Status Logika Yunani dan Ilmu Kalam sebagai Titik Temu

Status Logika Yunani dan Ilmu Kalam sebagai Titik Temu
┬ęStudi Agama-Agama

Ilmu kalam menjadi ilmu cabang pengetahuan Islam. Ilmu kalam berarti diskusi yang berkaitan dengan nalar serta logika.

Menurut Ibnu Khaldun, ilmu kalam ialah ilmu yang melibatkan argumentasi mengenai pembuktian rasional untuk membela akidah serta dapat menjadi bantahan terhadap ahli bidah yang melakukan penyimpangan atas akidah salaf saleh dan ahlussunnah. Dengan begitu, kemunculan ilmu ini bertujuan untuk menjaga akidah Islam dan menyerang akidah lawan dengan melihat sisi kelemahan dan kepercayaan.

Teks dan logika juga menjadi tumpuan. Teks untuk berpijak awal kebenaran sementara logika menjadi tempat untuk membantu menguatkan kebenaran sebuah teks.

Bagaimana ilmu kalam menyanggah ajaran lain jika ilmu kalam sendiri banyak melahirkan aliran dengan klaim logika sebagai kebenaran. Logika menjadi tempat pandangan objektif untuk setiap aliran. Ilmu logika merupakan sebuah ilmu yang bertujuan untuk menjaga akal manusia agar tidak salah dalam berpikir.

Al-Ghazali sangat tertarik dengan logika, baginya bisa jadi pertimbangan akal. Seseorang yang tidak mempelajari dan paham atas logika perlu dipertanyakan kadar keilmuannya. Logika dapat membantu seseorang untuk bisa menyampaikan perkataan secara logis dan tersusun rapi.

Pikiran logis sudah terbentuk saat manusia lahir namun itu hanya terjadi secara sadar atau tidak karena sudah kemampuan yang diberikan oleh Allah untuk bagaimana cara berpikir secara rasional.

Pada masa Yunani, filsuf Aristoteles menulis logika pada bukunya yang berjudul novum organum. Aristoteles bukan seseorang yang menjadi penemu logika namun dia dapat menghasilkan rumusan dasar berpikir logis.

Logika Aristoteles sudah banyak digunakan oleh para filsuf muslim seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, dan Al-Kindi. Logika menjadi mukadimah untuk belajar ilmu kalam.

Baca juga:

Seperti yang terdapat pada kitab al-ibkar fi ushuluddin, kitab kalam yang banyak membahas ilmu logika Aristoteles. Akibat logika Aristoteles ini, banyak dipakai untuk membuktikan kebenaran pada teks Alquran. Logika menjadi media para ulama untuk melihat argumen yang diletakkan atau untuk melihat kelemahan logika lawan.

Pemikiran tokoh Aristoteles sangat memengaruhi pemikiran Islam.

Ibnu Rusyd ialah seseorang yang dapat menyatukan budaya Islam dan aristotelianisme. Dua tokoh ini juga merupakan tokoh yang dapat memberi penjelasan tentang kalam keberadaan Allah dengan logika Aristoteles bahwa semua yang diciptakan diprakasai oleh sang penggerak yang tidak digerakkan oleh siapa pun.

Pengaruh pemikiran Islam ini kemudian menjadi pengaruh bagi Gereja Roma Katolik di barat serta pemikiran sekuler barat seperti Aquinas dan William Lane Craig dipengaruhi oleh pemikiran Islam.

Lantas filsafat Yunani logika lebih memengaruhi Islam atau Kristen.

Muncul perbedaan pendapat dari para ahli terkait kemunculan kalam melalui tradisi Islam atau tradisi kristen. Ada yang berpendapat bahwa kalam menjadi kreasi tradisi peradaban Islam yang diawali dengan perdebatan mengenai sifat dan zat Tuhan yang ada dalam kitab suci.

Di sisi lain, muncul pendapat jika ilmu kalam muncul dari wacana ihwal ketuhanan yang berkembang di golongan para teolog Kristen.

Ditelusuri dari kemunculannya, asal usul ilmu kalam terdapat 3 teori yang menyertai, yakni pertama pengaruh Kristen. Menurut Michael Cook dan Alexander Treiger jika teknik wacana yang ada pada tradisi Islam itu adalah pinjaman dari teologi Kristen. Keraguan muncul dari jejak sejarah antara sesama aliran Kristen mengenai status ketuhanan Yesus.

Halaman selanjutnya >>>