Suaka di Dekat Neraka

Suaka di Dekat Neraka
©Kompasiana

Adakah yang lebih naif dari dengung yang kutempurkan
wanita membawa misi sama menolak penuh setia
paragraf demi paragraf bersaksi pada suatu masa beribu
tanda seru tumbuh seantero muka perempuan muda
aksi damai dalam pembangkangan;

kami bukan pemikat kaum papa
terlahir sebagai beban
menginjak remaja hanya dipermak bedak
dewasa sekadar menunggu orang datang

Jangan berambisi memainkan bulu kuduk perempuan
cukup adam terinfeksi bekas jahilnya
sejak kejadian itu cinta tak lagi lewat surga
ia memilih suaka di dekat neraka

Madura, 07 November 2021

Doa di Atas Aeng Konceh

–mbk Lip

Tangan ini yang buat kunci surga terbuka
bidadari nan pangeran menyebak seribu salam
berbaris sepanjang karpet merah muda
ada yang membisik aku berjalan di atas urat saraf suamiku
yang setiap hari kuseka aeng konceh anga`, sehangat takdirku
mencintai bau rusuknya
kutegakkan airmata seraya kucium ibu jari, di tangannya terkepal
rezeki yang belum usai disedekahkan, kusesap ujung-ujungnya

Terlalu banyak kehilangan
sebentuk cerita yang hendak disemai, mimpi yang tiba-tiba patah
takkan mengeringkan cinta yang kita basuh
buruk firasat mengoyak kepastian yang sangat panjang
tapi restu bapak ibu yang menguatkan status
ini takkan tergadaikan sampai izrail menyublim pintu maut

Telah kutempelkan namamu di batu-batu arofah
deru doa dari kilang kiblat, hijir ismail dalam taubat
semua rangkuman mulai iftitah hingga salam tak satu pun tertinggal
sesungguhnya aku telah lama menyusup dalam tubuhmu
senantiasa kita menggelar pertunjukan tanpa sutradara, kesetianmu adalah
hierarki rambut rahmah binti afraim yang dikirim sebagian kepada ayyub
senyummu ialah perwujudan yusuf yang dilukis dzulaikha` pada sepaket buah
yang mengiris darah
kelembutanmu tak lain nur muhammad yang tersirat dikuncup mawar dan kusikat
sesaat malam mengglinding di selimut
“aku akan terus mencintaimu, mas. meski kutahu gelar pahlawan takkan pernah lahir
aku ingin abadi, semedi di mulutmu!”

Kelak setelah syahadatain kau rapal aku akan keluar
bersama ruh merancang pekuburan!

Madura, 02 November 2021

Sakral Kematian; Baitur Ridwan

-nom tallib

Tak kusangka kau bakal wafat di pangkuan adha yang sajam
dawuh perihal kebajikan selama ini pro-kontra
tunduk di tiang-tiang masjid  yang mengelupas wajahmu
deras takbir mengguyur, khutbah bergandrol pada sakral kematian
jumat manis di bulan habis

Wahai anom, nazdhom apakah yang kau siram
pada sisik surga yang ranum, aku yang kau siasati
jangan gentar melawan arus kematian
terus tergelincir dalam badai berulang-ulang
di saat musim gugur yang dingin justru angin mengirimmu alamat pulang
ia mengantarkanmu kemana, menjadi selir tuhan atau sebatas tumbal
penutup akhir pekan, kita belum berdesah, engkau memantik akrobat
serupa patung di jambaran

Mendengar tubuhmu di ambang zaman
kugiring lampion setengah tiang, bendera separuh badan
terik ta`ziyah bersaut laksana umar bin khattab mengangkat pedang
melambung ketidakpercayaan
bergegas aku naik ke atas mimbar, meneriak tubuhmu yang terkulai
sontak gemuruh membabat pagi rusuh  di pedalaman  toronan samalem
innā li-llāhi. innā li-llāhi. innā li-llāhi wa-inna ilayhi rājiʿūn

Kabilah tertegun menyimak kabar yang menampar
pekik microphone  melecat ke kubah hitam
seumpama talqin meminta ampun dari segala pembalasan yang
segera datang, rasanya ingin kupenggal kepalaku sendiri
setelah ajudan tuhan menghantam damai teluk kain kafan;
‘salamun`alaikum bima shabartum
cibir wasiat terakhir sebelum jasad disayup ke lubang amal
kegemaranmu dari dulu melambai di mana kami biasa tinggal!

Di baitur ridwan yang menawan
engkau menjulang ke tengah peraduan tanpa jejak pesan
lemas, kususuk tembang fairuz dan ummi kulsum
sebagai kesan penghujung, kenangan mendidik kita akan manisnya perpisahan
walau seember mata air sisih di sepanjang tanah lahar
hatiku yang kemarau tak mampu berlindung di tedah hujan
salam yang kau tandonkan teramat nyeri
harus apalagi pertemuan sudah dipastikan berakhir musim ini
engkau takkan kembali hingga yang dijanjikan nanti

Anom, meski senja mengubur sinarnya sendiri
matahari takkan basi untuk kau nikmati
istirahatlah bersama rukun-rukun yang menyekar
sampai tuhan membangunkan tubuhmu yang kekar!

Madura, 04 November 2021

Terbuang di Depan Bunga Bougainville

Bila tidur suatu penghianatan, di mana bisa kutiup sendu
di tangan rindu menyepat legam
menyimak bunga bougainville yang kau pegang
adakah namaku kau tanam menjadi pupuk di depan kehidupan
yang akan kau pasang
setiap kalimat yang kau pilin dari dubur rasa berbeda
dari biasanya, sering kali membuat lidah tak berselera
entah derai apa yang menyilam
tidurku tak pernah menyahut dengan mimpimu

Sepuntung rokok telah tuntas kusirap
bayang senyum menyekat terus menghimpit badan yang susut
oleh prakiraan rukukmu  entah jatuh di mana
aku mohon relakan pantaimu dipukul gelombang
agar apa yang kuutarakan bisa kau telaah dengan tenan
jangan sampai sediakan sajian bencana sehabis memandangi
robekan surat, ia menunggu rampung oleh bisikan telingamu
yang membuat segala persoalan mudah dibuang

Radeena, besok bila kau buka jendela dan melihat
siapa yang berkencan mesra di taman, itu prototype cinta kita
yang sebenarnya subur di telaga, beberapa kali ia mengalami mati
kemudian berharap bangkit kala kakimu berjalan menuju taman
sayang kau cenderung menginjak hati dan mengigau dalam kehidupan
yang selalu menutur sunyi

Apakah salah menuang obat untuk mencicipi ramalan yang lebih komplit
labirin yang kita hampar bersama janji mulia tidakkah cukup membahagiakanmu
untuk sebulan ini, aku tak pernah bercanda apalagi menyiutkan marga yang pernah
kau buang. cinta itu berharga, menurut nenekku
semestinya betapa pun pedih luka tak sepantasnya bibir berhenti bersyair
bagi penyair, itu penutup duka paling mutakhir

Radeena, sebelum gelas nasib dipecahkan di malam pertama
dan sebelum dahan-dahan berkemas menunggu ajalnya tiba
mungkin engkau ingin mengatakan sesuatu dengan pagar terbuka
kalau tidak, beri aku sedikit waktu mencelupkan rindu
dan hanya berbuka semata denganmu
jika masih enggan, ikhlaskan fotoku beriring deretan mantanmu!
bila pilihanmu yang terakhir, aku akan mengeluh pada akar; akar tunggal,
pada serabut, pada akar gantung , akar pelekat atau pun akar napas
aku pupuk yang terbuang setelah kau pasang benih kehidupan

Madura, 06 November 2021

Kemasan Wajahmu Teramat Sulit Minggat

Sulit dipercaya kita saling memangsa seperti
beruang kutub yang tidak bisa memaafkan luka
dendam yang kita ringkus dalam folder terlalu dini
diperbincangkan di media, kita adalah piring
berdesak dalam sempit rak, untuk apa juara karena tuhan
tak butuh alasan untuk pembarisan maaf
berapapun bekas tangis yang kau sekap belum tentu aku mampu
menguras sisa airmata, mataku sendiri
selalu gagap dan menggelugut melihat

Pada catatan usia yang kusimpan, aku terlalu tua untuk kau tanam
istilah ‘kang mas’ kerap kau ucap, menyepahi ujung hidungku yang tersingkap
tidak ada yang menyanggah keputusanku pergi sejak dini
tapi kemasan wajahmu amat sulit minggat
bahkan menjelang tidur aroma matamu menunaikan kisah menggoda dan kepingin
kurapik, mungkin faktor ini deret kasur terenyuh hingga menyatukan pertemuan
meski janggal
begitulah kemesraan dipaksakan tak terduga asam terasa
masing-masing kita tak berani membela, aku ingin apa dan engkau hendak kemana
isyarat datang dan pergi tiada berhenti dalam bibir yang berkedip

Meskipun kadang aku ingin mengajakmu kembali pada tangkai jalan
Di mana lampu-lampu tak pernah padam, sambil bersolek di sana
mari berpikir bagaimana melanjutkan atau menghapus gerbang rindu
yang pucat di bawah bulan
terlalu diam apa yang direncanakan, ranting dan jari pohon ikut menua
menunggu kabar belum genap, apakah kita akan bersama atau
jauh dalam bentuk rupa

Kepastian tentang diriku menjabat tangan penghulu tersekat di pelupuk takdir
pertemuan yang kita silang acap luruh di ruang tunggu
entah dirimu apa yang disingkirkan, aku tak mau berjanji pada sebuah perasaan
tapi aku berusaha berjanji untuk suatu kesetian
dalam zikirku; mencintai bukan mencari seorang yang sempurna, tapi melihat
orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna[1]

Madura, 10 November 2021

Gugur Bunga untuk Tuan Ali Sadikin

Berdiri di lubuk jakarta di arena cikini raya 2021
terbayang tuan ali sadikin membabat tandus bumi
dengan syair ajib rosidi yang dibaca menjelang pagi buka
suasana kebun binatang delapan hektar diterjemah
ke dalam kolosal buku bacaan
tujuan semata membangun negeri sholeh dari ayat-ayat pujangga
meninggalkan masa demi jaman lain yang belum bernama
ia menyimpan pesan dalam gerimis waktu yang akan tiba
keriangan harus digali di bumi pertiwi, nada-nada turut bercengkrama seiring
tasbih para pembudaya
di lahan terbuka dahan-dahan kerontang memikirkan doa- puasa para pejuang
dan rahasia nasib yang dititipkan pada pucuk-pucuk daun buni
dan buah jambalang kian lantang menyemarak
pelukan tuan ali sadikin atas tanah ini;

-‘saya ingin menjadikan ibu kota jakarta sebagai kota budaya, di mana
kesenian Indonesia dapat muncul di sini’

Sebelum tangan-tangan ditunjuk dan berlayar
menuju pemantik kekayaan budaya
mochtar lubis, asrul sani, usman ismail, rudy pirngadi, zulharman said
d.djajakusuma, gajus siagian berijtimak dalam hening
mereka umat bermartabat,  taat pada tuhan, memohon ampun dan restuNya
ia harus mengembara jauh sekali untuk menggalak ranumnya negeri
membongkar keberanian hingga haus semangat tak kunjung reda
kegilaan ini bukan soal mustahil, mereka siap melempar kata
mengkritik ketidak warasan pelepah sunyi
bising bakal diganti kata-taka mutiara yang berharga
mereka yakin tidak ada yang tersisa dari suatu prahara kecuali sahabat-sahabat puisi

10 november 1968 mereka berikrar atas nama darah dan nisan tuan ismail marzuki
sediakala syndrome kebangkitan berteriak berkibarlah berderaku
halohalo bandung, nyiur melambai dan sepasang mata bola
jua menghikmati kemerdekaan bahari
satu hal sebelum diketuk palu sebelum pita tua digunting
tuan ali sadikin bertahta;

‘tugas kami, pemerintah daerah, menyediakan infrastruktur fasilitas berkreasi bagi saudara-saudara seniman budaya di ibu kota, selanjutnya, kegiatan kreatif terserah, kami (sebagai) pemerintah tidak ikut campur.

Masih berdiri di gubuk jakarta di pintu cikini raya
25 pemuda berseragam hadir menuju panggung deklamasi
wajahnya masih basah oleh hierarki kosakata
kesan klimis dandanan dasi necis menumpang harap
upacara pentasbihan sebagai begawan senantiasa menenduhkan
kerongkongan para seniman, betapa haru menatap matahari terbit
bulan sabit terpatri di pada bangunan-bangun mega luas
terpekur di atas menara sepasang kepala tegap menatap orang-orang
datang, aku tahu ia dahulu senang bermain biola dan komposer
di atap kepala erat terkepul selembar makna
17 juni 1969; dewan kesenian jakarta dalam angkringan

Tuan ali sadikin
gugur bunga di depan nisanmu adalah guratan santun dari tuan ismail marzuki
biografi kematian yang kau sandang adalah kepribadian yang agung sang pejuang
salam takdim dari tuan ismail marzuki yang sedang menunggu di tanah kekal
di taman baca di media cetak atau daring namamu mengumbar selaksa tanya
“maukah kau mampir ke tamanku?”

Madura, 15 November 2021

[1] Quote BJ.Habibie

    Joko Rabsodi
    Latest posts by Joko Rabsodi (see all)