Siapakah yang Layak Dikatakan sebagai Tokoh?

Siapakah yang Layak Dikatakan sebagai Tokoh?
©Dok. Pribadi

“Siapakah yang layak dikatakan sebagai tokoh?” tanyaku kepada mahasiswa yang tergabung dalam  Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sahabat Matan jurusan Tafsir Hadist, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Majene yang berkonsentrasi pada penulisan, kemarin, 25 Mei. Kali ini, mereka mengundangku untuk mendiskusikan bagaimana teknik penulisan riset biografi atau studi tokoh.

Aku hadir setelah di-chat oleh pak Makmur, dosen mereka yang memintaku untuk mengisi kelas menulis yang dibinanya. Adik Makmur, begitu panggilanku padanya, selalu mendampingi adik-adik mahasiswa ini, sampai-sampai mereka telah berhasil membuat antologi puisi cinta.

Ketika aku bertanya siapakah tokoh itu, ada yang mengatakan bahwa tokoh merupakan orang yang berkecimpung kepada “ilmu pengetahuan”. Sehingga, aku balik bertanya, bagaimana dengan orang yang terjun pada politik? Apakah tidak bisa bisa disebut sebagai tokoh? Atau ibu tua yang menjual di pasar untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya; apakah tidak pantas disebut sebagai seorang tokoh perempuan?

Kemudian, seorang mahasiswa menambahkan jika seorang tokoh adalah seorang publik figur. Figur yang diterima oleh masyarakat karena memiliki sesuatu yang positif dan berpengaruh bagi orang lain.

Aku kemudian menambahkan, seseorang layak dikatakan sebagai tokoh ketika ia adalah orang yang berhasil di bidangnya, memiliki karya yang monumental, mempunyai pengaruh dan pemikiran sekaligus tindakannya yang dapat menjadi rujukan dalam masyarakat, dan yang paling penting ada nilai-nilai (spiritual) dalam hidupnya yang dapat dijadikan suri teladan.

Pengalamanku Menulis “Imam Lapeo”

Di momentum kali ini, aku berbagi pengalaman dengan menceritakan pengalamanku menulis tentang tokoh biografi, Imam Lapeo. Imam Lapeo dikenal sebagai salah seorang wali di Mandar, Sulawesi Barat.

Saat akan menulisnya, aku meminta pendapat dari dosen pembimbing duaku, pak Syamsul Maarif (Kak Anchu) di CRCS UGM. Kata kak Anchu, tidak apa-apa menulis tentang kakek sendiri, aku pribadi adalah cicit beliau, selama kita objektif bukan subjektif.

Aku pun bersemangat menulis tentang Imam Lapeo. Terkadang aku benar-benar hadir sebagai peneliti dengan melakukan wawancara, baik dengan terstruktur maupun tidak terstruktur pada banyak orang.

Baca juga:

Siapakah yang Layak Dikatakan sebagai Tokoh? 2

Aku pun melakukan observasi di tempat-tempat yang dikatakan sebagai petilasan Imam lapeo, termasuk tempat khalwat, bersemedi beliau. Lalu menjadi partisipan pada kegiatan peziarahan di Lapeo, yaitu ruang peziarah berziarah ke rumah, masjid, dan makam Imam Lapeo, dan mendokumentasi apa-apa saja peninggalan Imam Lapeo berupa manuskrip, masjid, dan menara tanpa menyangkutkan diriku sebagai salah satu bagian dari Imam Lapeo. Namun, tekadang masyarakat itu sendiri yang mengetahui tentang diriku.

Ketika diskusi ini, aku sempat membawa buku-buku yang menjadi penunjangku ketika menulis tentang biografi. Buku literatur ini menjadi panduan sebelum menulis. Buku-buku itu berjudul Studi Tokoh, Metode Penelitian Mengenai Tokoh yang ditulis oleh H. Arief Furchan, M.A., PH.D. dan H. Agus Maimun, M.A. Buku yang ditulis oleh Zulfikar Fu’ad, Menulis Biografi, Jadikan Hidup Anda Lebih Bermakna, dan Sejarah Lisan di Asia Tenggara Teori dan Metode editor P. Lim Pui Huen, James H. Morrison, Kwa Chong Guan.

Semuanya memiliki keunggulannya masing-masing. Ada buku yang menjelaskan tentang penelitian ini adalah penelitian kualitatif, ada buku yang modelnya banyak bercerita tentang tokoh itu sendiri, dan ada juga buku yang memberikan teknik wawancara. Di waktu kuliah 2012, aku rajin membaca buku-buku ini. Kini ketika aku membacanya, aku banyak melewatkan informasi di dalamnya.

Aku juga menceritakan jika seorang teman yang bernama Hidayat yang akrab dipanggil dengan Dayat  (almarhum) yang kuliah di jurusan Filsafat S2 UGM pernah menulis tentang filsafat Tan Malaka. Namun ia tidak pernah sama sekali bertemu dengan tokoh yang ditulisnya atau belajar langsung darinya.

Ia hanya mendapatkan pemikiran-pemikiran Tan Malaka dari buku-buku yang ditulis oleh Tan Malaka itu sendiri dan buku yang ditulis oleh orang-orang tentang riwayat hidup Tan Malaka. Sehingga kajian yang dilakukan oleh Dayat adalah kajian pustaka dengan menggunakan literatur buku-buku.

KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah seorang penulis. Di samping itu, biografi beliau pun telah banyak ditulis oleh orang lain.

Setiap orang bisa menulis biografi walaupun itu biografi hidupnya sendiri, seperti buya Ahmad Syafii Maarif menulis autobiografinya dengan judul “Ahmad Syafii Maarif Memoar Seorang Anak Kampung”. Di dalam buku ini, buya Syafii menulis pengalaman hidup sejak kecil, sampai ketika ia berkuliah di Amerika Serikat.

Diskusi ini berlangsung dengan penyampaian materi selama beberapa menit dan tanya-jawab yang berlangsung kurang lebih selama satu setengah jam, di suatu kafe di pinggir pantai, Majene, Sulawesi Barat. Kemudian diakhiri foto-foto bersama, namun kami membuat “perjanjian” sebagai progres hasil belajarnya untuk bertemu lagi sebulan ke depan, 25 Juni 2022, sembari mengumpulkan tulisan tentang tokoh guru pengaji, annangguru pangaji.

Baca juga:
Zuhriah
Latest posts by Zuhriah (see all)