Soal Keterlibatan Romo Magnis Suseno di MK

Soal Keterlibatan Romo Magnis Suseno di MK
©Katadata

Ketika Demokrasi Memanggil Sesepuh Etika Bangsa

Pasca tampilnya Romo Magnis Suseno dalam sidang gugatan pilpres mewakili kubu paslon nomor urut 03 sebagai saksi ahli di bidang etika, menyeruak pula debat kusir seputar etis tidak etis, elok tidak elok atau pantas tidak pantas seorang romo Katolik terlibat dalam politik praktis atau memberikan dukungan kepada salah satu kandidat. Diskusi ini masih terus memanas hingga saat ini.

Hal ihwal yang mau kita lihat lebih dekat adalah apakah keterlibatan Romo Magnis ini bertentangan dengan ajaran Gereja atau tidak? Sebenarnya bagaimana duduk perkara yang sebenarnya?

Sebelum itu kita akan bersama-sama lebih dahulu mengenal Romo Magnis Suseno terlebih dahulu, sebab penulis melihat sepertinya orang-orang yang “mem-bully” atau “menghujatnya” tidak begitu mengenal Romo Magnis Suseno secara lebih dekat sehingga komentar-komentar mereka itu bak “pepesan kosong” yang tidak bermakna apa-apa, malah sebabkan kegaduhan yang mengerdilkan.

Siapa itu Romo Magnis Suseno?

Banyak orang yang pernah dekat dengan Romo Magnis sebagai rekan imam, dosen, mahasiswa, pembaca buku-buku dan tulisannya, pasti secara garis besar sudah mengenal dengan cukup baik siapa itu sosok Romo Frans Magnis Suseno SJ, sehingga tidak heran ketika beliau tampil sebagai saksi ahli dari paslon 03. Sebaliknya kebanyakan orang barangkali belum begitu mengenal beliau sehingga rada “salah kaprah” dalam menyikapi keterlibatan Romo Magnis di Mahkamah Konstitusi.

Romo R.P. Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno SJ, dengan nama Franz Graf von Magnis. Romo Magnis Suseno atau Prof. Em. Dr. Romo Frans Magnis-Suseno SJ adalah sosok yang dikenal sebagai Pastor Gereja Katolik, cendekiawan, dan budayawan.

Romo Magnis Suseno lahir pada 26 Mei 1936 di Eckersdorf, Sesilia, Distrik Glatz, Jerman yang sekarang bagian dari Polandia. Sejak 1 April 1996, ia menjadi guru besar filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.  Ia merupakan putra sulung dari pasangan suami istri Ferdinand Graf von Magnis dengan Maria Anna Grafin von Magnis, prinzenssin zu Lowenstein.

Selain berdarah bangsawan, keluarga Romo Magnis Suseno juga termasuk dalam golongan rohaniawan Katolik yang taat. Ia mengisi masa mudanya dengan mendalami kerohanian di Neuhausen, antara tahun 1955-1957. Ia kemudian mendalami studi filsafat di Philosophische Hochschule, Pullach, dekat kota Munchen antara tahun 1957-1960.

Pada tahun 1959, ia sudah mencapai gelar akademik Bakalaureat dalam filsafat, dan setahun kemudian pada 1960 meraih Lizentiat juga dalam bidang filsafat. Pada tahun 1961, dalam usia 25 tahun ia dikirim ke Indonesia untuk mengenyam pendidikan di bidang filsafat dan teologi. Beliau merupakan tokoh budayawan, Imam Missionaris Gereja Katolik dan Guru Besar Filsafat. Ia mulai berkarya di Indonesia sejak 1961 sebagai seorang misionaris.

Dari tahun 1971 sampai 1973, ia studi doktor di Ludwig-Maximilian-Universitas di München dan dipromosi dengan disertasi tentang Karl Marx. Ia kemudian memberi kuliah tentang etika dan filsafat politik dan menjabat sebagai sekretaris eksekutif di STF Driyarkara.

Sejak 1975, ia juga mengajar di Universitas Indonesia dan kemudian selama sembilan tahun di Universitas Katolik Parahyangan di Bandung. Pada tahun 1977, ia memperoleh kewarganegaraan Indonesia dan sejak itu menamakan diri Franz Magnis-Suseno. Buku Etika Politik ini adalah salah satu buah karyanya yang diterbitkan pada tahun 1988, jauh sebelum sebagian para penghujatnya lahir dan jauh sebelum dia diminta sebagai saksi ahli dalam Sengketa Pilpres 2024.

Jika beliau diminta untuk menjadi saksi ahli dalam sebuah Kasus Politik, adalah hal yang wajar, mengingat beliau dalah seorang Guru Besar Filsafat yang erat kaitannya dengan Etika Politik. Jadi Beliau adalah seorang guru bangsa yang sangat mumpuni di bidangnya. Bukan sekadar imam kemarin sore yang terjun ke politik praktis hanya sebagai juru kampanye untuk memopulerkan namanya.

Romo Magnis Suseno memperoleh kewarganegaraan Indonesia pada tahun 1977. Romo Magnis juga berteman baik dengan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan menganggap Gus Dur sebegai orang paling penting dalam hidupnya. (Sumber)

Beliau keras mengkritik kekejaman orde baru dengan mengupas kasus Marsinah dalam tulisannya. Beliau kritik tajam tentang penculikan aktivis 98. Beliau tegas kritik SBY tentang intoleransi dan maraknya korupsi. Periode pertama beliau juga berani kritik Jokowi tentang masih maraknya kasus korupsi dan pelemahan KPK. Beliau hadir sebagai saksi ahli di sidang kasus Bharada E dan sekarang beliau hadir dalam sidang MK.

Beliau bukan “anak kemarin sore” yang baru peduli dengan masyarakat. Beliau melakukan ini semua bukan demi kekayaan, kekuasaan apalagi level Rubicon, tapi beliau lakukan demi keadilan dan kemanusiaan. Dialah Romo Magnis Suseno.

Isi Nota Kesaksian Romo Magnis

Berikut ini penulis hendak memaparkan isi lengkap dari nota kesaksian Romo Magnis:

“Yang mulia para hakim, berikut ini saya mau memaparkan bahwa dalam kaitannya dengan pemilihan umum Februari lalu yang singkatnya saya sebut pemilu ada unsur-unsur yang kalau betul-betul terjadi merupakan pelanggaran-pelanggaran etika yang serius serta apa implikasi pelanggaran-pelanggaran itu. Sebelumnya izinkan saya menyampaikan 7 catatan mengenai etika:

Halaman selanjutnya >>>
Siorus Degei
Latest posts by Siorus Degei (see all)