Strategi Parenting dalam Dunia yang Berubah Serba-Mendadak

Strategi Parenting dalam Dunia yang Berubah Serba-Mendadak
©Pinterest

Selain mengembangkan strategi parenting yang bersifat individual, perlu pula model pendidikan anak terakomodasi dalam kebijakan politik secara umum.

Sebagai orang muda yang belum menikah, menulis tentang parenting merupakan cara saya menyiapkan diri untuk menata kehidupan berkeluarga yang lebih baik ketika saya membuat keputusan untuk menikah. Ini bukan hal yang sulit namun tidak sesederhana yang dibayangkan oleh tidak sedikit generasi muda saat ini.

Bagaimana pun juga, menikah itu butuh persiapan yang matang. Saya dan Anda akan memiliki peran yang ganda, baik sebagai suami atau istri maupun ayah dan ibu.

Bertolak dari alasan tersebut, tulisan ini bersifat paradigmatik. Artinya, membuat analisis antarparadigma parenting yang berkembang di Indonesia dan implikasinya dalam cara orang tua dan masyarakat mendidik anak-anak.

Dengan cara itu, pembaca dibantu merumuskan strategi parenting berdasarkan latar belakang geografis, sosial, politik, dan ekonomi yang melingkupi hidup pembaca. Contohnya: secara geografis, pembaca yang tinggal di Desa Lewoawan, Flores Timur tentu memiliki strategi parenting yang berbeda dengan pembaca yang tinggal di Sleman, Yogyakarta.

Artikel ini ditulis dengan panduan pertanyaan sebagai berikut:

Mengapa parenting identik dengan kaum perempuan? Bagaimana kaum lelaki mestinya mengambil peran dalam parenting? Apa saja problem dan tujuan parenting di dunia yang berubah cepat?

Mengapa ada kecenderungan anak dididik untuk menjadi pintar dan hebat berkompetisi namun tidak diajarkan menjadi pribadi yang lentur dan negosiatif? Bagaimana mungkin pembangunan di Indonesia, baik di level pusat maupun daerah, sama sekali tidak berkolerasi positif dengan pendidikan anak tapi cenderung fokus pada pertumbuhan ekonomi nasional semata?

Beberapa Hambatan Umum

Pertama, equal parenting. Dimensi ini berhubungan secara langsung dengan dua hal, antara lain: pembagian peran yang adil di satu sisi dan persepsi publik tentang peran gender tertentu.

Mengenai yang pertama, hampir semua orang cenderung sepakat bahwa pembagian peran dalam mendidik anak merupakan hal yang sangat penting guna menghindari ketimpangan perhatian terhadap anak. Di daerah saya, misalnya, diskusi semacam ini sangat jarang karena diasumsikan bahwa pembagian peran merupakan sesuatu yang bersifat otomatis tanpa perlu dibicarakan terlebih dahulu.

Sementara itu, mengenai persepsi publik, itu tampak dalam cara masyarakat pada umumnya mengidentikkan parenting dengan peran gender tertentu, khususnya kepada kaum perempuan.

Memang, secara kodrati, hanya perempuan yang diberi tanggung jawab melahirkan generasi masa depan. Namun, mengapa kaum perempuan pula yang cenderung memikul tanggung jawab lebih banyak dalam mendidik generasi tersebut? Ini juga membuktikan bahwa sebagian besar masyarakat kita belum mampu membedakan antara gender sebagai pertunjukan dan gender sebagai identitas seksual.

Pada yang pertama, mengutip Butler, gender bersifat performatif dengan basis materialnya terletak pada peran-peran yang dimainkan dalam medan sosial. Itulah mengapa setiap orang, dari hari ke hari, berjuang menjadi laki-laki/perempuan melalui gestur, pakaian, dan atribut-atribut yang diterima sebagai pakem dan abnormalitas dalam masyarakat.

Sementara itu, pada yang kedua, gender cenderung dikaitkan dengan identitas seksual yang menyebabkan peran keibuan cenderung disematkan hanya pada kaum perempuan yang secara biologis memiliki rahim.

Padahal kaum lelaki perlu memikul tanggung jawab yang sama. Menggendong anak, mencuci popoknya, mengajarkan anak belajar, dan berbagai jenis aktivitas lain, tidak otomatis menjadi satu-satunya peran seorang perempuan. Laki-laki juga mesti mengambil peran yang sama. Ini tentu saja tidak sama dengan menuntut perempuan mesti bisa melakukan aktivitas berat yang menguras tenaga sebagaimana yang biasa dilakukan oleh kaum lelaki, seperti memanjat pohon kelapa, menggali sumur, dan sebagainya.

Gagalnya feminisme liberal justru terletak pada tidak tersampaikannya pesan transformasi sampai ke level lokal yang umumnya masing sangat kokoh komunalismenya. Akibatnya, pesan pembebasan yang dianut justru dipandang sinis oleh komunitas masyarakat sederhana yang masih berpegang teguh pada nilai-nilai lokal.

Kedua, bias kelas dalam parenting.

Pada umumnya, ekonomi merupakan faktor utama yang menyebabkan adanya bias kelas dalam parenting. Itu tampak, misalnya, dalam fenomena di mana diskusi tentang apakah perempuan mesti bekerja penuh sebagai ibu rumah tangga ataukah diberikan kebebasan menggeluti peran sebagai wanita karier.

Perspektif tersebut cenderung menemui jalan buntu karena kurang peka terhadap kondisi kelas ekonomi masing-masing keluarga. Dengan kata lain, pembedaan semacam itu justru memperkeruh persoalan yang dihadapi oleh keluarga.

Mestinya, diskusi diarahkan pada memeriksa sejumlah problem ekonomi politik yang melatarbelakangi munculnya kecenderungan tersebut. Ambil contoh: mayoritas perempuan di NTT, misalnya, tidak menganggap perlunya berdebat panjang lebar tentang peran mana yang mesti diambil oleh seorang perempuan, entah sebagai ibu atau sebagai perempuan karier.

Ketiga, parenting tidak perlu dipelajari karena menjadi orang tua itu autodidak dan tentu saja mesti ikuti model parenting yang diwariskan secara turun-temurun. Ini kecenderungan umum yang terjadi di hampir semua masyarakat NTT, misalnya.

Baca juga:

Bagi keluarga-keluarga NTT yang setelah menikah cenderung tinggal dekat orang tuanya, parenting merupakan hal yang asing. Dugaan saya, ini karena keluarga besar memainkan peran penting dalam kehidupan keluarga muda setelah mereka menikah.

Memang, hal itu bagus karena terdapat proses saling belajar di antara keluarga muda dan keluarga yang sudah lama menikah. Namun, kecenderungan ini justru menyebabkan ketergantungan keluarga muda terhadap orang tua mereka dalam menghadapi beberapa problem tertentu, di antaranya parenting.

Keempat, dilema dua tujuan parenting. Dilema ini terdapat dalam hampir semua keluarga di Indonesia pada masa ini. Ada dua pilihan yang sama-sama sulit dalam kaitannya dengan tujuan parenting: antara mendidik anak menjadi pintar dan mendidik anak menjadi seorang manusia.

Pada yang pertama, itu disebabkan oleh intervensi berlebihan dari karakter masyarakat kita yang sangat teknokratis. Masyarakat jenis ini membuat tidak sedikit orang tua dewasa ini menjejali kepala anak-anaknya dengan pelbagai jenis keterampilan dan pengetahuan kognitif sebagai bekal untuk mengahadapi dunia di masa depan.

Dalam benak orang tua, dunia masa depan akan jauh lebih kompleks dan karena itulah anak perlu memahami semua hal sedini mungkin. Anak diberi les privat, kursus sana-sini, ikut kegiatan diskusi, dan seterusnya.

Sementara itu, pada yang kedua, terdapat juga kesadaran dalam diri para orang tua yang jumlahnya tidak terlalu banyak bahwa tujuan pendidikan anak adalah membuatnya menjadi manusia. Mengenai hal ini, satu-satunya parameter yang dapat digunakan adalah bersosialisasi dan berelasi dengan sesamanya dalam suasana intimasi dan solidaritas.

Implikasi lanjutan dari dua model di atas, yakni anak yang dididik untuk berkompetisi akan cenderung individual. Itu saya amati ketika berkuliah di salah satu kampus di Yogyakarta. Hampir semua mahasiswa kelihatan sibuk dan serius belajar dan berkompetisi menjadi yang terpenting dan nomor satu di mata birokrasi kampus.

Seolah-olah kecerdasan hanya bisa diperoleh dengan cara membaca buku dalam ruangan yang sepi dan bukan melalui aktivitas diskusi dan obrolan santai dengan teman-teman di kantin, pedagang angkringan, penjual pakaian di pasar, dan masyarakat umum. Sementara itu, anak yang dididik dengan model kedua cenderung akan lebih bersolider dengan orang lain karena sejak kecill sudah dilatih untuk bersolider dengan temannya.

Memetakan dan Merumuskan Strategi Parenting di Indonesia

Menjadi orang tua merupakan panggilan hidup. Itulah mengapa tidak semua pasangan suami-istri yang melahirkan dan memiliki otomatis telah menjadi seorang ayah dan ibu.

Perpsektif ini juga bukan dengan seenaknya dapat diterjemahkan sebagai bentuk dukungan terhadap kampanye perkawinan sejenis (LGBTQ, misalnya). Hemat saya, kehadiran mereka justru sebagai bentuk koreksi bahwa parameter perkawinan heteroseksual juga terbukti rentan dan rapuh.

Pertama, berdasarkan konteks kebutuhan.

Rumuskan kebutuhan utama hidup berkeluarga dalam pendidikan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Ini menyangkut kapan Anda memutuskan untuk kapan dan berapa jumlah anak yang Anda miliki. Tentukan fokus dari parenting yang Anda lakukan. Fokus itu berkaitan dengan kepribadian seperti apa yang Anda harapkan ada dalam diri anak Anda.

Kedua, berdasarkan konteks geografis.

Sesuaikan pendidikan anak dengan konteks geografis tempat di mana anak dibesarkan. Hal ini penting agar Anak memiliki kecerdasan spasial di tengah masifnya perkembangan digitalisasi ruang dan tempat hidup manusia melalui percepatan moda transportasi dan aplikasi google map. Disebut penting karena kesadaran akan ruang (space) dan tempat (place) merupakan dasar dari kecerdasan politik dan sosial.

Ketiga, berdasarkan konteks kelas ekonomi.

Poin ini sangat berguna dalam mengidentifikasikan model parenting yang sesuai dengan kelas ekonomi keluarga. Dengan kata lain, Anda tidak bisa memaksakan model parenting dari perspektif kelas ekonomi menengah kepada masyarakat kelas ekonomi bawah. Sensibilitas terhadap kelas itulah yang memungkinkan adanya proses negosiasi tentang siapa yang perlu melakukan pekerjaan rumah, menjaga ketika anak sakit, mengantar anak ke sekolah, dan menyisihkan waktu di akhir minggu untuk ada bersama anak.

Distribusi peran juga penting diperkenalkan kepada anak agar menumbuhkan kesadarannya tentang sejauh mana kontribusinya bagi kehidupan keluarga. Oleh sebab itu, jika anak mencuci piring atau membersihkan rumah, orang tua perlu mengucapkan terima kasih kepada anak dalam rangka membangun kesadarannya bahwa perbuatannya itu mendukung perekonomian keluarga. Bukankah seorang pembantu rumah tangga di daerah perkotaan justru diberi gaji?

Distribusi peran ini juga pada akhirnya menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam diri anak terhadap kelangsungan hidup keluarga secara umum.

Keempat, berdasarkan konteks budaya.

Didik anak dengan konteks sosial budaya di mana ia berada. Budaya yang dimaksudkan di sini adalah bagaimana anggota masyarakat saling berinteraksi satu sama lain, terutama dalam mengomunikasikan makna tertentu.

Baca juga:

Dalam kaitannya dengan hal tersebut, orang tua perlu menjaga iklim keseimbangan dalam kehidupan personal keluarga dan kondisi masyarakat secara umum. Ini penting karena pertumbuhan akan terganggu jika kondisi keluarga buruk dan masyarakat yang sulit bernegosiasi.

Kelima, bangun relasi lintas generasi.

Hal ini menepis asumsi publik tentang adanya dunia orang dewasa dan dunia anak-anak. Itu disebabkan karena cara pikir “Barat” sejak dalam arsitektur yang membuat rumah dibagi ke dalam batas antara kamar anak, kamar tamu, dan kamar orang tua. Batas arsitektural tersebut, secara tidak sadar, justru diterjemahkan ke dalam berbagai jenis batas lain, seperti batas usia produktif dan usia nonproduktif, generasi milenial dan generasi lansia, dan seterusnya.

Dengan membangun relasi lintas generasi, terdapat proses saling belajar yang bersifat timbal-balik. Di situ, alih-alih berhasrat mengajarkan segala sesuatu, orang tua justru perlu rendah hati belajar dari anak-anak.

Keenam, kerja sama lintas sektor.

Mendidik anak bukan hanya menjadi pekerjaan Kementerian Perempuan dan Anak. Ini menjadi tugas semua kementerian.

Mengapa ini tidak pernah muncul dalam model kebijakan politik kita?

Jika keluarga adalah unit terkecil dari negara, pembangunan ketahanan keluarga mesti dimulai dari pendidikan anak. Ini akan menyelesaikan banyak soal, mulai dari kurangnya tenaga kerja muda di bidang pertanian, meningkatnya kriminalitas kaum remaja, bonus demografi yang sulit dipetakan, dan seterusnya.

Oleh karena itu, selain mengembangkan strategi parenting yang bersifat individual, saya menekankan perlunya model pendidikan anak terakomodasi dalam kebijakan politik secara umum, entah itu di pendidikan, pertanian, pertahanan dan kemananan, dan berbagai jenis sektor signifikan lainnya.

    Hans Hayon
    Latest posts by Hans Hayon (see all)