Spirit Gerakan Filantropi Berbasis Koin-NU

Spirit Gerakan Filantropi Berbasis Koin-NU
©Gramedia

Spirit Gerakan Filantropi Berbasis Koin-NU

Filantropi Islam telah memainkan peran penting dalam pengembangan dan keberlanjutan komunitas Muslim, terutama di daerah dengan sumber daya yang terbatas dan dukungan pemerintah yang lemah. Karena itu, Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Muslim terbesar di Indonesia telah terlibat aktif dalam memberikan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat melalui organisasi amalnya, NU Care LazisNU.

Karena bagaimanapun, dalam beberapa tahun terakhir, ada minat yang berkembang dalam manajemen filantropi Islam, yang melibatkan perencanaan strategis, implementasi, dan evaluasi program amal. Kemunculan gerakan filantropi berbasis Koin Nu atau Kotak Infak Lazisnu Care di Kabupaten Sragen—yang diresmikan tahun 2015—merupakan contoh yang baik dari pengelolaan filantropi Islam.

Setidaknya melalui buku yang ditulis Nur Hasanah ini bertujuan untuk menggali peran gerakan ini dalam membangun kemandirian Nahdliyin, yaitu kemandirian anggota organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Menurut KH. Ma’ruf Islamuddin (Penggagas Koin NU) yang menyadari bahwa NU sebagai lembaga atau organisasi keagamaan harus menjadi medan yang produktif untuk menyokong kemandirian ekonomi dan solidaritas kemanusiaan secara berkesinambungan.

Melalui Gerakan koin NU yang dikelola oleh LazisNU Sragen tidak lain sebagai instrumen yang dapat didistribusikan untuk program pendidikan, santunan kaum papa dan yatim piatu, fasilitas kesehatan, bantuan bencana alam, pelatihan kerja, serta pembangunan gedung NU dan tempat ibadah, serta program-program jangka panjang lainnya.

Dalam perjalanannya, gerakan Koin NU yang menjadi aktivitas lazim bagi para pengurus LazisNU Sragen ini dipuji karena transparansi dan akuntabilitasnya. Dalam mengemban tugasnya memberikan pembaruan rutin tentang jumlah uang yang dikumpulkan dan bagaimana uang itu digunakan. Transparansi ini telah membantu membangun kepercayaan di antara anggota NU dan telah mendorong lebih banyak orang untuk berpartisipasi dalam gerakan ini.

Dalam buku yang ditulis Nur Hasanah dijelaskan bahwa pengelolaan dana dari masyarakat yang digerakkan oleh badan amal tersebut tentunya merupakan pengelolaan yang profesional, di mana rancang bangun model perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dilakukan secara sistematis dan terukur.

Standard Operational Procedure (SOP) juga merupakan persyaratan standar, baik dalam bentuk penggalangan dana, penyaluran, pemanfaatan maupun pelaporan sebagai pedoman dalam melakukan seluruh kegiatan filantropi. (hlm. 4)

Namun, demikian, gerakan ini juga menghadapi beberapa tantangan, seperti kurangnya dana, sumber daya yang terbatas, dan kurangnya kesadaran di kalangan masyarakat umum tentang pentingnya filantropi Islam. Untuk mengatasi tantangan tersebut, NU Care LazisNU memprofilerasi beberapa strategi, seperti meningkatkan kesadaran masyarakat tentang gerakan tersebut melalui media sosial dan bermitra dengan organisasi lain untuk menggalang dana untuk kepentingan umat.

Baca juga:

Hadirnya buku yang semula dari bentuk tugas akhir penulis ini menawarkan wawasan berharga tentang pengelolaan dan dampak filantropi Islam di lingkungan NU. Eksplorasi komprehensif Nur Hasanah tentang gerakan NU Coin menjadi inspirasi bagi individu dan organisasi Islam lainnya untuk menerapkan inisiatif filantropi yang efektif dan akuntabel.

Di samping itu, gerakan melalui kotak infak yang berlokus di Sragen ini mampu memobilisasi sumber daya yang signifikan untuk mendukung inisiatif kesejahteraan sosial dan solidaritas kemanusiaan sebagai tujuan bersama, di samping membangun komunitas NU yang lebih kuat dan mandiri yang dapat mengendalikan nasibnya sendiri di masa kini dan mendatang.

Riwayat Buku
  • Judul Buku: Model Filantropi Nahdliyin; Menghimpun Infak Menebar Manfaat Melalui Gerakan Koin NU
  • Penulis: Nur Hasanah
  • Penerbit: Adab, Jawa Barat
  • Cetakan: I,  Agustus 2021
  • Tebal: xii + 132 Halaman
  • ISBN: 978-623-6233-70-2
Fathor Razi
Latest posts by Fathor Razi (see all)