Stunting di NTT: Sebuah Studi Sosiologi bagi Upaya Pemecahannya

Stunting di NTT: Sebuah Studi Sosiologi bagi Upaya Pemecahannya
©Okezone

Pemerintah secara nasional dalam rangka pembangunan kesehatan masyarakat Indonesia telah mentapkan salah satu program strategi untuk penurunan prevelensi balita stunting. Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Laiskodat (Kompas.com, 17/02/2020) dalam suatu kesempatan pidatonya mengungkapkan bahwa stunting dan kemiskinan menjadi beban bagi Pemerintahan Provinsi NTT dan harus ditangani secara serius.

Bahkan komitmen penyelesaian masalah ini pun diatur dalam Peraturan Gubernur No 46 Tahun 2016 tentang Rencana Aksi Daerah Percepatan Pemenuhan Pangan dan Gizi Provinsi NTT tahun 2016-2020 yang merupakan kelanjutan dari Peraturan Gubernur NTT No. 6 Tahun 2012.

Stunting adalah suatu masalah karena berkaitan dengan baik-buruknya kualitas manusia NTT untuk generasi yang akan datang. Tingginya angka kematian balita akibat stunting dan rendahnya kualitas manusia generasi muda NTT menjadi keprihatinan kolektif yang mesti segera ditangani.

Trend porsentase balita stunting di NTT memang tercatat mengalami penurunan dari tahun 2018-2020. Laporan dari Ketua Kelompok Kerja (Pokja) pencegahan dan penanganan stunting Provinsi NTT penurunan angka stunting di NTT dari 35,4 % pada tahun 2018, menjadi 30,3 % pada tahun 2019, dan terus menurun secara konsisten pada tahun 2020 menjadi 28,2 % (RRI Kupang, 16/07/2020).

Meskipun secara statistik persentase angka stunting mengalami penurunan, namun tidak serentak menjamin bahwa stunting di NTT akan hilang, maka tetap dibutuhkan penanganan yang kosisten dan merata sampai ke akar rumput agar masalah stunting tidak menghambat perkembangan dan pertumbuhan kualitas masyarakat NTT.

Tulisan ini akan menggali akar permasalahan yang mempengaruhi tingginya angka stunting di NTT. Juga sebuah tawaran untuk dipikirkan bersama perihal slusinya. Analisis masalah ini ditinjau dari pendekatan Sosiologi Masalah Sosial perspekrif Teori Konflik dengan kajian Pendekatan Struktural. Dalam konsep ini, stunting dilihat sebagai sebuah masalah akibat korban pengabaian dari sebuah struktur.

Definisi Stunting

Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama (awalbros.com 09/11/2020). Secara sederhana dalam masyarakat luas memahami stunting dengan pertumbuhan anak yang kerdil, berpikir dan bertindak lamban, dan perawakan yang tidak biasa seperti kebanyakan bayi atau anak lainnya yang normal.

Kementerian Kesehatan RI menyebut stunting adalah anak balita dengan nilai z-skor-nya kurang dari -2SD/standar deviasi (stunted) dan kurang dari -3SD (severely stunted) (Fitri Chaeroni, 02/11/2020). Dari kedua pengertian ini, dapat disimpulkan bahwa stunting sangat berkaitan erat dengan kesehatan ibu dan anak yaitu mengenai kurangnya asupan kecukupan gizi kronis bagi ibu hamil dan bayi, terutama 1.000 Hari Pertama Kehidupan.

Gambaran atau Gejala Masalah Stunting

Berbicara tentang stunting berarti diskursus mengenai pertumbuhan manusia sebagai generasi penerus. Stunting menjadi keprihatinan khusus dan bahkan sudah menjadi bagian dari program nasional dan di NTT juga ditanggapi dengan serius oleh pemerintah sejak tahun 2018. Stunting menjadi sebuah masalah sosial yang serius karena berisiko pada kematian balita.

Dinas Kesehatan NTT (Media Indonesia, 18/12/2019), Blandina Bait mengatakan, risiko kematian akibat gizi buruk mencapai 11,6% dan risiko kematian balita akibat kombinasi kurus dan pendek mencapai 12,3%.

Gejala dari stunting selalu saling bertaut dengan tingkat gizi buruk balita NTT, tercatat pula bahwa hanya 3.057 anak gizi buruk yang ditangani atau mendapat perawatan intens dari para petugas medis. Dari data ini, dapat dibuat justifikasi bahwa masih banyak balita di NTT dengan kasus gizi buruk yang tidak mendapat bantuan medis.

Blandina Bait dari Nutrition Officer Unicef kembali menegaskan bahwa, anak yang menderita gizi akut atau gizi buruk menjadi stunting, dan sebaliknya anak yang stunting cenderung gizi buruk (Media Indonesia 18/12/2019). Jadi gejala yang paling umum ialah persoalan pertumbuhan anak balita yang tidak normal (lebih pendek dan kurus akibat kekuranga asupan gizi) dari anak balita normal seusianya. Pertumbuhan fisiknya kerdil, dan fungsi kerja otak menjadi lamban.

Berikut terdapat beberapa gejala stunting menurut dr. Wan Nedra, dkk. dalam sebuah tulisan yang berjudul “Meneganal Stunting dan Berbagai Cara Mencegahnya pada Anak” yang termuat dalam (sehatq.com 24/7/2019).

Pertama, pertumbuhan anak melambat sehingga tubuh akan lebih pendek di bawah rata-rata; kedua, pertumbuhan gigi terlambat; ketiga, buruknya kemampuan fokus dan mengingat pelajaran ketika anak mulai memasuki usia sekolah; keempat, ketika memasuki usia remaja anak akan mengalami pubertas yang terlambat; kelima, anak lebih cendrung menjadi pendiam dan tidak benyak melakukan kontak mata dengan orang di sekitarnya (biasanya pada usia 8-10 tahun).

Inilah beberapa gejala stunting yang dapat diidentifikasi dan rupanya akan lebih mudah bagi siapa saja untuk mengenal masalah ini karena dapat diamati langsung dari pertumbuhan dan perkembangan fisik anak.

Analisis Masalah Stunting

Masalah stunting di NTT dapat dianalisis dengan menggunakan pendekatan sosiologi masalah-masalah sosial dari Teori Konflik dengan kajian Pendekatan Struktural atau Institusional (Bernard Raho, 2018).

Halaman selanjutnya >>>
Fancy Ballo