Sikap Kritis Membangun Jati Diri

Sikap Kritis Membangun Jati Diri
©Bulir

Sikap Kritis Membangun Jati Diri

Salah satu fenomena yang sering kali kita temui dalam diri orang lain atau dalam diri sendiri adalah fenomena “hidup ikut-ikutan” atau “hidup ikut arus”.

Di zaman ini, atau zaman terdahulu, fenomena ini sekiranya tak pernah luntur dari catatan sejarah. Hampir setiap manusia pastinya pernah mengikuti tren yang sedang membumi dan membudaya di masanya, entah itu tren berpakaian, berdandan, atau bernalar.

Hal paling pasti yang dapat dilihat dari fenomena ini adalah bahwa “hidup ikut-ikutan” atau “hidup ikut tren” ini merupakan salah satu bagian tak terpisahkan dari kemanusiaan itu sendiri.

Manusia sering kali cenderung untuk menyesuaikan gaya hidup dan perilaku mereka dengan kelompok atau komunitas sosial. Sehingga kemajuan yang dialami tidak dirasakan sebagai ketertinggalan.

Hidup ikut-ikutan atau dalam bahasa ilmiahnya disebut sebagai konformitas pada dasarnya didefinisikan sebagai kecenderungan individu untuk mengubah persepsi, opini, dan perilaku mereka sehingga sesuai atau konsisten dengan norma-norma kelompok.

Myers mengemukakan bahwa konformitas berarti perubahan perilaku pada individu sebagai akibat dari adanya tekanan kelompok. Konformitas bukan sekadar berperilaku seperti orang lain, melainkan juga dipengaruhi oleh bagaimana orang lain berperilaku.

Konformitas adalah proses dalam diri anggota kelompok untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma yang ada dalam kelompok. Tindakan ini dilakukan sebagai gambaran kepatuhan anggota terhadap norma kelompok dan hal tersebut akan sangat membantu mempertahankan keteraturan dan keseragaman dalam kelompok.

Baca juga:

Dalam sudut pandang filosofis, hidup ikut-ikutan atau disebut juga dengan konformitas merupakan hal yang secara umum dipandang sebagai hal yang bersifat negatif. Sebab, pada dasarnya filsafat itu sendiri berdiri di atas landasan kritisisme.

Kritik merupakan jantung filsafat. Ia mempertanyakan segala sesuatu, termasuk segala kebudayaan dan kebiasaan lingkungan sosial kita sebagai manusia.

Para filsuf, dalam ajaran ataupun karya-karya mereka, sering kali mengkritik orang-orang yang kurang kritis dan hidup ikut-ikutan atau sekadar ikut arus. Mereka sangat membenci orang-orang yang tanpa berpikir panjang mengikuti kebiasaan lingkungan sosial mereka di sekitarnya.

Bagi mereka, hal itu sama seperti ketika ada orang berdiam, kita berdiam, atau ketika orang berlari, kita juga ikut berlari, walaupun arah lari tersebut menuju jurang penuh nestapa, baik dalam bentuk kehancuran diri kita, walaupun kehancuran alam. Salah satu filsuf yang sangat antusias mengkritik orang-orang yang hidup ikut-ikutan pada masanya adalah Friedrich Nietzsche.

Nietzsche adalah seorang filsuf besar asal Jerman, yang lahir pada tahun 1844. Dalam bukunya yang berjudul Thus Spoke Zarathustra, dalam bab berjudul The Bestowing Virtue, Friedrich Nietzsche menulis sesuatu yang mengejutkan, Zarathustra.

“Zarathustra adalah yang pertama-pertama melihat bahwa pertempuran antara yang baik dan jahat itu adalah roda yang menggerakkan segalanya.” Menurutnya, Zarathustra lebih jujur ketimbang pemikir lainnya. Maka, Nietzsche memakai nama Zarathustra sebagai tokoh dalam bukunya.

Seorang bijak yang juga merupakan tokoh sentral dari buku tersebut, ia mengatakan kepada para pengikutnya untuk berhenti mengikutinya. Dia berkata, “Sekarang aku pergi sendiri, murid-muridku. Kalian juga pergilah sekarang, pergilah sendirian. Aku menginginkannya demikian. Aku menasihatimu: pergilah dariku, dan jaga dirimu dari Zarathustra. Dan lebih baik lagi; malulah padanya (be ashamed of him). Mungkin dia telah menipumu”. Kata-kata ini merupakan bagian penting dalam kajian ini.

Maksud dari kalimat itu ialah bahwa seorang guru yang terkenal akan kebijaksanaannya memberitahu para pengikutnya untuk malu dan pergi darinya, meninggalkannya, dan mencurigainya. Mengapa dia melakukan itu?

Halaman selanjutnya >>>
Mario G. Afeanpah
Latest posts by Mario G. Afeanpah (see all)