Siapakah The King of Bullshit versi Dandhy Laksono?

Siapakah The King of Bullshit versi Dandhy Laksono?
©Dandhy_Laksono

Nalar Politik – Setelah The King of Lip Service (Raja Omdo) viral, muncul lagi istilah untuk raja lainnya yang tampak serupa, yakni The King of Bullshit (Raja Ongkos).

Sebelumnya akun media sosial BEM UI melabeli Presiden Jokowi sebagai The King of Lip Service. Banyak hal yang ia jadikan alasan kenapa sampai harus menyebut Jokowi demikian.

Dalam kicauannya tertanggal 26 Juni 2021, pemilik @BEMUI_Official itu menilai mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut kerap mengobral janji-janji manis. Tapi sialnya, realitas janji-janji itu, menurutnya, sering kali juga tidak selaras.

“Katanya begini, faktanya begitu. Mulai dari rindu didemo, revisi UU ITE, penguatan KPK, dan rentetan janji lainnya,” tulis BEM UI.

Semua hal itu, bagi BEM UI, menjadi indikasi bahwa perkataan yang dilontarkan Jokowi, entah sebelum atau sesudah menjabat sebagai Presiden RI, tidak lebih dari sekadar bentuk lip service semata.

“Berhenti membual, rakyat sudah mual!” pungkasnya tegas.

Tak berselang lama, istilah raja-rajaan kembali hadir di media sosial. Kali ini datang dari seorang jurnalis investigasi bernama Dandhy Dwi Laksono. Frasa yang dipopulerkan adalah The King of Bullshit.

Entah ditujukan untuk siapa frasa itu, tapi publik agaknya sudah langsung bisa menebak. Hal itu mengingat kutipan-kutipan yang dicantumkan pendiri Watchdoc dalam kicauannya pada 29 Juni 2021 tersebut merupakan sesuatu yang tidak asing lagi di telinga khalayak.

Misalnya, “Tolong saya didemo. Pasti saya suruh masuk” (18 Juli 2021). Atau, “Kami tidak punya potongan diktator atau otoriter” (17 Januari 2019).

Misalnya lagi, “Jangan ragukan komitmen saya jaga demokrasi” (26 September 2019). Dan, “Saya menghargai setiap kritik. Kritik adalah bagian demokrasi” (29 Juni 2021).

Baca juga: