan.

Syeh Jamaluddin Al Husain Al Akbar lahir di Malabar, India, pada 1270 M masa awal keruntuhan Dinasti Abbasiyah. Beliau kemudian meninggal dalam usia seratus delapan puluh tiga (183) tahun di desa Tosora, kecamatan Majauleng, kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan. Walau di beberapa tempat, terutama di Jawa, banyak klaim tentang makam beliau.

Awalnya aku juga sering mengira jika Syeh Jamaluddin al Akbar yang juga sering diklaim sebagai syeh Jumadil Akbar. Menurut buku ini, mereka merupakan orang yang berbeda karena syeh Jamakuddin dianggap sebagai ayah dari syeh Jumadil Akbar.

Aku sampai pernah memberi komentar pada status temanku Rahmat, seorang mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang juga merupakan anggota Gusdurian yang pernah menyiarahi petilasan beliau di Magelang. Rahmat menulis di salah satu statusnya di Facebook, “Di Indonesia ZAMALI, Ziarah Makam Wali ataupun Petilasan Wali sebagai tradisi yang mengakar. Kali ini bersama para sahabat berziarah di petilasan syeikh Jumadil Kubro di Bukit Gunung Turgo.”

Lalu kuberi respons di statusnya dengan emoji super dengan komentar; “Sudah pernah ke makam beliau? Di Tosora, Wajo-Sengkang.”

Dijawab oleh Rahmat dengan tertawa dengan memberikan pernyataan arah akurat yang sebenarnya di mana.

Baca juga:

Aku dengan percaya diri menyertakan emotikon smile yang PD menjawab, Sulawesi.

Ia kembali tertawa dan menjawab, “Ha ha baca bukunya Ahmad Baso, Islamisasi Nusantara, kenapa ada kesakralasan petilasan. Bukunya Ahmad Baso menyinggung soal ini. Ada jawabannya di sana, kak. Namun, Gus Dur sangat suka ziarah di petilasan bukit Turgo ini.”

Aku kembali menjawab dengan nyengir, jika yang saya maksud adalah “makam” bukan “petilasan”.

Dijawab lagi oleh Rahmat, “Tabe, iya maksudnya demikian, kak. Sehingga tak jarang ada yang meyakini juga bahwa makam (pemahaman masyarakat) dalam hal ini petilasan wali Imam Lapeo juga ada di tempat lain.

Kujawab lagi, seperti syeh Yusuf juga…

Syeh Jamaluddin adalah kakek Gus Dur

Apa yang mendasari kami berziarah ke makam beliau, syeh Jamaluddin Al Akbar Al Husain, adalah cerita dari adik laki-laki kami yang merupakan anak organisasi pergerakan. Katanya, Gus Dur sebelum jadi presiden ketika datang di Makassar mencari makam kakeknya Wali Tosora.

Sebelumnya, Gus Dur ketika mengisi kuliah umum di kampus UIN Sultan Alauddin Makassar sempat mencari makam kakeknya di Wajo namun katanya belum berhasil menyiarahinya. Ketika kedatangan beliau yang kedua kalinya, sebelum jadi presiden Republik Indonesia (RI), beliau pun menemukan makam syeh Jamaluddin Al Akbar Al Husain.

Lalu ketika aku membaca buku ini, aku mendapatkan informasi yang sama bahwa setelah kunjungan (ziarah) KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pada tahun 1997, sekitar dua kali untuk “ngalap berkah”, masyarakat pun penasaran dengan tokoh yang dimakamkan di tempat tersebut. Kemudian kedatangan rombongan peziarah dari Jawa Timur yang membawa serta silsilah wali Tosora, maka terungkaplah dengan jelas siapa tokoh tersebut.

Halaman selanjutnya >>>
    Zuhriah