SMRC: Sikap Warga terhadap FPI dan MRS Kurang Positif

SMRC: Sikap Warga terhadap FPI dan MRS Kurang Positif
©Fajar Online

Nalar Politik – Survei Nasional Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) pada 18-21 November 2020 menemukan bahwa sikap warga terhadap Front Pembela Islam (FPI) umumnya kurang positif. Dari warga yang tahu atau pernah dengar nama FPI (69 persen), kelompok ini hanya disukai oleh kurang dari 50 persen.

Dukungan terhadap perjuangan FPI pun lebih rendah dibandingkan dengan dukungan terhadap Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Hal ini terlihat dari temuan survei SMRC pada Januari 2018 bahwa yang mendukung perjuangannya hanya 33 persen, jauh lebih rendah jika dibandingkan dukungan terhadap NU 80 persen dan Muhammadiyah 58 persen.

Untuk sosok sang imam, Muhammad Rizieq Shihab, yang menyukainya hanya 43 persen dari warga yang tahu atau pernah mendengar namanya (73 persen).

Kualitas personal MRS, jelas SMRC dalam rilisnya (26/11), tampaknya kurang positif di mata warga pada umumnya. Kesukaan ke MRS jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan sejumlah tokoh nasional lain (Prabowo, Sandiaga Uno, Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo, Khofifah, Anies Baswedan, Agus Harimurti) yang disukai oleh lebih dari 70 persen di antara warga yang tahu.

“Kesukaan lebih penting dibanding awareness, sehingga Ridwan Kamil (85 persen), Ganjar Pranowo (85 persen), Sandiaga Uno (84 persen), dan Khofifah (83 persen) paling atas. Lalu AHY (76 persen), Prabowo (75 persen), dan Anies (74 persen) di lapisan kedua. Sementara MRS jauh di bawah (43 persen).”

Terkait acara resepsi pernikahan dan maulid nabi yang diselenggarakan oleh MRS yang dihadiri ribuan pengikutnya dengan tidak menerapkan protokol kesehatan (memakai masker dan menjaga jarak) secara ketat, warga umumnya menilai negatif.

“Dari total 49 persen warga yang tahu acara tersebut, mayoritas (77 persen) setuju seandainya aparat keamanan membubarkan acara itu dengan alasan Covid-19. Warga pada umumnya lebih berpihak kepada aparat keamanan dibanding MRS dalam kasus ini.”

Selain itu, lebih banyak pula warga yang setuju dengan pendapat bahwa ‘Gubernur DKI Jakarta (Anies Baswedan) telah gagal menjalankan aturan PSBB secara adil kepada semua warga DKI Jakarta tanpa memandang etnis, agama atau golongannya’.

“Sikap warga tersebut tampaknya berhubungan dengan awareness terhadap acara resepsi pernikahan dan maulid nabi yang diselenggarakan MRS. Di antara yang tahu acara tersebut, yang setuju dengan pendapat bahwa Gubernur DKI Jakarta telah gagal menjalan aturan PSBB secara adil mencapai 57 persen.”

Sebaliknya, warga secara umum mendukung upaya pemerintah menegakkan aturan atau protokol kesehatan untuk mengurangi penyebaran Covid-19. Mayoritas mendukung tindakan pemerintah pusat menegur aparat kepolisian dan pemerintah daerah yang kurang tegas terhadap pelanggar protokol kesehatan.

“Protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19 seharusnya dijalankan secara serius tanpa membedakan etnis, agama, dan golongan.”