Studia Liberalia; Merawat Tradisi Cicero

Studia Liberalia; Merawat Tradisi Cicero
©Musixmatch

Jesse Fisher yang introvert akibat kutu buku itu kembali menemukan hal penting dasar-dasar warisan Cicero tentang Liberal Arts.

Liberal Arts Are Neither Dead Nor Dying. Kalimat ini cocok untuk memulai resensi film Liberal Arts yang ditulis, disutradarai serta dimainkan sendiri oleh Josh Radnor dalam karakter Jesse Fisher. Sebagian besar latar dan adegannya diambil dan dimainkan di Kenyon College, di mana sang Sutradara dan pemain lainnya menimbah ilmu langka itu.

Sang Sutradara, Josh Radnor sendiri adalah seorang almamater studi Liberal Arts di Kenyon College, Ohio, Amerika Serikat. Begitu pun Allison Janney yang memerankan karakter Professor Judith Fairfield, merupakan almamater dari perguruan tinggi yang sama.

Film ini sepertinya berusaha membuat pembelaan terhadap perang budaya (culture war) antara Program Studi Liberal Arts dengan pihak-pihak yang menghendaki program studi tersebut tumbang di universitas dan perguruan tinggi di dunia.

Meresapi film ini sungguh berat, seberat materi-materi yang diampukan pada Program Studi Liberal Arts. Apalagi kental dengan karakter pribadi pemain filmnya yang merupakan para almamater program studi maut itu. Mereka persetan banget dengan kata-kata Irving Kristol, “Mereka (Studi Liberal Arts) sudah berakhir”. Dan, nyatanya, pertempuran belumlah berakhir.

Film yang dirilis pada 22 Januari 2012 lalu di Festival Film Sundance merupakan cerminan karakter para pembelajar Liberal Arts. Tentunya film ini mendapat antusias yang besar dari perguruan tinggi elite yang menyediakan program studi Liberal Arts, seperti Harvard, Yale, Princeton, Stanford, Duke, dan Universitas Chicago.

Film ini tak dirilis di Indonesia ataupun tayang di gedung bioskop. Tak akan laku. Tomatometer dari Rotten Tomatoes saja menilai genre drama komedi ini dengan grade 71%.

Program Studi Liberal Arts merupakan basis demokrasi yang sesungguhnya, di mana tidak mempertebal sekat-sekat antara disiplin ilmu yang satu dengan lainnya.

Baca juga:

Ini adalah warisan Pemikiran Cicero, di mana individu otonom yang merdeka selalu memberi rasa hormat kepada masyarakat dengan didikan serangkaian keterampilan atau praktik dari berbagai disiplin ilmu untuk menjadi warga negara yang efektif dan pengurus demokrasi. Keterampilan (skill) ini sebagai artes liberales (seni liberal), yang mencakup banyak bidang  dan disiplin ilmu.

Gagasan dan pemikiran Cicero ini menyatakan bahwa berbagai keterampilan diperlukan untuk membekali warga dan masyarakat bebas agar dapat berpartisipasi penuh dalam demokrasi.

Gaya perjuangan Libertarian ini diperlihatkan dengan kental oleh karakter Jesse Fisher (Radnor) dalam film yang memerankan petugas penerimaan perguruan tinggi di New York yang menyukai sastra dan bahasa itu. Bagaimana Jesse Fisher yang introvert akibat kutu buku itu kembali menemukan hal penting dasar-dasar warisan Cicero tentang Liberal Arts, yaitu membangkitkan kembali kesempatan-kesempatan dan hubungan-hubungan global.

Jesse Fisher merasa bahwa saat paling bahagia dalam hidupnya adalah tahun-tahun di perguruan tinggi Liberal Arts, Ohio, tersebut. Suasana yang penuh kebebasan dan keilmuan tanpa gangguan dari pihak mana pun. Suasana indah di mana ia dikelilingi oleh para profesor.

Untuk membangkitkan kenangan tersebut, Peter Hoberg (Jenkins), mantan profesor Bahasa Inggrisnya, mengundang Jesse kembali ke kampus untuk menghadiri sebuah acara dan jamuan. Sang Profesor berharap bahwa Jesse akan kembali bangkit dari kelesuan hidupnya akibat adanya rutinitas yang penuh batas dan sekat-sekat. Suasana di mana keilmuan disekat-sekat sadis demi kepentingan tertentu.

Hanya dengan obat Liberal Arts Jesse bisa bangkit. Jesse tidak bisa dipisahkan dari buku (ilmu pengetahuan).

Pertemuan dengan Zibby (Olsen) yang berusia 19 tahun, seorang mahasiswa tahun kedua di perguruan tinggi tersebut menjadi awal konflik tentang sebuah kebebasan. Dia bersama Zibby menghabiskan sore hari dengan berjalan-jalan di sekitar kampus membahas kehidupan, buku, dan musik klasik. Koneksi-koneksi kejayaan masa lalu Liberal Arts terbangun di sini.

Baca juga:

Dia juga dibangkitkan oleh orang-orang yang dapat memantik roh Liberal Art-nya ketika bertemu dengan guru romantisme lamanya, Judith Fairfield (Janney) — seorang wanita yang telah lama dia kagumi. Dan juga bertemu dengan Nat (Efron) yang eksentrik, Dean (Magaro), seorang siswa yang brilian namun depresi sepertinya, identik, yang selalu membawa buku ke mana-mana. Sebuah tampilan khas mahasiswa Program Studi Liberal Arts. Semua itu mengingatkan kejayaan masa lalunya untuk bangkit kembali.

Sembuhnya Jesse dari keterpurukan ilmiah juga tak jauh dari buku-buku. Ketertarikan ini terbukti saat bertemu dengan Ana (Reaser), seorang penjual buku seusianya dengan kecintaan yang sama pada buku (ilmu pengetahuan).

Sebuah quote nonjok mengesankan dari Jesse mengakhiri resensi film ini dengan harapan Program Studi Liberal Arts makin jaya: No, a liberal arts education solves all your problems.

Yudho Sasongko
Latest posts by Yudho Sasongko (see all)