Sinekdoke Seksaholik

Sinekdoke Seksaholik
©Foxnews

Terubus segar bugenvil rusak dan basah oleh air. Beberapa tangkai mungilnya patah oleh guyuran air talang di teralis. Seekor terwelu berbulu pitak-pitak penyakitan riang tanpa sarapan, meloncat kegirangan bermain dengan udara pagi di halaman depan bangunan tua ini. Semua perabotannya tampak ringsek. Berantakan, lembab, bahkan dingin membeku.

Pelbagai barang berserakan, rokok keretek, pemantik, obat keremi, dildo, pion catur, buku-buku ideologi dan agama, setagen dan lainnya.

Sebagian ada juga hasil prestasi kleptomani. Kluster barang curian, dari patung manusia labah-labah, toapekong, fototustel, pateram, botol sarsaparilla, telempong, sombrero, swipoa hingga barang luks: pulpen emas!

Musik ingar-bingar itu masih saja menyalah dari tepdek bertenaga batere. Sudah persetan tepaselira. Karena memang kami sendirian di tengah lembah ini. Telanjur dan telantar. Azan subuh dari alarm gawai miskin sinyal itu kalah saing.

Mungkin, sudah persetan dengan alam baka, Allah taala, takbiratulihram, tahiat yang sudah tak mempan untuk para bargajul, bramacorah atau bahkan para ustaz tabik agama.

Mereka lebih takut gonggong buldog. Bidah musik, keangkuhan sekte agama yang menolak, sudah jadi mite.

Di lantai dingin bangunan tua itu ada juga botol wodka. Wallahualam, hangat banget tadi malam. Baru kali ini kurasakan. Lupa sudah petuah Walisanga untuk tobat. Hanya berusaha sadar bagaimana menyimpul usada hati agar tetap waras. Ikhlas dan rida dengan versi sinekdoke masing-masing.

Kasihnya, dengan hangatnya, tak perlu tangis hingga kalahkan tragikomedi negeri ini. Atau seperti khunsa yang diobrak Satpol PP.

Kami berdua, seolah simple memencet tuts turbojet, raungkan sirene kebebasan, tanpa neka-neka. Seperti memasukkan kemunafikan ke beronjong saja.

Bagiku, semua serba dekat, seperti ingin berpelukan agar hangat. Serasa tak ada batas. Termasuk suara-suara aneh yang menderu tepat di samping ranjangku. Tak ada sekat kokoh tembok ataupun yang murahan, tripleks.

Bagi penghuninya, tak perlu lagi khawatir tentang bilik tergoyang, karena memang tak ada batas, los dol!

Peranti sekat tak diperlukan di sini. Muntahkan saja seperti saus yang meloncat dari botol.

Kosen pintu yang seharusnya berdaun pintu itu, dibiarkan saja melompong. Hanya ada juntai kain mori yang sudah semerawang. Membentuk fantasi serimenganti, bak mengimpikan gerbang keraton Majapahit yang penuh pengawal dan dayang-dayang.

Tiba-tiba saja aku bergidik. Seekor celurut lari menuju ranjangku. Pontang-panting melintasi beberapa ekor ayam katai ramai berkotek di pojok comberan yang ampun baunya itu.

Seyogianya, aku terus tidur saja pagi itu. Agar tak melihat sambutan pagi yang kejam ini.

Ambin bambu berseprai kusut di sampingku masih berderit kencang. Pengendara itu masih saja berpacu sendirian. Aneh saja bagiku, swaservis…..

Gria tawang, perjamuan aksarawan juga perlu berbagai rupa ejawanta sanggama. Tak peduli para tarikat dan pelaku tawakal. Termasuk amoi ateis itu. Aku pun langsung mengurung kepala dengan bantal dakron kumal ini. Siasat agar budek.

Ah! Preambul pagi yang kacau. Semestinya aku tidur saja untuk beberapa jam ke depan, atau bahkan sampai siang.

Sesak juga rasanya berimpit dakron. Kusingkap pelan, tak kupedulikan sepiring comro hangat menggoda selera makan.

Combro itu menghalangi pemandangan indah saja. Sebuah suguhan yang lebih hangat dari sambutan pagi dari pojok comberan tadi.

Selera sarapan pagiku tetiba lenyap. Walau perut riuh menabuh. Selera makanku yang ampuh. Apalagi setiap lauknya berteman nasi dari beras gagarancah, gelatak!

Pelan, kuintip lagi amoi yang menolak angpau pejabat bejat kemarin malam itu. Tampak tenteram batinnya, bersuar terbit pagi yang menyelinap dari genting pecah di atas ambin bambu yang berumur bangka. Sukses siratkan 7 warna keluwung. Indah dibiaskan oleh butiran kabut pegunungan jenuh.

Di samping tubuhnya, hanya ada taburan kemboja yang sudah lecek. Namun, tak ada bau lantaragung. Hanya lengur saja.

Dia telentang capek. Kue apam atau apa itu calabikangnya, ya? Tampak sukaria menyembul tanpa penutup. Seperti kembang kempis sedot segar pagi di lembahan asri ini. Ah! Biarpun sudah mengendur otot-otot pubisnya setelah hajat purna, masih saja menawan. Sudah pelong!

Tetap saja montok seperti apam asura. Daging secuil itu sudah mengecil segerotol. Masih aman dari gonore dan infeksi sinlis.

Aku pun tak perlu memberi aplaus ala gem saga. Agar tak dituduh seksaholik. Kunikmati saja bersama apek dakron repertoar yang sengaja dia pentaskan ini.

Embuskan berahi…

Risiko sah dari kaidah visual lobang lembap yang beresens. Bernilai nirmala, nomor satu, ideologi global. Kepuasan tanpa paksaan dekret renaisans. Itulah rezeki berandal yang sudah sahih tanpa drama.

Hanya mata trakom sia-sia dengan pemandangan ini. Kulitnya tak takut tusukan moncong anofeles yang mulai berdenging manuver di atasnya. Mungkin, terpeleset jika mendarat. Begitu halus dan licin mengkilat oleh keringat tanggungnya. Seperi kulit bayi berbalur minyak asiri, balans sekali.

Bangunan tua ini memang sasaran empuk malaria. Berdiri soliter di lembahan lebat. Sisi ujungnya berdiri resevoar kuno berdinding batu andesit gunung.

Kukecek lagi mata belekku, tanda tanggung tidur. Agar lebih jelas. Kulihat lehernya masih terlilit halsduk tetoron. Bukan karena suhu dingin. Namun, untuk menutupi bercak merahnya yang didapat dari sebuah kekejaman tadi malam.

Hukulyakin! Seperti zerafah lehernya, jenjang, panjang lencir hingga yaumulakhir.

Sedang rambutnya? Duh! Menyirat perjuangan lawan tradisi rebonding! Krol saja. Ya, yang mirip kribo itu. Bayangkan saja, seperti lolipop semampai!

Jarak Sedepa dari ambin bambu reyotnya, perapian berbahan bakar kayu gandarukem masih kuat menyala karena getah damarnya.

Tak perlu angin lisus agar api tetap menyala. Hangatkan pagi di lembah dingin ini. Tabahkan saja dengan asapnya, membantu perlawanan kulit mulus lawan nyamuk anofeles.

Lantai perapian di sampingnya kumuh. Cipratan minyak kelentik menyebar pola saturasi. Sepertinya baru saja dia goreng combro sewaktu aku tidur. Terus berswaservis dengan lentik jarinya.

Paduan bau lembab khas dataran tinggi beradu dengan hangusan kayu. Ada yang aneh lagi, tentang bau khas yang coba meringsek masuk. Seperti aroma keluwak kedaluwarsa yang terlarut di masakan rawon daging sapi.

Apa aku berkhayal? Hasil kebosanan sayur waluh dan terung berhari-hari diracik amoi yang masih terlentang itu. Ini jelas bukan bau kemelanding terbakar. Ini pasti aroma rawon!

Beterbanganlah kalimat azubillah, dasar pikiran bewok! Khayal melulu. Tapi, bau itu tetap kuat saja di angkasa ruangan. Aku bangkit, mengangkat gelodok dan gerobok yang menghalangi arah ke perapian.

Kuputar stopkeran pipa leding yang sudah tujuh tahun kles. Seret banget, air pun memancar deras dari tampungan reservoir kuno. Kencang tanpa pompa hidraulis. Aku merayakan hadas besarku. Hasil pelajaran berharga dari amoi itu yang tak ada di subbab raudatulatfal ataupun subbagian vang mana pun.

Yang diajarkan amoi itu simple. Toleransi antaranggota, antarbenua, antarnegara, antargrup, antarmanusia, antarumat, antarfaksi. Bahkan antar walkitalki. Melatih untuk tidak takut dengan xenophobia dan perbedaan.

“Taruh ini di sepatbor! Sekop, jangan lupa letakkan telentang, biar bersih!” amoi terbangun dan memberi perintah tanpa temperamen bak werdatama BIN (Badan Intelijen Negara).

“Baik, Kakak!” jawabku tegas dan sukacita. Setegas-tegasnya dan terengginas.

“Musuh terlalu banyak, sedang kita berdua saja,” katanya lembut bak serunai.

“Semangat, Kakak!” timpalku.

“Kedok-kedok saptapesona yang pusparagam bak sanjak itu cukup rongrong rimbunnya,” imbuhnya.

“Ya, Kakak!” jawabku.

“Kamu makan rawon dulu, setelah itu bergerak!” serunya.

Ternyata rawon itu ada. Berjalan saja aku ke arah sumber aroma di ruangan lain yang tak kalah sempit dan kumuh. Amoi itu membangun perapian lainnya. Di atasnya yang membara, tergantung ketel usang menyemburkan aroma rawon.

Dalam remang hanya andalkan bara kayu perapian itu, betapa terkejutnya aku. Di pojok gelap terikat seseorang dengan mulut disumpal celana dalam si amoi.

Erangan plinplan dari mulut yang tersumbat kalah oleh gelegak kuah rawon itu.

“Itu si tuan plebisit!” suara amoi kagetkan dari belakang.

“Plebisit pusat petentengan yang pasang plang itu, Kak?” tanyaku gugup.

“Ya! Yang suka pingpong suara rakyat!” jawab amoi penuh marah.

“Seperti aku ini?” tanyaku memelas.

Kilasan sekelebat menggambar jelas di dinding pekat. Tentang aku yang sembuh di sini. Mungkin dia yang terikat akan sembuh juga dengan keadaan dan suasana partikelir dari apa pun yang diciptakan amoi di bangunan tua itu.

“Mereka menjaga sekaligus mencuri,…….,” amoi menutup dengan sebuah epilog sarat makna itu mengantarkan aku ke ruang tengah untuk menyantap rawon panas.

Yudho Sasongko
Latest posts by Yudho Sasongko (see all)