Sikapi Kasus Korupsi DPRD Sulbar, Maman: Mahasiswa Mesti Adil

Sikapi Kasus Korupsi DPRD Sulbar, Maman: Mahasiswa Mesti Adil
Mantan Ketua Mahasiswa Polewali Mandar di Yogyakarta, Maman Suratman

Nalar Politik Mantan Ketua Umum Ikatan Pelajar Mahasiswa Polewali Mandar – Yogyakarta (IPMPY), Maman Suratman, memberi penegasannya terkait kasus korupsi yang melibatkan sejumlah pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulbar.

Menurutnya, kasus dugaan penyimpangan APBD Sulbar Tahun Anggaran 2016 harus diusut tuntas. Dan mahasiswa, baik yang di dalam maupun yang tengah menempuh pendidikan di luar daerah seperti di Yogyakarta, harus turut serta memberi sikap.

“Ini bukan kasus sepele. Yang berwenang harus segera mengusut tuntas upaya pencurian uang rakyat ini hingga ke akar. Dan kita (mahasiswa rantau) mesti pula ikut menyikapi, setidaknya mendesak pihak berwenang agar masalah ini cepat selesai,” tegas Maman melalui keterangannya via telepon di Yogyakarta, Senin (9/10/2017).

Karena ini menyangkut hajat hidup warga Sulbar secara umum, tambah Maman, maka desakan untuk pengusutannya adalah wajib. Mahasiswa bertanggung jawab penuh untuk mengawalnya.

“Wajib itu. Tak boleh diam. Ketua DPRD dan wakil-wakil kita lainnya terlibat kasus korupsi, masa iya kita berdiam diri?” tandasnya.

Meski pengusutannya dianggap sebagai tanggung jawab semua warga Sulbar, termasuk mahasiswa, sikap seperti itu justru dilihat Maman tidak tampak dari teman-teman sesama pelajar di negeri rantau. Yang ada baginya justru sikap yang seolah mendiamkan masalah.

“Saya tidak tahu apa sebabnya. Mungkin saja karena tidak enak hati karena salah satu tersangka itu adalah orangtua sahabat kami, atau mungkin ada sebab lain seperti ketidaktahuan bagaimana harus merespons,” lanjut pelajar yang kini mengejar studinya di bidang Filsafat UIN Yogyakarta ini.

Meski demikian, bagi Maman pribadi, kecenderungannya ada di faktor pertama. Rekan-rekannya tampak tak enak hati karena meresponsnya adalah sama dengan membuka aib kerabatnya sendiri.

“Kalau benar begitu, ini yang tidak adil. Karena apa pun kasusnya, terlebih kasus yang merugikan orang banyak, siapa pun pelakunya, kerabat atau bukan, sikap kepada terduga korupsi kan harus sama. Tidak boleh membeda-bedakan. Jangan bawa-bawa masalah personal ke dalam kasus yang merugikan banyak orang ini. Itu namanya tidak adil sejak dalam berpikir,” terang Maman kembali.

Ia pun mengharapkan penuh agar mahasiswa mampu bersikap seperti itu. Apa dan siapa pun pelakunya, katanya, hukum tetap harus ditegakkan. Dan mahasiswa sebagai generasi harapan mesti ikut mengawalnya.

“Harapan saya hanya satu, ya itu tadi, adillah. Seperti semangat hukum yang kita anut, kita tak boleh pandang bulu. Kita harus kawal ini kasus sampai tuntas,” pungkasnya.

___________________

Artikel Terkait:

    Redaksi

    Reporter Nalar Politik
    Redaksi