Sosiologi Islam: Struktur dan Kultur Masyarakat Muslim

Sosiologi Islam: Struktur dan Kultur Masyarakat Muslim
©Pinterest

Ditinjau dari aspek filsafat sejarah menyatakan bahwa peristiwa masa lampau akan berkesinambungan untuk peristiwa selanjutnya. Struktur masyarakat terbentuk berdasarkan hubungan dominasi antara satu kelompok dengan kelompok lain.

Menurut Ali Syariati, sosiolog Muslim kelahiran Iran menyatakan bahwa kelompok-kelompok tersebut bermula dari sejarah pertarungan antara Qabil dan Habil. Dalam kasus ini Ali Syariati menggambarkan bahwa pertarungan Qabil dan Habil merupakan pertarungan dua kelompok yang saling berlawanan dan berlangsung sepanjang sejarah. Digambarkan bahwa kelompok Qabil sebagai kelompok yang berkuasa (King) dan kelompok Habil sebagai kelompok yang tertindas atau yang dikuasai.

Pertarungan antara Qabil dan Habil bermula sejak adanya manusia, yaitu Adam dan Hawa, terutama sejak lahirnya putra mereka yaitu Qabil dan Habil. Qabil dan Habil memiliki suadara kembar perempuan. Kemudian, Adam memberi perintah agar Habil dan Qabil menikahi saudara kembarnya secara bersilang. Habil harus menikahi saudara kembar Qabil dan sebaliknya.

Akan tetapi, Qabil tidak menyetujui hal tersebut. Menurut Qabil, saudara kembarnya lebih cantik daripada saudara kembar Habil. Qabil yang tidak dapat menerima putusan dari Adam mencoba untuk merebut pasangannya dengan cara membunuh Habil.

Menurut Ali Syariati, bermula dari pembunuhan Habil dan Qabil, di mana Habil mewakili zaman ekonomi pengembalaan, suatu sosialisme primitif sebelum adanya sistem milik, sedangkan Qabil mewakili sistem pertanian. Setelah itu mulailah pertarungan abadi, sehingga seluruh sejarah merupakan arena pertarungan antara kelompok Qabil si pembunuh dan kelompok Habil yang menjadi korbannya, atau antara penguasa dan yang dikuasai.

Dalam terminologi Karl Marx menyatakan bahwa terdapat dua kelompok. Pertama kelompok pemilik modal (di dalamnya termasuk tuan tanah dan kelompok bangsawan) dan kedua kelompok ploretariat atau buruh yang terus-menerus ditindas oleh mereka yang memiliki penguasaan atau oleh mereka yang berkuasa. Qabil mewakili ideologi kapitalisme yang berusaha untuk memperoleh keutungan dan menumpuk harta yang di dalamnya terdapat beberapa praktik ketidakadilan dan manipulasi untuk memperoleh keuntungan dan kekayaan.

Di dalam Alquran di ceritakan perihal kisah Qarun dan Fir’aun. Kisah Qarun dan Fir’aun merupakan reprentasi dari Qabil. Kemudian hal tersebut memperlukan tiga dimensi yang terpisah dan menghadirkan tiga dimensi yang berbeda. Dimensi yang memiliki manifestasi politik (kekuasaan dan ekonomi), harta, dan politik.

Misalnya Fir’aun disimbolkan sebagai kekuatan politik yang berkuasa dan Qarun disimbolkan sebagai penguasa harta. Keduanya ada pada contoh Qabil. Sebab itu, di dalam Alquran ditemukan istilah mala’, mutraf, dan rahib, yaitu sikap keras, berlebihan, dan keagamaan. ketiga hal itu secara terus menerus terlibat untuk mendominasi, mengeksploitasi,dan menipu manusia.

Kelompok Habil yang mewakili sistem sosial yang merefleksikan kondisi sosial yang egaliter, di mana sumber-sumber produksi dan konsumsi tidak di dominasi oleh satu kelompok, di sini Ali Syariati menyebutnya dengan zaman pengembalaan yang di mana alam sebagai sumber produksi. Dalam hal tersebut, tidak ada kepemilikan pribadi atau monopoli sumber-sumber produksi (air dan tanah) atau monopoli alat-alat produksi (sapi, bajak, dan lain sebagainya).

Realita yang di temukan oleh kisah Habil adalah ditemukan pada hubungan “sejajar’’ Allah dan manusia (al-nas). Hubungan sejajar ini bukan berarti memiliki mana sama. Akan tetapi, menunjukkan bahwa kata Allah dan al-nas seringkali digunakan silih berganti. Seperti (Q.S. 64:17) “jika kamu meminjamkan kebaikan kepada Allah, maka akan diganti dengan yang lebih baik.’’

Pinjaman di sini diartikan bahwa adanya perhatian baik pada manusia. Selanjutnya, masalah kekuasaan adalah milik Allah artinya kekuasaan milik manusia juga. Begitupun dengan harta. Artinya, kata al-nas merupakan keseluruhan manusia adalah perwakilan Tuhan.

Menurut Ali Syariati struktur sosial masyarakat yang digunakan oleh Karl Marx dengan istilah perbudakan, borjuasi, kapitalisme, atau feodalisme sebenarnya bukanlah struktur sosial, melainkan bagian dari superstruktur masyarakat. Superstruktur tersebut terdiri dari struktur Habil dan stuktur Qabil.

Struktur Habil menerapkan sistem yang melegimitasi hak milik kolektif yang kemudian akan melahirkan suatu masyarakat yang memiliki corak tersendiri. Kemudian, Stuktur Qabil akan muncul kepemilikan pribadi, monopoli yang kemudian akan menjadi perbudakan, kapitalis industrial dan pada akhirnya akan berujung pada imperialisme.

Ali Syariati memaparkan bahwa “Semangat dan norma masyarakat, penghormatan terhadap orang tua, kesungguhan dalam melaksanakan kewajiban moral, ketaatan mutlak terhadap ketentuan hidup bersama, kesucian batin serta keikhlasan beragama, cinta kasih serta kesabaran itulah sistem masyarakat yang di miliki oleh Habil.’’

Akan tetapi, ketika masyarakat mulai mengenal pertanian dan mengalami revolusi di dalamnya menurut Ali Syariati maka akan melahirkan manusia baru yang berkuasa dan keji. Revolusi telah membunuh zaman peradaban dan menciptakan diskriminasi. Maka, di sini mulailah manusia yang menguasai tanah dan produksi untuk kepentingan dirinya sendir dan hal inilah yang di sebut dengan sistem kepemilikan pribadi yang diwakili oleh Qabil.

Menurut Ali Syariati, logika klasifikasi kelas atau struktur masyarakat yang di bangun oleh Karl Marx tidak kuat dan bahkan mencampuradukkan antara kriteria tertentu sehingga mengacaukan klasifikasi tahap perkembangan sosial dalam masyarakat.

Tiga yang dikacaukan dari cara pandang Karl Marx adalah bentuk hak milik, bentuk hubungan kelas, dan bentuk alat produksi. Kemudian, Karl Marx mebuat tahap-tahap perkembangan sosial dan terjadi perubahan di dalamnya, menurut Ali Syariati hal tersebut didasarkan pada:

1) Sosialisme Primitif. Periode ini menjelaskan masyarakat hidup secara kolektif dan berdasarkan kesamaan,

2) Perbudakan. Periode ini masyarakat dibagi menjadi dua kelas, yaitu kelas yang dipertuankan dan kelas budak. Hubungan disini tergambarkan pemilik dan yang dimiliki.

3) Perhambaan. Periode ini masyarakat ada dipihak pemilik tanah dan satunya ada dipihak para hamba. Walaupun, pihak hamba telah terbebaskan dari perbudakan. Namun, pihak hamba tetap terikat pada tanah garapannya,

4) Feodalisme. Suatu cara produksi yang didasarkan atas pertanian dan pemilik tanah. Dalam batas-batas tertentu pemilik tanah merupakan yang dipertuankan (menikmati kekuasaan politik atas massa petani)

5) Borjuasi. Pemilik modal dan kelakuan yang terkait dengan kepemilikan tersebut.

6) Perkembangan penuh borjuasi dan industri. Kapital semakin bertumpuk dan konsentrasi produksi pada industri besar. Akibatnya, nasib buruh tergantung pada kapitalis.

7) Jumlah kapitalis semakin menipis, sedangkan kekayaan semakin membengkak. Industri dan capital terus mengembang. Hal tersebut membuat kaum proletar semakin tertindas. Akan tetapi, bersamaan dengan itu pula mereka semakin kuat. Persaingan dialektis antara kubu terpecah, yang berakhir dengan kemenangan proletar. Tidak ada lagi sistem milik pribadi atas industri dan kapital.

Menurut Ali Syariati, klasifikasi perkembangan peradaban manusia dan proses pembentukan struktur dalam masyarakat dengan kerangka teori dari Karl Marx yang telah di paparkan kurang mencerminkan ciri khas masing-masing. Semisal, pada tahan pertama dan ketujuh sebenarnya memiliki kesamaan yang berkaitan tentang kepemilikan bersama, orientasi sosialisme.

Kemudian, pada tahap kedua, ketiga, keempat, kelima, dan keenam memiliki kesamaan yang berkaitan tentang proses penumpukan kepemilikan pribadi, orientalisme kapitalis. Oleh sebab itu, menurut Ali Syari’ati tahap-tahap perkembangan sosial itu hanyalah substruktur dari superstruktur dalam kategori struktur Habil dan Qabil.

    Gibran Zahra