Spirit Muda untuk Pembangunan Indonesia

Spirit Muda untuk Pembangunan Indonesia
©KBA

Memasuki usia ke-76 tahun adalah sinyal tantangan bagi bangsa Indonesia. Bukan hanya harus mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai negara yang adil dan makmur, tetapi juga tantangan bagi pemuda Indonesia dalam merawat spirit cita-cita founding fathers tersebut.

Indonesia telah memasuki era bonus demografi, yang di mana hal ini dapat menjadi peluang bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan cita-cita keadilan dan kemakmuran melalui pemberdayaan masyarakat usia produktif. Namun, kita juga tidak menutup mata bahwa era bonus demografi juga dapat menjadi sebuah ancaman bom waktu. Tentu, apabila kita mengabaikan dan tidak segera bertindak dalam menyikapi era bonus demografi secara cepat dan tepat (velox et excatus).

Untuk menangkap momentum ini, Indonesia harus menerapkan kebijakan-kebijakan yang tepat.  Khususnya dalam bidang pendidikan, dan peningkatan kualitas SDM.

SDM yang berkualitas secara pemikiran, skill, dan mental menjadi bahan bakar utama dalam membangun bangsa yang adil dan makmur. Melahirkan SDM yang demikian itu tentu harus pula terintegrasi dengan pendidikan yang berkualitas yang dapat diakses oleh seluruh anak bangsa.

Kenyataan bahwa kita telah pula memasuki era industri 4.0 dan era masyarakat 5.0—di mana arus teknologi dan digitalisasi tidak terelakkan—harus menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam menetapkan model pendidikan dan pemberdayaan SDM. Adaptasi akan kondisi ini membawa kita pada pemetaan yang terang dan tepat.

Pun badai pandemi Covid-19 yang melanda global dan Indonesia seakan-akan menjadi sebuah alat uji raksasa. Kondisi yang tidak normal ini menuntut anak-anak terbaik bangsa untuk tampil dan berperan; menguji gagasan, skill, dan mental. Mereka berjibaku membantu menyelesaikan permasalahan Covid-19.

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa spirit problem solving yang melekat pada diri anak bangsa masih senantiasa ada. Kita tidak kekurangan anak-anak bangsa yang berkualitas, memiliki skill kepemimpinan, progresif, dan tentu bermentalitas muda.

Mentalitas muda yang saya maksudkan di sini adalah suatu spirit yang pada umumnya terdapat pada diri seorang anak muda: spirit pantang menyerah, spirit kreativitas, dan spirit out of the box. Spirit pantang menyerah yang pertama-tama harus ada pada diri seorang anak muda, dengan keyakinan bahwa setiap semangat perubahan adalah modal awal untuk maju dan berkembang. Spirit pantang menyerah membawa kita pada kreativitas tanpa batas dengan keberanian meninggalkan zona nyaman. Kolaborasi antara spirit pantang menyerah, daya kreativitas, dan pemikiran out of the box ini pun dimiliki oleh para founding fathers terdahulu dan tokoh-tokoh terkemuka dunia termutakhir.

Pertanyaannya, apakah kita anak-anak muda bangsa telah memiliki mentalitas muda? Atau di dalam raga muda kita justru tersemai mentalitas tua yang menolak untuk maju dan berkembang, dan memilih bertahan dalam zona nyaman?

Era disrupsi dengan segala dinamikanya menuntut kita untuk keluar dari zona nyaman. Bahwa cara-cara tua dan kuno sudah tidak lagi relevan untuk diterapkan pada era ini. Untuk mendobrak itu semua dan agar kita dapat menangkap momentum bonus demografi, harus ada mental out of the box pada diri anak-anak muda, pemilik masa depan bangsa Indonesia.

Bonus demografi, yaitu era keemasan anak-anak muda bukan hanya momentum untuk memanfaatkan mereka sebagai mesin pembangunan. Bukan hanya menempatkan mereka pada kerja-kerja teknokratisme saja, tetapi juga memberikan kesempatan kepada mereka untuk turut serta menjadi pimpinan-pimpinan dalam berbagai bidang.

Jika anak-anak muda bangsa dididik untuk menjadi mesin pembangunan tanpa memberi kesempatan kepada mereka untuk memegang tampuk kepemimpinan, maka yang ada kemudian adalah melimpahnya sumber daya manusia muda dengan cara kerja generasi tua.

Memberi kesempatan kepada anak-anak muda untuk memegang tampuk kepemimpinan dalam berbagai bidang juga kita pandang sebagai strategi regenerasi kepemimpinan. Mempersiapkan mereka sejak hari ini sebagai calon pemimpin masa depan bangsa, hal ini adalah pilihan yang bijaksana. Sebab, kita harus menyadari betul bahwa statistik usia muda kian hari kian mendominasi jumlah penduduk Indonesia.

Berpegang kepada kenyataan bahwa peran anak muda di negara ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Secara historis, rekam jejak perkembanagn pemikiran pemuda Indonesia dimulai sejak tahun 1908 sampai dengan masa sekarang.

Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, kaum muda selalu memainkan peran penting dan revolusioner. Kaum muda telah berjuang dan memberikan pekerjaan vital dalam momen genting dan penting. Hal ini searah pula dengan wejangan salah satu founding fathers kita, Soerkarno: Beri aku sepuluh pemuda maka akan kuguncang dunia. Kalimat ini menegaskan bahwa betapa pentingnya peran generasi muda bagi bangsa dan negara.

Wajar saja jika kalimat-kalimat harapan atas pemuda begitu masifnya, sebab masa depan bangsa memang ada di tangan pemuda. Ungkapan ini memiliki daya konstruktif. Pemuda tidak selalu identik dengan hal-hal yang kontraproduktif, namun juga identik dengan the power of spirit-nya. Sebab, dalam mengubah suatu keadaan, dibutuhkan spirit kebaruan, muda, dan segar.

Oleh sebab itu, #2dekadedemokrat adalah momentum bagi kita semua, bahwa spirit kemudaan bisa lahir dari mana saja. Dan, memang boleh lahir dari mana saja, tanpa bias kesempatan. Setiap anak muda bangsa memiliki kesempatan pula untuk tampil dan menelurkan segala pemikiran dan kreativitasnya demi pembangunan bangsa Indonesia yang lebih baik.

Dengan penuh keyakinan, kita percaya, bahwa spirit muda adalah kekuatan untuk bersama-sama memperjuangkan pembangunan Indonesia yang maju, adil, dan makmur. Dan, pada akhirnya untuk Indonesia yang bermartabat di mata dunia.

Latest posts by Agung Hidayat (see all)